Women trafficking disebut juga dengan perbudakan modern. Dikatakan demikian karena aktifitas women trafficking  ini tidak jauh berbeda dengan tindakan perbudakan, yakni terjadi pengontrolan terhadap orang lain oleh seseorang atau satu pihak.

Kontrol yang dimaksud berada di luar kelaziman karena ada hak-haknya sebagai manusia yang dilanggar. Misalnya, hak untuk menentukan dan mengambil keputusan, hak untuk menolak, atau hak untuk memperjuangkan hak tersebut.

Kegiatan perbudakan ini juga berhubungan dengan (orang yang dianggap) budak dan pemilik budak. Pemilik budak inilah yang mengontrol semua aktifitas budaknya. Dengan demikian, rasa memiliki membuat si pemilik bisa  berbuat semaunya terhadap (orang yang dianggap) budak.

Dalam kaitannya dengan ini, Revita (2015) menyebut perbudakan sebagai perbuatan yang biadab. Manusia dianggap barang dan dapat diperjualbelikan. Mereka bisa dibeli jika suka dan boleh dijual kembali atau dibuang bila sudah tidak diperlukan.

 

Apa itu Trafficking?

Salah satu bentuk perbudakan terkini adalah yang disebut dengan women trafficking.  Trafficking menurut Protokol PBB tentang perdagangan manusia   adalah suatu kegiatan mulai dari perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang baik dengan ancaman, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, atau mungkin dengan bujukan,  rayuan dengan wacana gaji besar, bekerja di tempat yang enak dan lain sebagainya.

Jika dilakukan terhadap perempuan, inilah yang disebut dengan women trafficking. Perempuan yang seharusnya dilindungi dan disayangi, justru dieksploitasi untuk kepentingan dan pencapaian materi. Perempuan dipekerjakan sebagai buruh  serta penjaja seks.

Eksploitasi perempuan melalui dunia kerja dianggap bisni yang menggiurkan. Disebutkan bisnis perdagangan perempuan dan anak menjadi bisnis illegal ketiga terbesar di seluruh dunia setelah bisnis senjata dan obat-obat terlarang (Olujuwon, 2008). Dana yang diputar di bisnis ini pun tidak sedikit. Diestimasi dalam aktifitas women trafficking   diputar uang sekitar 32 milyar USD (Wheaton dkk, 2009).

Hasil survey dan data statistic International Organization for Migration (IMO) dengan pemerintah Indonesia dan LSM terkait, didapat fakta bahwa pada tahun 2011, diperkirakan terdapat 6,5 – 9 juta tenaga kerja Indonesia di seluruh dunia. 69 % di antaranya adalah perempuan. 43- 50 % dari jumlah TKI ini diindikasikan adalah korban trafficking.

Dari 3.840 korban, 90% adalah perempuan.  DAlam lapiran Trafficking in Persons Report 2011: Indonesia disebutkan angka 471 migran Indonesia kembali dari Timur Tengah dalam kondisi hamil akibat perkosaan dan 161 lainnya pulang dengan anak-anak yang telah dilahirkan di Timur Tengah. Angka ini dinilai sungguh fantastik.

Persoalan women trafficking   ini sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Sayangnya,  meskipun sudah ada upaya yang dilakukan pemerintah, tetapi dinilai belum maksimal. Buktinya aktifitas women trafficking  bukan semakin berkurang, tetapi malah meningkat.

Women trafficking  seperti fenomena gunung es. Puncaknya terlihat sangat kecil, tetapi kaki dan pinggangnya sangat besar. Tidak ada penambahan terlihat karena puncaknya selalu runcing. Sesungguhnya puncak itu meleleh setiap waktu dan berkumpul di bagian bawah.

Ini adalah sebuah fatamorgana yang menipu mata kita. Kita menilai seakan-akan women trafficking   tidak ada atau hanya sedikit. Realitasnya tidaklah seperti itu.

 

Modus Women Trafficking  

Kemajuan teknologi membuat jaringan pelaku women trafficking   ini semakin leluasa bergerak. Melalui media sosial meraka bisa melakukan perekrutan. Melalui media sosial mereka bisa membuat janji untuk bertemu tanpa harus bersusah payah menyediakan ‘perangkap’ pengangkutan.

Modus women trafficking  pun semakin bervariasi. Jika dulu adalah tawaran pekerjaan dengan gaji besar, sekarang mulai merambah ke berbagai domain. Tidak hanya kebutuhan ekonomi yang dijadikan dasar, tetapi  juga ‘nafsu’

Gaya hidup dan sikap konsumtif adalah fenomena yang sekarang mewabah di kalangan generasi muda. Keterbatasan materi membuat mereka memilih jalan pintas, yakni bekerja sedikit tetapi menghasilkan uang banyak. Salah satu pekerjaan itu adalah menjadi prostitute–Pekerja Seksual Komersial (PSK).

Dalam sebuah focus group discussion  di daerah Jawa Barat, seorang nara sumber menyebutkan, kerja di dunia prostitusi boleh dikatakan paling enak bagi pencari uang secara instant. Dengan modal ‘mengangkang’ mereka bisa dapat uang. Akan berbeda halnya jika mereka bekerja di toko atau perusahaan. Perlu kesabaran, paling tidak, menunggu satu bulan dulu baru menerima uang.

Iming-iming smart phone  baru dan canggih, dibelikan baju baru, atau diajak jalan-jalan serta ke salon bisa mengaburkan logika mereka bahwa sesuatu tidak mungkin didapat tanpa adanya usaha. Apalagi di zaman sekarang berlaku ungkapan tidak ada yang gratis. Mana mungkin seseorang dibelikan suatu barang dan diajak jalan-jalan secara free. Selalu ada kompensasi. Minimal adalah (harga) diri.

Tawaran menjadi model dan artis merupakan modus lain dari women trafficking. Dikenal banyak orang dan dikagumi adalah sifat dasar manusia. Menggapai menjadi terkenal dan dikagumi idealnya melalui usaha dan kerja keras. Budaya instant  membuat terbangunnya mindset  untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah. Prinsip minimalis menjadi anutan. Sedikit kerja, banyak hasilnya.

Menjadi artis adalah salah satu cara memperoleh uang banyak dalam waktu sekejap. Sikap dan perubahan ideologi ini kemudian dijadikan modus bagi seorang calo pencari korban women trafficking  yang potensial untuk diyakinkan. Dengan tawaran-tawaran untuk menjadi artis melalui kasting  abal-abal, perempuan yang didominasi gadis remaja malah dijadikan budak seksual. Mereka menjadi korban women trafficking  akibat ambisi memperoleh sesuatu secara instant.

Yang paling parah adalah women trafficking  bermodus ibadah umrah. Orang-orang yang berkeinginan untuk melaksanakan ibadah umrah  ditawarkan biaya yang lebih murah dan jauh di bawah standar. Perekrutan awalnya terlihat  normal. Kekurangjelian dan ketidaktelitian membuat calon korban kemudian tidak menyadari adanya keanehan. Mereka bukan diberangkatkan  untuk beribadah, tetapi malah dibelokkan, masih ke wilayah Timur Tengah juga, untuk dijadikan pembantu rumah tangga.

Tawaran magang untuk siswa disinyalir ikut manjadi modus women trafficking . Siswa setingkat sekolah menengah atas diberi kesempatan untuk magang di perusahaan luar negeri. Informasi tidak jarang dilakukan via sekolah. Siswa ini tetap diangkut ke luar negeri untuk bekerja tetapi buka magang. Mereka dijual dan dipekerjakan di perusahaan perkebunan atau pertanian tanpa diberi gaji.

Betapa women trafficking   semakin canggih. Kecanggihan ini hendaknya disikapi dengan arif dan bijak. Dengan bersikap cermat, teliti, dan  tidak malu bertanya paling tidak bisa menghindari kita dari praktik yang disebut women trafficking.

Sudah dimuat di Harian Singgalang 17 Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation