Reper  dan baper  adalah dua kosakata baru yang merupakan akronim dari frasa ‘reuni perak’ dan ‘bawa perasaan’. Kedua kosa kata ini tidak ada hubungannya secara harfiah, tetapi bertemali secara filosofis dan realitas.

Dalam penggunaannya, reper  relatif dipahami oleh mereka yang berusia di atas 30 tahun. Tidak demikian halnya dengan baper  yang sangat familiar untuk kalangan remaja dan anak baru gede (ABG).

Hal demikian terjadi karena reper  atau reuni perak hanya akan dilakoni paling tidak oleh mereka yang sudah menamatkan sekolahnya 25 tahun yang lalu. Misalkan saja seseorang menyelesaikan pendidikan dasarnya di usia 12 tahun, maka reper-nya adalah paling tidak ketika dia sudah berusia 37 tahun.

Reper  atau ‘reuni perak’ disusun oleh kata reuni + perak. Kata reuni yang berasal dari re- (kembali ) dan -uni (bertemu)  menurut KBBI (2008) diartikan sebagai  pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Sedangkan perak adalah logam berwarna putih (dalam keadaan murni) yang lunak dan lentur sehingga mudah ditempa.

Ketika reuni dipadukan dengan perak atau reuni perak makna yang lahir tidaklah seperti yang digambarkan dalam kamus. Kata ‘perak’ untuk konteks reuni perak sendiri sejarahnya berasal istilah peringatan ulang tahun usia perkawinan. Dalam merayakan ulang tahun pernikahan,  pasangan suami istri diberi hadiah sesuai dengan usia pernikahannya tersebut. Kualitas bahan yang diberikan sesuai dengan lamanya usia perkawinan.

Semakin lama usia perkawinan, semakin berkualitas bahan yang diberikan. Misalnya, kertas untuk ulang tahu pertama, kapas untuk ke dua, perunggu untuk ke delapan, dan perak untuk ke dua puluh lima.

Bagi mereka yang sampai merayakan ulang tahun pernikahan sampai ke lima puluh, diberi hadiah berbahan emas. Bahkan, jika usia perkawinan mencapai tujuh puluh lima tahun, hadiah terbuat dari berlian.

Begitu tingginya penghargaan orang kepada yang namanya kelanggengan perkawinan!

Konsep ini kemudian diadopsi untuk perayaan ulang tahun yang sejenis. Salah satunya adalah reuni. Ketika seseorang yang sudah menamatkan studi dan  berpisah dengan teman-teman kemudian berencana lagi bertemu maka pertemuan ini disebut reuni. Ketika pertemuan itu terjadi setelah 25 tahun mereka berpisah maka disebut dengan reuni perak. Reuni perak ini kemudian diakronimkan dengan reper  yang terdengar lebih efektif, efisien, dan keren.

Reper  menjadi ajang pertemuan kembali sekelompok (mantan) siswa /mahasiswa yang sudah meninggalkan sekolah/kampus mereka 25 tahun yang lalu. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika dikaitkan dengan manusia, usia 25 tahun identik  dengan  kedewasaan.

Apalagi jika reper­-nya adalah bagi alumnus sekolah menengah (SMA), nuansanya akan sangat berbeda. Dikatakan demikian karena masa SMA disebut masa yang indah. Di masa inilah terjadi transformasi.

Tranformasi diartikan sebagai proses perubahan yang terjadi secara perlahan hingga sampai pada tahap ultimate. Salah satu wujud perubahan itu adalah dengan melakukan respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal. Respon itu dapat berupa perubahan self identification atau life style.

Di SMA ini, status  siswa terakhir melekat karena bagi yang melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, mereka bukan lagi disebut siswa tetapi mahasiswa. Dengan kata lain, SMA menjadi gate untuk menuju kedewasaan. Perubahan yang cukup radikal dan memiliki pengaruh yang tidak sederhana terhadap masa depan.

Sekarang, hasil reformasi sudah kelihatan. Masing-masing (mantan) siswa SMA ini sudah menjadi ‘sesuatu’. Mereka tidak lagi disebut anak muda yang riuh membangun eksistensi  atau menerawang jati diri, demikian sobat saya Eka Ridhaldi Putra nyatakan dalam sebuah tulisannya di Reper Ikasmantri. Mereka sudah menjadi Ibu dan Bapak bagi anak-anak mereka yang mungkin sedang sibuk mengulang lagi apa yang sudah dilakukan orang tua mereka dulu.

Kehebohan yang timbul setiap pagi  hanya untuk sekedar membangunkan anak tersayangnya agar berangkat sekolah menjadi bagian dari rutinitas. Rengekan-rengekan tidak jarang dilakukan sebagai modus untuk diizinkan tidak masuk sekolah. Bujukan dan omelan orang tua adalah pra-sarapan. Bahkan, ada kemungkinan berangkat sekolah tanpa sarapan diiringi  dengan perasaan dongkol sehingga berujung pada tidak masuk sekolah, duduk-duduk di kantin, atau bolos.

Kenakalan-kenakalan kecil ketika SMA hanya akan menjadi kisah yang membuat kita tertawa, menangis, atau malu.  Nostalgia dengan elegi-eleginya inilah yang kemudian akan dijemput lagi melalui apa yang disebut dengan reper.

Reper akan mengurai kembali kisah-kisah yang tidak akan mungkin dan pernah terulang. Keberadaan reper akan melepaskan semua atribut kekitaan dan kekinian. Tidak akan ada seorang pejabat, pengusaha, politisi, atau label-label sosial lainnya. Yang ada adalah kita di masa SMA dulu.

Heterogenitas kita sekarang akan digugurkan melalui keseragaman. Inilah seragam putih abu-abu yang menjadi simbolnya. Berseragam putih abu-abu dalam acara reper memang didisain panitia agar embel-embel ‘orang hebat’ tidak melekat di saat itu.

Kita boleh menjadi ‘sesuatu’ di luar sana, tetapi tidak saat reper. Semua alumni SMANTRI Angkatan 91 akan dibuat terbawa perasaan atau baper. Mereka akan baper  dengan masa lalu. Baper  dengan masa-masa saat SMA dulu.

Reper  memang baper  dan reper juga harus baper.

Kenapa?

Di reper ini memori masa lalu saat SMA akan dihadirkan lagi melalui kegiatan-kegiatan ketika sekolah di SMA. Salah satunya adalah rutinitas di setiap Senin pagi, yakni upacara bendera. Peserta reper akan baper  dengan saat-saat berdiri tegak mengikuti upacara dulunya di halaman sekolah. Selain itu, kebersamaan bersama guru-guru dan teman-teman akan didatangkan lagi dalam bentuk yang berbeda.

Yang jelas reper Smantri angkatan 91 tanggal 7-8 Oktober nanti adalah wujud baper  masa lalu yang dikemas dengan cara masa kini. Kehadiran kita semua di tanggal ini adalah wujud dari rasa syukur kita atas pencapaian yang diperoleh.

Selamat be-reper untuk kita semua. Reper  yang sudah pasti akan baper.

Bravo Angkatan 91 Smantri Padang!

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 18 September 2016

 

2 Thoughts on “Antara Reper dan Baper

  1. Semoga reper dan bapernya untuk hal positive… good article Ike Revita

Leave a Reply to ikerevita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation