Aristoteles, seorang filsuf Yunani  dan guru dari Alexander yang Agung mengatakan cogito ergo sum ‘Saya berpikir, karena itu saya ada’.

Pendapat murid dari Plato ini memiliki implikasi yang tidak sederhana. Karena ada keterkaitan antara berpikir dengan berbuat.

Dalam kajian filsafat ilmu, ada tiga pilar yang mesti dijadikan dasar dalam berbuat. Ketiga pilar itu adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Sebuah perbuatan sudah pasti didasari oleh alasan tertentu yang kemudian diwujudkan melalui cara-cara yang sistematis dan terukur. Yang terakhir adalah adanya azas manfaat.

Hasil perbuatan semestinya memiliki nilai positif. Semua yang dilakukan hendaknya memikirkan out put  yang membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi umat.

Konsep yang dikemukakan Aristoteles ini mengingatkan saya pada pengalaman dan diskusi dengan seorang mantan dosen. Saat itu saya baru saja diangkat menjadi dosen. Rasa bangga dan bahagia tidak menjadikan saya ‘kebablasan’. Tahu diri sebagai dosen muda tetap saya jaga.

Bahwa sebagian besar kolega adalah mantan dosen saya membuat ada semacam psychological handicap. Namun, sebagai orang Minang yang kental dengan kearifan dan kebijkasanaan membuat semuanya berjalan secara baik.

Sampai kemudian ada suatu kejadian yang dianggap tidak berterima. Ketidakberterimaan itu terjadi pada seorang teman yang lebih senior. Hal demikian memang sudah saya prediksi karena dalam hidup selalu ada pilihan.  Setiap pilihan sudah pasti tidak akan dapat menyenangkan semua orang.

Orang yang tidak tersenangkan itulah kemudian yang protes. Protes ini kemudian diwujudkan melalui ekpresi-ekspresi kemarahan yang relatif jauh dari seorang Minangkabau yang identik dengan salah satu ciri sebagai urang nan sabana urang.

Ada raso jo pareso  saat bertutur. Raso dibao naiak, pareso dibao turun. Artinya, kehati-hatian dalam menyampaikan isi pikiran dan perasaan tidak lagi diindahkan. Usia yang sudah lebih dari setengah abad tidak lagi dijadikan ukuran ketika berkata-kata. Ungkapan dalam bahasa Minangkabau pandai maagak maagiahkan, pandai baliku dinan tarang, dibaliak mangko dibalah, pandai balinduang dinan paneh yang menunjukkan kecerdasan berbahasa tidak lagi tercerminkan.

Awalnya saya sangat terkejut karena dalam pikiran saya saat itu, orang berusia separuh baya sudah memiliki kematangan dalam berpikir. Hal ini sudah tentu bertemali dengan sikap yang arif dan bijaksana.

Pikiran ini terbantahkan dengan realitas yang saya hadapi.  Tua adalah keniscayaan dan dewasa adalah pilihan, demikian kata orang. Usia tua tidak menjamin adanya kedewasaan, tetapi setiap orang pasti akan bertambah usianya dan suatu saat menjadi tua.

Salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah apa yang sudah kamu perbuat sebagai dosen muda? Jawaban saya pada waktu itu bersifat klasik. Seorang dosen berkewajiban memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi, mengajar, meneliti, dan mengabdi. Otomatis dedikasi yang diberikan berkisar pada tiga hal itu.

Senior ini terlihat menahan marah karena respon saya tidak sesuai yang diharapkannya. Dia segera meninggalkan saya sambil bersungut-sungut.

Saya hanya diam, berpikir, dan bertanya. Ada apa dengan beliau?

Kejadian inilah kemudian yang menjadi pembuka dan warning  bagi saya dalam banyak hal. Keberadaan kita di dunia ini bukan tanpa tujuan. Dalam perspektif agama, manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Pengabdian itu tidak semata hanya berorientasi pada akhirati tetapi juga duniawi. Ada keseimbangan antarkeduanya. Namun, kedua ini tetap bermuara pada ridha-Nya.

Inilah yang sedang dilakukan oleh Alumni Ikasmantri 91 Padang. Dalam balutan kegembiraan reuni perak yang sudah dilaksanakan tanggal 7-8 Oktober lalu, kebahagiaan para sahabat belum lagi berakhir. Mereka tetap menyuarakan betapa mereka sukacita bertemu dengan teman-teman lama yang sudah berpisah lebih kurang 25 tahun.

Sorak-sorai reuni perak dalam ekstravaganza masih terbayang di pelupuk mata. Senandung cinta dan kemesraan serasa masih melekat di hati. Kita adalah bersudara yang tidak akan pernah lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan. Jargon ‘Persaudaraan yang tidak akan pernah terputus’ menjadi perekat antarkita semua.

Bahwa bahagianya reuni perak Ikasmantri 91 Padang bukan kegiatan sesaat dibuktikan melalui rencana dibentuknya sebuah foundation. Foundation ini akan dijadikan wadah dan cermin betapa alumni Smantri 91 adalah orang-orang yang penuh dengan kasih sayang. Kepedulian diwujudkan melalui aksi sosial untuk membantu keluarga Ikasmantri 91 secara khusus dan keluarga besar Ikasmantri secara umum.

Di bawah payung kepemimpinan Andika Zainal Putra terkandung sebuah harapan dan impian bahwa Ikasmantri 91 tidak hanya sekedar melakukan reuni annual dan ber-happy-happy  ria saja. Struktur organisasi  didisain sedemikian rupa agar kepengurusan alumni Ikasmantri 91 memiliki peran dan arti yang kuat dalam mengemban amanah. Tim bukan seperti manggantang anak ayam, menyukek baluik iduik.

Ada sesuatu yang kami perbuat.  Kami ada dan kami berbuat.

Cogito ergo sum. Kami berpikir  karena itu kami ada.

Keberadaan kami yang tersebar dimana-mana adalah sebuah aset. Bervariasinya profesi akan semakin memperkuat keberadaan foundation. Semuanya akan ambil bagian dalam aktifitas berbasis sosial ini.

Semuanya punya peran. Peran itu penting. Semuanya punya kewajiban menjaga dan  membesarkan alumni Ikasmantri 91 dengan foundation yang akan digulirkan.  Foundation  bukan ibarat si bisu barasian, takana lai tapi indak takecekkan. Foundation ini adalah kita dan kita adalah foundation.

Kita adalah pado pai suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo.  Kita punya kekuatan yang jika digalang dan dimenej dengan baik akan menghasilkan sesuatu.

Kita diibaratkan camin nan ndak muah kabua, palito nan ndak bisa padam. Apa yang kita lakukan mudah-mudahan memberi manfaat untuk semuanya.

Persaudaraan Alumni Ikasmantri 91 idealnya tidak akan pernah berakhir. Foundation  adalah salah satu penyambungnya. Dream  ini bukan lagi sebuah mimpi tetapi ujung pencarian bagi kita semua. Saumpamo aua jo tabiang, ikan jo aia.

Semua itu untuk kita! Untuk kita!

Semoga!

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Satra Inggris

FIB Unand

 

Sudah dimuat di Harian  Singgalang, 22 Oktober 2016

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation