Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.

Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.

Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian

(Kahlil Gibran)

 

Syair  yang ditulis sastrawan beraliran romantik ini jika dibaca kata per kata sangat menyentuh. Disebutkan bagaimana seorang sahabat mampu menjadi pemenuh jiwa. Sahabat adalah ladang hati. Ladang adalah media untuk bertanam yang kemudian akat dipanen dengan kasih dan penuh dengan sayang.

Sahabat juga menjadi peneduh saat panas dan penghangat saat dingin. Sahabat jugalah yang menjadi pelipur lara, penghapus duka, dan penyembuh luka.

Betapa sebuah uraian yang sangat mengena hati. Betapa sahabat itu punya peran yang tidak sederhana dalam hidup manusia.

Siapa mereka ini? Siapakah sahabat itu?

Dalam sebuah ungkapan berbahasa Inggris dikatakan friend indeed is friend in need.  Teman yang sesungguhnya adalah mereka yang ada ketika butuh.

Apakah teman sama dengan sahabat?

Menurut KBBI (2008), kawan disebut juga dengan teman atau sahabat. Artinya tidak ada perbedaan makna harfiah kedua kata teman dan sahabat ini. Mereka bisa saling menggantikan. Namun dalam kenyataannya, banyak orang menilai sahabat adalah teman dekat. Sahabat adalah tempat berbagi dan curhat.

Sementara itu, teman dapat ditemukan dimana-mana. Hanya sebagian kecil dari teman yang dapat dijadikan sahabat.

Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman yang kemudian jadi sahabat, kami sempat mempertentangkan hal ini. Pertentangannya adalah pemahaman akan konsep sahabat dan teman ini. Bagi saya, semua teman adalah sahabat karena persahabatan itu dibangun berdasarkan nilai-nilai kebaikan. Ketika kita memulai pertemanan, maka muaranya adalah untuk kebaikan.

Padangan sahabat ini justru berbeda karena dia akan memilih dan memilah teman-teman yang akan dijadikan sahabat. Teman untuk bemain, teman untuk tertawa, atau teman yang hanya sekedar untuk kesenangan belaka.

Saya tidak dapat menyalahkan pendapat teman ini atau membenarkan apa yang saya yakini karena setiap orang  boleh berpendapat. Pendapat itu juga boleh tidak sama.

Saya jadi ingat dengan rencana brilian teman-teman satu angkatan sekolah ketika SMA dulu. Setelah lebih kurang 25 tahun lamanya meninggalkan sekolah, kami berencana untuk melakukan pertemuan lagi. Pertemuan ini yang lazim disebut dengan reuni.

Reuni sendiri berasal dari kata re + uni. Re- artinya kembali  dan –uni artinya bertemu atau bersua. Dengan demikian reuni itu dimaknai sebagai bertemu, bersua, atau berkumpul kembali dengan teman-teman atau sahabat-sahabat ketika SMA dulu. Karena sudah 25 tahun lamanya kami meninggalkan sekolah maka jadilah itu reuni perak  atau kami sebut juga dengan reper.

Bertebar dan tersebarnya kami dengan berbagai aktifitas dengan rutinitas yang bervariasi tidak membuat kami berbatas. Keberadaan media sosial sangat membantu. Di sinilah saya secara pribadi merasakan betapa media sosial ini berperan besar karena sudah berhasil mempersempit jarak  dan ruang waktu kami yang berjumlah lebih dari 400 orang. Bahwa media sosial memiliki manfaat positif jika dimanfaatkan secara baik mulai saya rasakan (Revita, 2016)

Kami pun membuat group dalam media sosial whatsapp  serta facebook. Di dua media inilah komunikasi kami yang sempat terputus atau teman-teman yang sudah kehilangan teman sebangkunya, teman sama-sama cabut tatkala di SMA, atau teman-teman yang didemenin tersambung lagi.

Dunia terasa begitu kecil. Apa yang dikatakan Piliang (2011) dalam bukunya ‘Dunia yang Dilipat’ tergambar jelas. Bahwa media sosial telah membuat kehidupan manusia seperti kertas origami yang dilipat dan dilipat sehingga dia sudah mencapai satu titik dan tidak bisa dilipat lagi. Di saat itulah semuanya begitu mudah dijangkau, dilihat, dan dirasakan.

Kami merasakan itu. Teman-teman yang bergabung dalam group dapat berkomunikasi, bercerita,  atau hanya sekedar  bersenda gurau dalam dua media ini. Dunia terasa indah ketika komunikasi kami menjemput lagi memori tatkala di SMA dulu.

SMA memang masa yang indah. Di SMA inilah transformasi mental terbentuk. Masing-masing personal mulai mencari identitas. Arah hidup dan masa depan diputuskan di era ini. Ada teman-teman yang memutuskan untuk mengambil jurusan Fisika, Biologi, dan Sosial sebagai jalan yang akan mereka turuti untuk menjemput impian mereka.

Di SMA inilah keputusan menentukan  pintu untuk menuju our dream  dipilih.

Meskipun melalui ‘pintu’ yang berbeda dengan mimpi-mimpi yang berbeda, ini tidak menjadikan kami terpisah. Tidak ada friksi yang menjadi jurang pemisah antara ‘anak fis, bio, atau sos’. Kami semuanya merasa sama. Apalagi dengan adanya rencana akan dilakukan reper akbar ini.

Saya menyadari  betul, keberadaan saya di SMANTRI dulu memiliki andil besar untuk sekarang ini. Teman-teman  dan guru-guru memiliki pengaruh tidak sederhana. Dalam pemahaman saya, tidak satupun manusia sekarang yang lepas dari masa lalu. Masa depan tidak akan pernah ada tanpa melawati fase masa lalu dan masa sekarang.

Inilah yang dicoba dijemput oleh teman-teman sahabat saya panitia Reper Ikasmantri yang akan dilaksanakan tanggal 7-8 Oktober 2016 mendatang. Upaya yang tidak gampang. Mereka dengan ikhlas   bertungkus lumus untuk mempertemukan kembali kami dalam sebuah reuni akbar ini.

Salute for you the steering committee! Meilleurs amis pour toujours ! Semoga moto ‘Persaudaraan yang tak kan putus’ benar-benar terwujud melalui reper  ini.

Mari kita bertemu dengan teman-teman sahabat kita dalam reper perak nanti. Dengan demikian dunia akan semakin kecil melalui persaudaraan yang tidak akan lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan.

 

Sudah dimuat di Hariang Singgalang, 11 September 2016

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation