Bahwa manusia itu berbeda adalah sebuah fakta. Tidak ada manusia yang persis sama di dunia ini.   Tetap ada pebedaan, sekalipun mereka kembar.

Demikian juga dalam berbahasa. Disebutkan Wardaugh (1996) no two people are exactly alike. Pendapat ini kemudian saya tambahkan bahwa none speaks exactly similar at different context though using similar utterance.

Tidak pernah ada dua manusia yang berbicara persis sama. Bahkan, tidak akan ada seorang manusia pun bertutur persis sama dalam konteks yang berbeda. Kalau pun terdengar sama secara linguistik, dalam aspek lain yang dikenal dengan suprasegmental, tetap ada perbedaan.

Paling tidak, perbedaan ditemukan di aspek tempo, dinamika, atau kinesik. Sadar atau tidak, ketidaksamaan ini dilakukan manusia dalam bertutur, bersikap, dan berperilaku dalam hidupnya.

Fenomena ini bertemali juga dengan  realitas bahwa kita diciptakan Allah bervariasi. Variasi itu meliputi banyak aspek, seperti bahasa, warna kulit, postur tubuh, dan cara berpikir. Dua orang beradik kakak bahkan kembar tetap memiliki ketidaksamaan. Bisa saja warna kulit yang satu lebih terang dibandingkan dengan yang lain. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor gen ayah dan bunda yang mewarisi.

Perbedaan ini akan semakin terlihat pada orang yang berbeda orang tua. Gen yang nyata-nyata tidak sama tercermin pada fisik. Lingkungan tempat mereka dibesarkan pun akan ikut berpengaruh.

Dalam sebuah hipotesisnya, Sapir-Whorf (1921) menyebutkan lingkungan mempengaruhi seseorang dalam memandang dunia. Pandangan ini kemudian dibantah oleh ahli lain bahwa justru cara pandanglah yang mempengaruhi terbentuknya lingkungan.

Bagi saya pribadi, ini bukan suatu persoalan karena realitasnya adalah kedua-duanya terjadi dan ditemukan dalam masyarakat dunia. Yang jadi persoalan adalah ketika perbedaan ini dijadikan sebuah masalah yang memicu perseteruan.

Saya ingat beberapa hari yang lalu dikirimi pesan singkat oleh seorang teman. Pesan itu terkait dengan rencana kami Alumni Smantri ‘91 yang akan mengadakan reuni perak di bulan Oktober mendatang. Dalam pesannya, teman ini meminta saya membaca diskusi alumni yang tergabung dalam kelompok media sosial whats app.

Saya yang tidak begitu rutin mengikuti setiap perkembangan diskusi, awalnya hanya mengabaikan. Sampai kemudian pesan kedua dan diikuti pesan ketiga oleh teman berbeda datang dan meminta hal yang sama.

Aktifitas dan rutinitas membuat semuanya tercuekin. Hingga sebuah panggilan membuat saya jadi tersadar bahwa permintaan itu harus dipenuhi. Saya tidak terlalu kaget karena jawabnya ada pada konsep Sapir-Whorf Hypothesis.

Berbeda dalam sebuah kelompok yang heterogen adalah biasa. Terkait dengan ini, masyarakat Minangkabau sering menyebut sendok balego jo pariauk itu biaso. Tapi yang perlu diingat adalah semuanya hanya cabiak-cabiak bulu ayam. Ungkapan ini menunjukkan ketika terjadi interaksi, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, perbedaan ini disikapi seperti halnya bulu ayam. Sudah tacabiak, dengan hanya diusap, dia akan bersatu lagi.

Alek besar yang akan kami gelar di bulan Oktober ini memang bukan kerja yang mudah. Mengumpulkan teman-teman yang berserak di berbagai wilayah dengan masa minus interaksi dan informasi lebih kurang 25 tahun bukan pekerjaan sederhana. Mengakomodir ‘maunya’ sekitar 300 kepala barangkali sudah membuat panitia ‘puyeng’.

Tidak heran jika terlahir sikap yang tensed. Tekanan dan tuntutan keadaan tidak jarang membuat sebagian besar panitia harus kalang kabut. Belum lagi aktifitas rutin mereka. Banyaknya pendapat teman-teman yang meminta agar mereka diakomodir ikut menambah agenda diskusi panitia dalam rapat yang semakin intens dilakukan.

Yang jelas, panitia adalah orang-orang tangguh yang sudah kenyang dengan asam garam persoalan seperti ini. Mereka sudah terlatih dan terbiasa dengan keadaan serupa. Kritisi tidak lagi mereka sikapi secara defensive,  justru dilihat secara bijak. Cinta adalah pondasinya (Revita dan Alka, 2016).

Keberagaman adalah indah. Diversity is beautiful (Revita, 2013). Keberagaman memang tidak perlu dibuat seragam. Justru keberagaman ini dilihat sebagai sebuah dinamika yang menjadikan hidup semakin bervariasi.

Suatu waktu, saya pernah diskusi dengan sahabat reper, Irzal dan Andika Putra Zainal. Jarak yang jauh karena berdomisili di Medan tidak menjadikan halangan kami untuk berinteraksi. Justru melalui media sosial  atau  via telepon komunikasi berjalan dengan baik. Pengalaman menghadapi berbagai macam persoalan membuat saya banyak belajar melihat arti sebuah perbedaan.

Perbedaan itu tidak dijadikan alasan untuk semakin jauh. Perbedaan membuat hidup semakin indah.

Apa jadinya jika semuanya sama di dunia?

Apa yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu yang monoton seumur hidup?

Pasti tidak nyaman. Kita pasti akan jenuh. Di saat sampai pada titik aus, akan muncul pemberontakan dan penolakan melalui wujud yang tidak jarang radikal.

Dengan adanya variety, kebosanan bisa dihindari. Melalui ketidaksamaan, rasa boring  ini bisa diantisipasi.

Betapa indahnya perbedaan!

Perbedaan dalam dinamika reper adalah biasa. Kita memang berbeda, tidak hanya di jurusan ketika SMA dulu tetapi juga domisili–dulu dan sekarang. Itulah juga kenapa banyak hal terkait reper dibagi berdasarkan wilayah tempat tinggal sahabat reper  sekarang.

Begitu mudah bagi kordinator untuk mengkoordinir sahabat-sahabat reper. Venue  mungkin sering dilakukan karena mereka tinggal dalam satu wilayah yang berdekatan. Komunikasi pun lebih mudah dilakukan karena seringnya pertemuan.

Namun, satu poin yang perlu di-hightlight bahwa tidak selamanya perbedaan ini dijadikan sebuah alasan. Karena perbedaan juga mampu menjadi pemisah. Akan terbangun sebuah friksi yang tidak tertutup kemungkinan  bermuara pada perseteruan.

Ketidaknyamanan akibat adanya friksi dapat juga menjadi cikal bakal sebuah persoalan yang lebih besar. Perlu diperhatikan sisi manfaat dan mudharat. Seberapa penting sebuah perbedaan diangkat untuk dijadikan alasan bagi sebuah putusan. Jika efek negatifnya lebih banyak, perbedaan tidak perlu di-prominent-kan.

Perbedaan yang akan menjadi noktah dalam indahnya persahabatan dan persaudaraan kita dalam reper semestinya harus dihindari. Yang paling utama itu adalah kebersamaan.

Kebersamaan tidak berarti keseragaman. Ini jugalah yang dinyatakan sahabat reper lain Eka Ridhaldi Alka bahwa semuanya akan indah jika kebersamaanlah  yang jadi tujuan utama.  Banyaknya kita dalam reper  nanti dapat dianalogikan dengan ungkapan berbahasa Minangkabau Nan buto pa ambuih lasuang, nan lumpuah pa alau ayam, nan pakak palapeh badia, nan binguang kadisuruah-suruah, nan cadiak bao baiyo, nan kayo tampek batenggang.

Semuanya punya peran karena tanpa  kita semua, reper  tidak akan jadi. Justru dengan bersama, reper  dapat berjalan baik dan lancar. Bukan hanya karena panitia saja, tetapi juga kita sebagai  peserta. “Iya, karena KITA SEMUA”.

Semuanya dari kita, untuk kita, dan oleh kita.

One for all ,  all for one! Un pour tous, tous pour un!

 

Sudah dimuat di harian Singgalang 9 Oktober 2016

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation