Nostalgia SMA kita,  Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria, Masa paling indah
Nostalgia SMA kita, Takkan hilang begitu saja

Syair lagu yang dinyanyikan oleh Paramitha Rusady ini serasa dapat menggambarkan apa yang baru saja dialami sebagian besar alumni Ikasmantri 91 Padang. Bersua dan berkumpul dengan teman-teman SMA angkatan 91 melahirkan banyak cerita.

Ada banyak cerita indah yang kembali diungkap. Ada banyak keceriaan yang kembali terulang. Demikian juga dengan kisah sedih. Ditinggal teman-teman dan guru-guru yang sudah terlebih dulu menghadap Kuasa membuat kita menitikkan air mata. Bertemu sahabat lama dan guru-guru tercinta dalam balutan acara reuni perak sudah pasti tidak akan hilang begitu saja.

Reuni perak (reper) yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 Oktober 2016 lalu memang sudah selesai. Walaupun rangkaian acara sudah berakhir, euforia reper ini masih berbekas dalam ingatan kita. Group alumni 91 di media sosial masih dipenuhi oleh foto-foto yang menggambarkan momen-momen indah bersama teman-teman. Semua informasi dan dokumentasi kegiatan diposting. Bahkan, beberapa video lucu pun ikut menjadi bukti betapa acara reper ini benar-benar berkesan bagi kita semua.

Semuanya seakan berlomba mempertontonkan betapa kami bahagia. Berjumpa sahabat lama, berbagi cerita tentang kenakalan saat SMA, atau hanya sekedar memastikan nama teman karena sudah begitu banyak perubahan fisik yang nampak pada teman tersebut.

Jepret sana jepret sini menjadi bagian yang tidak terlewatkan pada saat reper. Panggilan sayang, say, cinta, atau cin terdengar dimana-mana. Teriakan histeris diiringi pelukan erat saat bertemu sudah menjadi hal yang biasa. Hanya senyum dan tawa bahagia yang terpancar dari wajah kita semua.

Sayang  dan cinta bertebaran dimana-mana. Tidak ada perbedaan, tidak ada friksi, tidak ada status sosial karena semuanya adalah kita…alumni Smantri 91 Padang.

Dalam sebuah standing banner yang diletakkan di pintu masuk meja registrasi, terpampang jelas pernyataan stop politik, jabatan, status sosial, dan pekerjaan. Panitia reper memang sudah menyiapkan dan merancang semuanya untuk menghapuskan segala sesuatu yang ‘berbau’ pada  terbentuknya dikhotomi sosial.

Hampir semua kegiatan mengarah kepada yang namanya persamaan. Mulai dari adanya pakaian seragam saat kegiatan pagi hingga siang hari di Pantai Muaro Lasak dan sekolah hingga seragam abu-abu yang menjadi dress coat  semua peserta untuk acara gala dinner.

Kita patuh dan menurut pada aturan ini. Berseragam kaos abu-abu di siang hari dan putih abu-abu di malam hari. ‘Kembali ke titik nol’, demikian kawan-kawan menyebutnya. Ada penyeragaman untuk kebersamaan (Revita, 2016).

Seminggu sudah acara reper berlalu. Teman-teman sudah kembali ke daerah perantauannya.  Mereka sudah memulai lagi bergelut dengan rutinitas.   Namun, manisnya reper masih tetap terasa. Acara sharing cerita dan berbagi bahagia belum lagi berujung.

Komunikasi dan interaksi antarkami terlihat semakin intens. Apalagi bagi mereka yang memang sudah kehilangan kontak sekitar 25 tahun dengan sahabat yang kemudian dipertemukan oleh reper. Janji-janji untuk bertemu dan membuat acara post-reper mulai dirancang.

Kawan-kawan di Padang, misalnya berencana akan membuat semacam pertemuan rutin. Apakah yang disebut dengan arisan atau hanya sekedar kongkow-kongkow.  Agenda-agenda lain untuk mempererat hubungan persaudaraan ini mulai diapungkan. Yang jelas semuanya dijadikan sebagai media jembatan silaturahim antarkita.

Reper Smantri 91 memang luar biasa. Realitas yang mungkin terjadi adalah banyak di antara kita yang meskipun tinggal dalam satu wilayah, bahkan bekerja dalam institusi yang lokasinya berdekatan, jarang bersua. Kesibukan membuat komunikasi tidak terlaksana. Bahkan ada yang tidak  tahu bahwa mereka sekantor, satu angkatan, dan sealmamater saat SMA.

Suatu yang ironis memang. Saya menyebutnya dengan ‘wabah puskom–wabah putus komunikasi’.  Wabah inilah kemudian yang disembuhkan oleh reper melalui silaturahim dalam  jargon ‘Persaudaraan yang tidak pernah terputus’.

Meskipun ada beberapa sahabat yang mengkhawatirkan acara reuni tidak jarang menuntun kepada kemudharatan, Alhamdulillah semuanya bisa terlewati. Saat berdiskusi dengan seorang sahabat, ada sebuah celetukan yang kemudian membuat saya menjadi berpikir. Dikatakan reper nanti dapat merusak hati karena bertemu dengan mantan. Kisah lama tidak tertutup kemungkinan bakalan terulang lagi.

Awalnya saya hanya tertawa. Namun, kemudian itu menjadi terpikir karena jika berbicara tentang mantan bertemali  dengan hati. Saat hati sudah dikedepankan, tidak jarang logika jadi terkalahkan.

Wallahualam karena semuanya memang dikembalikan kepada si individu. Apakah dia akan merajut kisah lama dengan menutup mata pada masa sekarang dan masa depan. Atau justru membangun kisah baru akibat efek dari eforia reper ini.

Dalam sebuah artikel yang saya baca, selain berefek  negatif, acara reuni pun yang jelas memiliki efek positif. Jika yang ditakutkan sahabat saya di atas adalah salah satunya, di samping  ajang pamer yang tidak menutup kemungkinan membekaskan luka pada sahabat yang belum beruntung, reuni membawa sisi manfaat yang tidak sederhana.

Disebutkan setidaknya ada lima manfaat kegiatan reuni ini, yakni (1) menjalin kembali tali silaturahim dan berbagi informasi; (2) mengenang masa-masa nostalgia; (3) mengembalikan eksistensi dan peran individu; (4) memperpanjang usia; dan (5) menggalang dana.

Melalui reuni, hubungan yang pernah terputus bisa terbangun lagi. Lewat reuni, tali silaturahin dapat disambung kembali. Dalam reunilah kisah-kisah dan cerita-cerita saat sekolah dibongkar lagi. Hanya dalam konteks ini, setelah dibongkar tidak boleh dipasang lagi karena dapat merusak hati dan mengarah pada yang disebut ‘perselingkuhan’.

Reuni dapat menjadi motivasi bagi banyak orang bahwa kekurangberuntungan saat sekolah tidak selalu berujung pada kegagalan. Tidak jarang mereka yang biasa-biasa saat SMA justru menjadi ‘sesuatu’ saat ini. Demikian juga sebaliknya, seseorang yang menjadi bintang saat SMA justru sekarang hanyalah orang biasa.  Reuni menjadi penguat bahwa kita tidak boleh pesimis dengan apa yang terjadi karena semuanya bisa saja berubah 180 derajat.

Lewat reuni, usia bisa dibuat lebih lama. Hasil penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki kehidupan sosial aktif memiliki usia lebih panjang 50% dari mereka yang tidak. Bahkan, diperkirakan mereka yang aktif ini berumur 3,7 tahun lebih lama.

Ajang reuni pun dapat dijadikan sebagai media penggalang dana untuk sebuah kegiatan sosial. Inilah yang akan dieksekusi oleh Ikasmantri 91 melalui sebuah  foundation  berbasis sosial. Foundation ini memang didirikan untuk tujuan amal dan intensi positif lainnya.

Betapa reper memiliki arti tidak sederhana!

Betapa reper menjalankan peran yang luar biasa!

Reper memang yuhuuuuu.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation