Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan siswanya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati,  dan kepergiannya ditangisi (Anonim).

 

Ungkapan di atas menggambarkan betapa menjadi seorang guru adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Kenapa tidak? Karena kharisma dalam diri seorang guru menjadikan dia sosok yang senantiasa membuat anak-anak didik merindukannya. Dalam diam guru terkandung sebuah pesan. Saat bertutur semua murid akan tunduk dan mengikuti. Ketika sudah tiada, semua menangisi.

Sebuah lagu yang berjudul Oemar Bakri oleh Iwan Fals mengatakan dalam liriknya Oemar Bakri, 40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang makan hati…Oemar Bakri banyak ciptakan menteri, professor dokter insinyur pun jadi…

Lagu yang hit sekitar tahun 1980-an ini berbicara bagaimana peran guru yang luar biasa. Meskipun harus makan hati, dia tetap berhasil mencetak anak muridnya menjadi menteri, dokter, bahkan professor.

Apakah masih ada guru yang seperti itu?

Jawaban pertanyaan ini menggiring saya pada beberapa kejadian. Pertama ketika saya secara tidak sadar mendengar  seorang guru  memberi nasihat kepada muridnya. Guru di taman kanak-kanak ini penuh dengan kasih sayang dan  rasa keibuan memberi wejangan pada anak yang dinilai melakukan kekeliruan.

Saya menjadi terharu dengan cara yang dipakai ibu guru itu dalam mengedukasi anak didiknya. Tidak ada pendiktean atau emosi dalam tuturan ibu tersebut.

Saya melihat reaksi si anak yang kemudian memeluk dan bergelayut di leher ibu guru. Tidak ada rasa marah atau dongkol. Justru, kemanjaan yang ditampilkan anak ini sebagai hasil dari nasihat yang diberikan ibu gurunya.

Kejadian kedua adalah saat saya sedang berdiri di depan sebuah sekolah dasar dan anak-anak sedang istirahat. Seorang guru terlihat memanggil salah satu anak. Awalnya anak itu menolak. Kemudian terdengar umpatan kemarahan guru tersebut sambil mendekati si anak. Anak itu ditarik sambil dikata-katai. Dalam pikiran saya, bahasa yang dikeluarkan terlalu vulgar untuk konteks tersebut.  Seorang guru di ranah sekolah memarahi anak muridnya dengan bahasa yang kurang edukatif.

Dalam pemahaman saya pada saat itu adalah bagaimana mungkin seorang guru yang notabenenya adalah pendidik dapat bertutur yang layaknya digunakan di ranah lain. Barangkali rasa amarah yang sudah memuncak membuat si guru gagal mengontrol emosinya sehingga los dalam bertutur.

Kejadian ketiga adalah pengalaman saya sendiri ketika mengujungi sebuah sekolah tingkat atas. Karena kedatangan saya bertepatan dengan jam pelajaran, pagar sekolah pun dikunci. Saya segera menghampiri seseorang yang sedang berdiri balik pagar. Saya pikir saat itu beliau adalah petugas sekuriti. Rupanya guru piket yang sedang memonitor situasi sekolah.

Salam segera saya ucapkan. Yang mengejutkan adalah tidak ada respon atas salam itu kecuali pandangan panjang. Saya pun menyampaikan maksud kedatangan. Kembali tidak ada respon.

Saya menjadi sedikit bingung dan berpikir kalau-kalau si bapak ini memiliki permasalahan dalam pendengaran. Pernyataan dan pertanyaan kembali saya ulang. Kembali juga tidak ada respon. Sampai akhirnya saya mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan salam. Masih saja salam saya tidak dijawab.

Ketiga kejadian di atas membuat saya jadi berpikir dan bertanya. Ada apa dengan guru-guru kita? Apakah zaman sudah demikian berubahnya sehingga model yang katanya akan digugu dan ditiru semakin mereduksi? Bahwa guru adalah sosok yang diyakini setiap perkataannya dan menjadi suri tauladan perbuatannya apakah sudah semakin menjauh?

Kalaulah ada ungkapan guru kencing berdiri, murid kencing berlari dan kenyataan yang terjadi guru kencing berlari sehingga murid kencing…???

Apakah begitu parahnya keadaan terkini?

Beberapa realita yang saya temukan saat berada di tempat umum anak-anak sekolah yang mampu beretika seperti semasa saya kecil dulu. Memberikan tempat duduk kepada orang tua atau perempuan yang menggendong anak. Saya cukup surprised  apalagi jika menemukan anak-anak sekolah masih mengenal dan menerapkan yang namanya kato nan ampek saat berbahasa.

Darimana mereka tahu dan bagaimana mereka bisa? Salah satunya adalah hasil didikan dari para guru. Karena masih ada guru yang patut untuk digugu dan ditiru. Meskipun andil orang tua (rumah) juga besar dalam proses pendidikan anak, peran guru dalam pendidikan formal tidak boleh diabaikan.

Pernah suatu waktu, di ranah sekolah yang berbasis reliji, seorang guru dinilai bersikap tidak sejalan dengan apa yang menjadi aturan di sana. Orang tua segera menyampaikan komplain. Yang terjadi adalah guru ini marah dan mendiamkan si orang tua. Ironisnya, si anak  didik pun ikut dicuekin. Padahal maksud orang tua ini adalah untuk kebaikan kedua pihak, guru dan murid.

Menjadi orang yang patut digugu dan ditiru tidaklah mudah. Guru yang ideal itu layaknya seperti public figure yang harus selalu senyum di depan  muridnya. Meskipun ada sekeranjang masalah yang menimpa, selalu ada senyum dan keramahan.

Tidaklah berterima seseorang yang menjadi model bagi anak didiknya berperilaku  yang jauh dari namanya kenormalan. Dikritik menjadi marah. Diberi padangan dan masukan menjadi tersinggung.

Dalam ilmu linguisitk ada yang namanya face (Leech, 1986). Face ini bertemali dengan selfimage  atau harga diri. Disaat seseorang dikritisi dengan cara yang tidak tepat, potensi untuk kehilangan atau terganggu selfimage-nya bisa terjadi (Revita, 2015). Namun, tatkala kiritikan disampaikan dengan cara yang santun dan beretika, tidaklah masuk akal jika orang itu tetap tersinggung atau marah.

Diperlukan kedewasaan,  kebesaran jiwa, dan kesabaran menjadi seorang guru. Bukan menjadi orang yang arrogant. Tidak mudah menjadi guru. Tidak mudah menjadi orang yang bisa digugu dan ditiru. Namun sesungguhnya, tidak kecil bayaran pahala yang akan diterima seorang guru. Ilmu yang bermanfaat. Selama kebaikan/ilmu yang ditanam guru masih dipakai oleh anak didiknya dan dibagi kepada banyak orang lain, selama itu pulah amal kebaikan senantiasa mengalir ke diri guru itu.

Luar biasa. Betapa mulianya guru itu, yakni guru yang memang patut untuk dijadikan model dan diimitasi. Bukan yang hanya mencari kesenangan pribadi dengan mengorbankan orang lain–anak didik.

Selamat untuk para ibu dan bapak guru yang memang sepantasnya digugu dan ditiru. Semoga para guru bisa menjadi panutan dan kepercayaan bagi orang tua untuk mengisi ‘kepala anaknya’ di sekolah. Semoga!

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang 26 Februari 2017_ Hal. A11

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation