Tulisan ini terinspirasi dari dua kejadian yang secara tidak sengaja terjadi dan teramati oleh saya di akhir pekan lalu. Saat berada di kampus, saya memperoleh informasi ada suatu peristiwa yang kemudian membuat situasi kampus relatif kurang kondusif.

Awalnya saya tidak begitu memusingkan kejadian di kampus karena dinamika kehidupan membuat segela sesuatunya memang tidak mesti berjalan secara ideal. Sampai kemudian saya menerima pesan melalui media sosial Whatsapp dari seorang teman. Dalam pesannya saya diminta untuk mengikuti diskusi hangat dalam group di media sosial yang sama.

Komentar-komentar atas topik yang dibicarakan saat itu membuat saya tidak nyaman membacanya. Namun ketidaknyamanan itu masih terobati dengan pikiran bahwa apa yang dibicarakan terbatas dikonsumsi oleh kelompok itu saja. Mereka yang bukan bagian dari kelompok itu tentu tidak akan tahu.

Kejadian serupa terjadi setelah itu. Belum lagi saya sempat beristirahat, kembali saya dikirimi pesan oleh orang berbeda yang intinya ingin mengajak saya bergabung dengan kelompok sosial di media sosial Whatsapp. Karena ditujukan untuk komunitas yang sangat berbeda, saya mengiyakan ajakan tersebut. Begitu saya tergabung dan memulai membaca postingan di group yang baru ini, saya sangat terkejut karena menemukan dan merasakan adanya ketidakpasan dalam bertutur.

Karena sudah merasa sangat letih, saya tidak mengacuhkannya. Esok hari di saat saya kembali memeriksa postingan anggota group yang baru ini, saya merasa aneh dan bertanya. Pertanyaan itu adalah kenapa komentar harus disampaikan dengan nada yang pedas. Padahal komentar itu berada dalam wilayah yang setidaknya dikonsumsi oleh banyak orang, yakni anggota group itu sendiri.

Yang membuat saya miris adalah ketika ketidaktepatan dan ketidakpasan berbahasa disampaikan oleh orang tua yang notabenenya dapat memberi contoh dan menjadi model berbahasa yang baik dan benar. Baik dan benar dalam arti kata berterima dalam konteks budaya masyarakat Minangkabau. Ada rule of speaking  (Revita, 2013) yang mesti dipatuhi dalam kerangka berbahasa seorang Minangkabau.

Kato nan ampek dengan perangkatnya menjadi acuan saat bertutur. Kato mandaki, manurun, malereang,  dan mandata adalah pilar-pilar yang idealnya dipakai dalam pondasi berpikir untuk berbahasa. Apalagi dalam domain  media sosial.

Media sosial atau sering disebut medsos diartikan sebagai situs web yang berfungsi sebagai forum on line  atau sarana interaksi sosial, pegaulan, pertemanan, serta sarana berbagi atau bertukar informasi, saling komentar, dan sebagainya (Merriam-Webster, 2016). Dalam medsos ini jaringan pertemanan dapat dibangun, bisnis, atau bahkan jaringan pergerakan untuk memobilisasi demo.

Keberadaan medsos ini sudah menyentuh semua aspek dan lini. Penggunaan medsos tidak lagi mengenal kelas usia, profesi, jenis kelamin, atau status sosial. Dengan bermodalkan sebuah smart phone atau android, seseorang dapat bermedsos. Kemudahan ini dipermurah dengan hadirnya jaringan internet gratis di ruang publik. Hampir semua fasilitas umum dilengkapi dengan wifi gratis.

Berkunjung ke tempat seperti ini cenderung dijadikan tujuan agar bisa melanglang buana dalam dunia maya dan berinteraksi via medsos ini.  Kemudahan dan kemurahan ini kemudian menjadikan semuanya mengalir deras tanpa dapat dibendung. Misalnya, aliran-aliran komunikasi.

Melalui medsos ini komunikasi banyak arah dapat dilakukan. Dalam sebuah group, contohnya, seseorang dapat berkomunikasi dan berkomentar  yang ditujukan kepada semua anggota group. Semua anggota group  pun dapat merespon komentar itu.

Dalam skop yang lebih luas, media sosial juga dapat dikonsumsi oleh publik. Jika hal demikian terjadi, apa yang diposting dapat dibaca oleh semua orang yang menggunakan medsos ini. Apa yang dikatakan dan dituliskan akan diketahui masyarakat luas.

Dalam hubunganya dengan hal ini, diperlukan kehati-hatian dalam memposting  sebuah informasi. Apalagi jika informasi itu terkait orang banyak yang dapat memicu multitafsir. Banyaknya penikmat postingan seseorang dalam medsos tidak tertutup kemungkinan mengundang suatu pihak berkomentar dari sudut pandangnya. Parahnya, yang berkomentar tidak paham konteks dan berpotensi membuat sebuah posting-an menjadi masalah yang kian lama bergulir seperti bola api panas.

Saya ingat dengan sebuah kejadian ketika seseorang mengomentari sebuah  posting-an di group. Orang ini menanggapi cukup emosi dan berapi-api. Dari tanggapannya tergambar bahwa dia gagal paham dengan fungsi medsos ini. Orang inilah yang saya maksudkan sebagai  manusia latah medsos.

Disebutkan demikian karena ketidaksiapan ‘mentalnya’ menerima kenyataan bahwa dalam interaksi via medsos transparansi tidak dapat dihindari. Segala sesuatunya bersifat transparan. Medsos tidak hanya dapat menjadi media untuk bercakap tetapi juga mengirim foto dan video. Bahkan video call  pun dapat dilakukan via medsos ini.

Materi yang memungkinankan menyebabkan orang ini ikut membeli smart phone. Kelatahan menyebabkan dia tergoda menginstall medsos di smart phone-nya. Yang terjadi adalah dia menjadi shock  karena tidak siap dengan kecanggihan dan kecepatan informasi yang difasilitasi oleh medsos ini.

Orang latah ini kemudian menjadi marah ketika ternyata kenyataan yang dihadapi berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya. Pikirannya diisi oleh konteks bertutur yang penuh dengan aturan-aturan rijid. Yang ada adalah bahasa yang cenderung bersifat kasual dan menciutkan jarak antarpeserta tutur. Misalnya adalah penggunaan emotikon-emotikon yang jika tidak dipahami secara utuh dapat membuat kita tidak nyaman.

Pilihan berbahasa pun relatif bersifat kasual. Misalnya ketika mengatakan ‘Saya bersedia’ disebutkan dengan ‘Siap’. Tidak jarang dipertegas dengan menambahkan emotikon yang ada.

Dalam ilmu bahasa, cara berbahasa seperti ini, apalagi bila ditujukan kepada orang yang lebih tua dinilai tidak sopan. Tidak jarang dilakukan pelesapan atau penggantian pada bunyi-bunyi dan kata-kata tertentu.  Contohnya untuk mengatakan ‘Saya siap untuk itu’ disampaikan dengan ‘Siap 4 it’. Ada penggantian kata ‘untuk’ dengan angka ‘4’ dan pencampuran  bahasa Inggris ‘it’.

Dalam diskusi saya dengan beberapa teman, mereka terkesan tidak nyaman. Namun, itulah bahasa dalam media sosial. Pilihan kata-kata relatif lebih menunjukkan intimacy. Kalaupun sudah ada koridor berbahasa yang dibungkus frame budaya atau nilai-nilai sosial, kenyataan bahwa berkomunikasi via medsos ini sering melanggar koridor dan frame ini tidak dapat dihindari.

Kenyataan bahwa bahasa dinamis dan linear dengan perkembangan teknologi tidak dapat diingkari. Cepatnya perkembangan teknologi diiiringi dengan perubahan-perubahan berbahasa itu. Keleluasaan menggunakan medsos menjadikan dinamika bahasa semakin tidak dapat dibendung kecepatannya.

Semuanya kembali kepada kita. Kita tidak perlu latah dengan orang ber-smart phone kita ikut-ikutan juga. Orang sedang trend dengan medsos, kita pun latah memasangnya. Yang terjadi adalah kita jadi shock.

Jadilah orang yang bijak bermedsos dengan menjadi orang yang cerdas memilih apakah medsos dan bergabung dalam jejaring sosial ini perlu atau hanya sekedar latah.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation