Dunia ini panggung sandiwara, Cerita yang mudah berubah

Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani,

Setiap kita dapat satu peranan, Yang harus kita mainkan,

Ada peran wajar, Ada peran berpura pura,

Mengapa kita bersandiwara,  Mengapa kita bersandiwara

 

Ini adalah bagian dari syair lagu  berjudul Panggung Sandiwara yang  pernah dinyanyikan Nicky Astria. Dalam lagu ini tergambar bagaimana kehidupan ini sebenarnya adalah sandiwara. Panggungnya adalah dunia. Aktornya adalah manusia yang tidak jarang disutradai oleh manusia juga.

Dalam tulisan ‘Bahasa Hipocracy’ yang dimuat Harian Singgalang  beberapa waktu lalu, saya menulis tentang bagaimana ketidakbenaran dapat dibungkus melalui bahasa. Pilihan-pilihan bahasa yang digunakan tidak jarang hanya sebagai cover yang berisi kebohongan.

Betapa banyak manusia yang bersedia melakukan kebohongan dan ketidakjujuran hanya untuk memenuhi keinginan dan nafsu pribadi. Yang utama bagi mereka adalah sejauh kemauannya terpenuhi, mereka tidak mempedulikan apakah orang lain akan tersakiti atau terluka.

Mereka tidak malu untuk mengatakan ‘tidak’ setelah ‘iya’ atau sebaliknya. Bahkan mereka merasa tidak bersalah walau harus menjilat air ludah sendiri. Sikap seperti ini dilakoni sebagai hal biasa. Tidak ada perasaan bersalah. Tidak ada perasaan takut bahwa hidup akan mati, semua yang dikatakan dan dilakukan akan dipertanggungjawabkan.

Ironisnya, tidak jarang perilaku seperti ini dibungkus dengan dalil-dalil agama. Agama dijadikan topeng penyamar wajah aslinya.

Statement  ini mengingatkan saya kepada pesan seorang mantan mahasiswa yang protes dengan nilai kebaikan berupa ‘kejujuran’ yang sudah saya ajarkan semasa kuliah. Menurutnya, ajaran dan didikan saya itu sudah basi dan jadul. Ini tidak lagi berterima untuk dunia kekinian.

Justru kebaikan yang diajarkan hanya akan menjadi jebakan bagi saya dan mahasiswa yang akan menerapkan itu. Pendapat itu membuat saya benar-benar surprised. Saya mengira pikiran negatif mantan mahasiswa ini sudah terpengaruh dengan kehidupan metropolis Jakarta sebagai daerah pilihannya tempat bekerja.

Salah satu pesan yang dikirim mantan mahasiswa ini adalah ‘Ibu terlalu baik dan selalu berpikir positif terhadap semua orang. Saya takut ibu akan terjebak dengan itu karena dunia sekarang penuh dengan kemunafikan. Ibu terlalu baik dan selalu berpikir untuk kami mahasiswa Ibu dan orang banyak. Saya khawatir kebaikan dan ketulusan ibu menjadikan ketakutan dan ancman bagi orang-orang munafik. ’

Lama saya termenung memahami setiap kata yang ditulis mantan mahasiswa ini. Ada semacam kekhwatiran dalam pesan yang ditulisnya. Jika saya masih bertahan dengan konsep yang senantiasa menanam benih kebaikan dan keteladanan, saya akan dibuang.

Saya jadi bertanya. Ada apa dengan mantan mahasiswa ini?

Setelah ditelusuri lebih jauh, akhirnya jawaban saya peroleh. Rupanya mahasiswa ini mengalami kejadian yang tidak menyenangkan akibat kejujuran dan pikiran positif yang coba diamalkannya.

Bukannya kebaikan yang diperoleh, justru dia ditohok oleh orang yang dipercayainya. Orang yang dianggapnya baik dan dijadikan panutan justru mengorbankan dia untuk ambisi pribadi. Mantan mahasiswa ini terlihat sangat shocked.

Saya mencoba menghibur, tetapi ada penolakan. Dia sepertinya sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa hidup manusia ini penuh dengan kebohongan. Siapa yang mampu berwajah banyak dan memiliki tipu muslihat akan berhasil. Kalau mau sukses harus mampu berkata ‘iya’ dalam ‘tidak’ dan berkata ‘tidak’ dalam ‘iya’. Kejujuran dan kebenaran akan membuat kita dicampakkan.

Nilai-nilai moral, agama, budaya, dan sosial diabaikan. Yang penting adalah posisi. Kepentingan pribadi tetap terdepan meskipun harus menendang atau menyepak orang yang jauh lebih pantas dan layak.

Di sinilah kemudian saya mengingatkan bahwa kalau masih meyakini adanya Allah, sudah seharusnya dia ikhlas dengan semua keadaan yang diterima. Meskipun manusia memiliki skenario berupa konspirasi yang licik, tetapi tidak akan pernah mengalahkan Allah. Bagi Allah hanya sebentar mengubah semuanya. Kun fayakun ‘Apabila Allah menghendaki, tidak akan ada yang tidak mungkin’.

Hal inilah yang oleh masyarakat Minangkabau kemudian dijabarkan dalam sebuah ungkapan  muluik manih. Ungkapan ini menjelaskan tentang keelokan bahasa dan kesantunan tutur seorang Minangkabau. Seorang Minangkabau itu identik dengan kearifan dan kebijakan dalam berbahasa. Mereka sangat hati-hati dan senantiasa menjaga tuturnya saat berbahasa.

Kehati-hatian ini terwujud dalam sikap berbahasa yang enak didengar dan menyejukkan hati. Selalu ada upaya agar orang lain tidak tersakiti oleh produksi bahasa melalui alat ucap. Bahasa yang ‘tidak mencari lawan, tetapi yang ‘mencari kawan’ menjadi pilihan.

Awalnya, muluik manih hanya memiliki makna positif. Namun, seiring berkembangnya waktu, makna ini mulai mengalami pemburukan atau pejoratif. Muluik manih tidak saja bermakna positif tetapi juga negatif.

Orang yang bamuluik manih  tidak lagi berarti yang elok dan cakap dalam berbahasa, tetapi juga orang yang bermuka dua. Muluik manih menjadi bumper untuk intensi-intensi dan rencana-rencana busuk. Muluik manih ini seperti sebuah lapek basi yang dibungkus oleh daun pisang yang cantik.

Ini adalah realitas sosial. Fakta seperti ini ada dan bahkan banyak ditemukan dalam masyarakat. Sering kita tonton di televisi, seperti dalam dunia politik, seseorang yang kemudian dihancurkan oleh kawannya sendiri. Muluik manih disodorkan sedemikian rupa yang kemudian orang ini ditikam dari belakang.

Dalam dunia politik tidak jarang lawan menjadi kawan dan kawan menjadi lawan. Semuanya berubah dengan cepat untuk alasan kepentingan (pribadi/kelompok).

Syair dalam lagu di atas adalah benar adanya. Dunia adalah panggung sandiwara. Setiap manusia dapat peran yang mungkin saja adalah wajar atau normal atau perannya hanya pura-pura. Peran normal disutradai oleh Allah dan peran pura-pura tidak tertutup kemungkinan disutradai oleh manusia.

Peran pura-pura inilah yang kemudian menjadi wujud dari mental menerabas. Terabasan dilakukan tanpa pandang bulu. Tidak ada kata saudara, teman, bahkan keluarga karena semuanya akan diterobos untuk mencapai titik kepuasan pribadi.

Meskipun dunia adalah sandiwara, ketika kita yakin bahwa skenarionya dari Allah, tidak akan ada ketakutan.  Meskipun ada bagian dari sandiwara yang diskenarioi olah manusia, itu tidak akan bertahan lama. Tidak satupun kekuatan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan-Nya.

Yang jelas, ikhlas adalah jawaban semuanya.

Selamat menikmati menjadi orang-orang yang ikhlas dan qanaah!

Sudah diterbitkan di Harian Singgalang, 17 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation