Semua karena Cinta

 Oleh

Ike Revita & Eka Ridhaldi Alka

 

L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E  is even more than anyone that you adore can

Itulah sepenggal lirik lagu yang dilantunkan legendaris berkulit hitam, Nat King Cole bertajuk L.O.V.E  pada album berlabel namanya sendiri, yang dirilis awal 1965 atau tepat 2 bulan sebelum ia meninggal. Bagai masterpiece, lagu ini didaur ulang penyanyi-penyanyi kenamaan, termasuk Natalie Cole, putrinya sendiri, dan terakhir booming oleh jazzy keren Michael Buble.

Lagu cinta ini begitu digandrungi pencinta musik dunia.

Apakah karena bertema cinta? Apa cinta itu sesungguhnya?

Berbicara tentang cinta, belum ada satu penjelasan pun yang dapat memberi definisi secara akademis. Belum ada formula jelas, terukur serta teruji untuk menempatkan frase-frase redaksional pemahaman kongkrit cinta. Yang ada hanya deskripsi individu tentang yang mereka rasa atas perasaan yang dikatakan cinta.

Pada akhirnya, penalaran paling sederhana bermuara kembali pada kepingan kedua bait Nat King Cole tadi. Love is all that I can give to you, love is more than just a game for two, two in love can make it, take my heart and please don’t break it….love was made for me and you.

Sederhana sekali!

Begitulah cinta, sangat sederhana. Namun, kadang sulit dimengerti terutama bagi yang sedang tertimpa virusnya. Dicari-cari, dikejar-kejar, di-pedekate, digombal-gombal sejak fajar hingga fajar, cinta yang dicari tak kunjung didapat.

Seperti halnya kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Jika tidak ada cinta, mereka tidak akan dipertemukan Tuhan di Jabal Rahmah. Demikian juga dengan Romeo and Juliet, jika tidak ada cinta, novel berjudul sama tidak pernah ada.

Tanpa cinta, barangkali kita sama-sama tidak akan berjumpa dimuka bumi ini.

Semua karena cinta.

Cinta ini jugalah yang membawa kami dalam kegembiraan dan ketidaksabaran menunggu datangnya reuni perak Ikasmantri ’91 pada 7 dan 8 Oktober 2016, yang akan dihadiri 300-an alumni.

Eforia reuni tercermin sedemikian rupa dalam interaksi media sosial. Semua teman menunjukkan betapa mereka sangat bahagia dan gembira menunggu. Kegembiraan akan bertemu sahabat-sahabat (Revita, Singgalang 2016) dan keceriaan menjemput kisah saat berseragam abu-abu seperti sudah dibibia tapi cawan.

“Hei, kita reper nanti jilbabnya seragam ya, biar matching dengan kaos,” pancing beberapa teman di group whatsapp. Dalam  hitungan detik langsung ditimpali teman lain dan dengan gaul merespon “setujaaa…”. Yang kemistri kerinduan pada teman akrabnya sudah meleleh-leleh ikut bereaksi, “wak mintak ka panitia kamar wak samo se barampek yoh, pasai-pasai wak maota,”.  

Rasa ini bahkan diekspansi dengan melakukan kegiatan tambahan sebagai wujud kebersamaan. Ada yang berencana menjajah selera kulinary mereka makan durian bareng, cari sate danguang danguang, menyerbu cindua patimura, atau bernapak tilas ke masa ‘putih abu-abu’.

Di sinilah baper  hadir kembali (Revita, Singgalang 2016) melihat teman-teman panitia berupaya agar kebahagiaan teman mereka tadi dapat terwujud. Padang sebagai homebase juga bermakna bagi teman-teman yang berdomisili di Padang dan sekitarnya. Sukses sebagai host dan tidak akan mengecewakan teman-teman rantau jadi target utama.

Semuanya ada karena cinta.

Ada apa dengan cinta dan apa hubungannya dengan reper kami ini?

Cinta  dalam KBBI (2012) diartikan sebagai suka sekali, sayang sekali, dan kasih sekali. Suka, sayang, dan kasih adalah tiga kata yang tidak jarang dipergantikan penggunaannya. Yang jelas ketiganya mengacu kepada rasa dan berhubungan erat dengan emosi.

Itulah landasan ketika kata cinta dimaknai emosi yang berasal dari kasih sayang yang kuat dan adanya ketertarikan terhadap objek seperti sesama manusia, hewan, tumbuhan atau barang. Hal ini biasanya juga diiringi kecenderungan berkorban, ber-empati, memberikan perhatian, mencurahkan kasih sayang, ingin membantu, atau mau mengikuti apapun yang diinginkan objek yang dicintainya.

Cinta lazimnya melibatkan dua orang kekasih yang saling menyayangi. Namun pada dasarnya tentu tidak sesederhana itu. Cinta adalah anugerah Allah.  Semua punya cinta. Cinta merupakan basic instinct manusia. Sejak lahir manusia diberi bekal cinta dan dibesarkan dengan cinta. Cinta itu pula terwujud dalam perilaku kasih sayang kepada orang tua, pasangan, lingkungan, atau kepada sahabat.

Seperti apa cinta dalam persahabatan?

Suatu hari saya menerima kalimat bijak yang terkait dengan cinta. Dikatakan Jangan kau kira bahwa cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Kata-kata ini begitu indahnya karena mengingatkan pada reper. Simpulnya sederhana.  Kebersamaan selama tiga tahun berseragam putih abu-abu bukanlah waktu yang cukup untuk mempererat dan merekatkan hati, tetapi cinta yang akan menautkan semuanya.

Cinta untuk terus membangun jembatan silaturahim yang sempat terputus jarak dan waktu. Cinta untuk mengurai kembali masa lalu yang menjadi bagian terpenting bagi masa sekarang. Cinta untuk memperbaiki keadaan yang belum sempat diperbaiki akibat seabrek aktifitas dan rutinitas.

Inilah cinta dalam persahabatan. Dalam tulisan di Singgalang beberapa waktu lalu, saya sebutkan bahwa teman adalah sahabat. Sahabat yang selalu mengingatkan untuk kebaikan. Sahabat itu adalah mereka yang berada dalam satu domain, Ikasmantri 91.

Persahabatan putih abu-abu Ikasmantri ini membuktikan betapa cinta memiliki daya yang tidak sederhana. Tergambar kehebatan cinta  dengan rasa dan makna yang tidak dapat dideskripsikan. Sungguh luar biasa!

Dalam diskusi dengan seorang sahabat, Henry Firdaus, kami sempat berdebat. Namun, semuanya berujung bahwa kami memiliki pendapat tidak berbeda. Hal senada juga disokong sahabat lainnya, Eka Ridhaldi Alka yang langsung mengacungkan jempol saat menyampaikan keinginan menulis ‘Semua karena Cinta’ ini. Kolaborasi tulisan ini adalah jawabannya.

 

Inspirasi dan kolaborasi bersama dua sahabat ini kemudian membuat saya semakin yakin bahwa apa yang saya pikirkan rupanya dipikirkan sama oleh sahabat-sahabat saya. Bahwa reper  bisa terlaksana karena cinta adalah benar adanya.

Pengorbanan teman-teman untuk bekerja dalam menyiapkan kesuksesan reper adalah cerminan dari cinta mereka. Begitu juga teman-teman yang bukan panitia, datang dan hadir di reper serta meninggalkan keluarga adalah sebuah pengorbanan yang melambangkan cinta.

Semua karena cinta. Karena E is even more than anyone that you adore can.

 

 

 

Penulis adalah

Alumni Smantri ’91 Padang

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang 24 September 2016

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation