Suatu hari, saat sedang mengawas ujian masuk perguruan tinggi, saya dikejutkan oleh panggilan teman pengawas bahwa ada mahasiswa yang sedang menunggu. Saya sedikit agak terkejut karena merasa tidak pernah punya janji untuk boleh ditemui di momen itu. Apalagi dalam aktifitas ini, ada koridor-koridor yang menurut saya harus dipatuhi selaku pengawas.

Dengan berat hati, akhirnya, saya menemui mahasiswa tersebut di luar kelas. Teman pengawas ini sambil tersenyum menyeletuk, ‘Nyo lah di siko, Buk…baa lai’. Celetukan ini hanya saya respon dengan wajah manyun sambil menggerakkan bahu tanda tidak nyaman.

Pertanyaan pertama saya ketika bertemu adalah ‘Kok tau saya di sini?’ Dengan wajah penuh senang mahasiswa ini menjawab bahwa tidak sulit mencari seorang Bu Ike. Ini bukanlah suatu aktifitas rutin dengan tempat dan waktu yang sama, seperti halnya mengajar. Saya hanya heran saja karena dia berhasil menemukan saya di antara ribuan orang di tempat yang menurut saya dia juga tidak begitu familiar.

Rupanya tujuan mahasiswa ini adalah untuk menyerahkan tesis yang akan diuji seminggu ke depan. Saya biasanya sangat keberatan jika penyerahan tesis dilakukan di sembarang tempat. Selain khawatir akan tercecer, sudah pasti akan ada beban tambahan yang harus dibawa dari ruangan mengawas ke ruangan saya pribadi.

Tesis itu akhirnya saya terima. Ironisnya, mahasiswa ini menitipkan tesis lagi untuk penguji lain. Saya coba ingatkan agar menyerahkan langsung ke dosen bersangkutan. Dengan   seribu satu alasan, wajah memelas, dan rengekan-rengekan yang sangat membuat saya tidak nyaman akhirnya tesis kedua pun saya pegang.

Singkat cerita, di saat bertemu dengan teman yang dititipi tesis dan menyerahkan tesis titipan tersebut, teman ini terlihat sangat tersinggung. Dalam pikiran saya saat itu, si mahasiswa ini sudah mengabari teman tersebut. Rupanya tidak. Akhirnya terjadilah diskusi yang mengurai kronologis attitude mahasiswa ini.

Teman dosen yang juga menjadi pembimbing mahasiswa ini sepertinya sangat tidak menerima perilaku mahasiswa bimbingannya. Dalam diskusi itu, timbul pertanyaan.

Apakah ini salah satu wujud dekonstruksi budaya?

Apakah manusia sudah begitu kehilangan hati sehingga hanya memikirkan kepentingan pribadi dan melepas yang disebut dengan nilai etika dan norma?

Dalam tulisan saya di Singgalang (2016), disebutkan ada ungkapan guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Ungkapan ini bertemali dengan sikap mahasiswa tersebut. Dikatakan oleh teman dosen ini bahwa si mahasiswa tersebut adalah juga seorang dosen yang sedang meng-up grade- ilmunya. Bagaimana mungkin dia bisa mendidik mahasiswanya jika dia sendiri belum bisa berlaku dan bersikap layaknya seorang pendidik.

Ini adalah fakta dalam sebuah realitas hidup.

Norma dan etika yang dibungkus dalam budaya seyogyanya tetap dipelihara melalui implementasi  sikap. Yang terjadi adalah pelunturan dan penggerusan nilai-nilai positif ini.

Apakah ini yang disebut dengan dekonstruksi budaya?

Dekonstruksi disusun oleh dua kata de + konstruksi. Konstruksi bersinonim dengan bangunan, kumpulan beberapa bagian yang secara utuh membentuk sebuah bangunan dengan fungsi tertentu. Sementara itu, de-  merupakan prefiks yang bermakna negasi atau penidakkan.

Ketika   prefiks de- melekat pada kata konstruksi terbentuklah kosakata baru dekonstruksi. Dekonstruksi diartikan sebagai penguraian elemen-elemen yang sudah tersusun sedemikian rupa. Bila yang diurai adalah elemen budaya maka  itulah yang disebut dengan deksontruksi budaya.

Penguaraian budaya dalam konsep dekonstruksi ini cenderung berkonotasi negatif. Dikatakan dekonstruksi budaya sebagai sebuah sikap yang mengacu kepada penghancuran. Dekonstruksi bersifat dekonstruktif.

Salah satu indikasi dekonstruksi budaya ini adalah yang ditemukan dalam perilaku verbal. Perilaku verbal ini terwujud dalam tuturan berbahasa.

Masyarakat Minangkabau terkenal dengan kelompok yang sangat concern  dengan persoalan berbahasa ini. Meskipun menganut paham egaliter dalam berbahasa bukan berarti berbahasa tanpa aturan. Inilah yang disebut dengan kato nan ampek  (Navis, 1984)  sebagai rule of speaking-nya orang Minangkabau dalan berbahasa (Revita, 2008).

Dalam kato nan ampek  jelas dan tegas diatur strategi berbahasa berdasarkan partisipan yang terlibat. Bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan akan berbeda tergantung siapa yang menjadi lawan tutur kita.

Ketika tuturan ditujukan kepada orang yang lebih tua atau orang yang kita hormati, tuturan harus sopan karena berada dalam konteks kato mandaki  dan kato malereang. Di saat yang menjadi mitra tutur adalah teman sebaya atau seusia, tuturan relatif lebih kasual dan intimate. Apalagi jika teman sebaya itu adalah teman akrab, bisa jadi bahasa yang digunakan penuh dengan carut marut dan umpatan karena berada dalam konteks kato mandata.

Bentuk bahasa yang berbeda akan dijadikan pilihan bila berbicara kepada anak kecil karena dalam konteks kato manurun biasanya penuh dengan kelemahlembutan. Ada unsur edukasi di dalam bentuk kebahasaan yang digunakan.

Contohnya adalah di saat melakukan permintaan. Untuk meminta agar seseorang makan, ada berbagai macam cara berbeda yang menjadi pilihan, tergantung konteksnya. Dalam  konteks kato mandaki  atau kato malereang dapat digunakan ‘Kok pindah tampek wak baa lai, Pak?’ atau ‘Hidangan lah siap, Pak.’ Konteks kato mandata  akan menggunakan bentuk berbeda, ‘Oi…makan…makan lai!’ atau ‘Peklah! Manyungkah lai!’. Sementara itu, dalam konteks kato manurun digunakan tuturan, ‘Baa, Aqeela ka makan lai?’ atau ‘ Faiz ka makan, Sayang?

Variasi tuturan dalam keempat konteks kato nan ampek  ini memiliki nilai dan filosofi yang berbeda.  Kato nan ampek  ini pun diberi label sesuai dengan kontur (tanah) bebeda? Kenapa?

Ada nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai penghormatan dan penghargaan (kato mandaki), kehati-hatian (kato malereang), kedekatan (kato mandata), dan kasih sayang (kato manurun). Nilai-nilai ini sudah memiliki tempat, porsi, dan peran masing-masing. Tidak boleha adanya penukaran, apalagi penghilangan.

Yang terjadi adalah kato nan ampek sebagai salah satu pilar dalam konstruksi budaya msayarakat Minangkabau mulai mengalami reduksi. Kato  ini sepertinya mulai menciut menjadi dua,  mandata  dan manurun. Bahkan ada indikasi tinggal satu saja, kato mandata.

Ibarat sawah tanpa pematang, bentuk kebahasaan pun mulai tiada berbatas. Tidak ada lagi konsiderasi bahwa tuturan ditujukan kepada orang tua yang seharusnya dihormati. Bentuk-bentuk kasual dan intimasi tetap menjadi pilihan, meskipun tuturan ditujukan kepada guru. Bahkan, bahasa-bahasa disfemisme sengaja dipilih ketika berbahasa dengan anak berusia lebih muda.

‘Mangangkang jo ang di sinan lai. Den bae kapalo ang ko’  lebih menjadi pilihan dibandingkan ‘ Maaf yo diak, bisa adiak begeser saketek?’. Tuturan ‘Awak ndak bisa jago pagi do, Pak makonyo wak talambek kuliah taruih’ adalah tuturan yang digunakan seorang mahasiswa ketika ditanya dosen alasannya selalu datang terlambat setiap kuliah pagi. Padahal ada pilihan lain yang dinilai lebih memenuhi aturan dalam konteks kato mandaki, seperti ‘Maaf, Pak. Awak ado masalah ketika jago pagi karena…’

Realitas berbahasa di atas adalah potret perilaku verbal terkini yang menjadi cikal bakal dekostruksi budaya Minangkabau. Ini perlu jadi perhatian banyak pihak. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk mengantisipasi dan mencegahnya jika nilai-nilai kebaikan dalam budaya Minangkabau tetap ingin dipertahankan.

Semoga!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation