Suatu hari saya menerima pesan dari seorang mantan mahasiswa di pascasarjana. Mantan mahasiswa ini mengirimkan pesan yang isinya berupa curahan perasaan. Saya sangat terkejut membaca pesan itu karena berisi tentang keluhan di tempatnya bekerja. Setahu saya, mantan mahasiswa ini saat itu bekerja di sebuah instansi pemerintah yang cukup bonafid.

Saya ingat saat diberitahu bahwa dia lulus dan diterima bekerja di instansi ini, ucapan syukur dan selamat saya sampaikan. Saya sangat gembira karena dalam pikiran saya, ukuran keberhasilan seorang guru/dosen adalah di saat murid/mahasiswa didikannya berhasil, apalagi jika melebihi keberhasilan dia.

Pesan itu kemudian saya respon dengan membesarkan hati dan memintanya tetap bersabar.

Beberapa hari kemudian, kembali mahasiswa ini mengirimkan pesan dengan pertanyaan Salahkah jika saya dilahirkan sebagai seorang Minangkabau? Pesan ini membuat saya kembali terkejut karena berpikir ada persoalan apa lagi yang dihadapinya.

Setelah memperoleh cerita lengkap, kemudian saya baru sadar bahwa mahasiswa ini merasa  diperalat karena dipicu salah satunya oleh darah dari suku Minangkabau yang mengalir di tubuhnya. Kembali saya menguatkan agar dia tetap bersabar dan menganggap itu adalah bagian dari perjalanan serta dinamika pekerjaan.

Tidak berselang satu bulan kemudian, datang pesan dari mantan mahasiswa ini lagi. Pesan itu saya baca saja tanpa memberi respon. Padatnya kesibukan saat itu membuat saya tidak terlalu mengacuhkan. Hanya beberapa hari setelah itu, saya balas dengan memberi emotikon sebuah senyuman.

Mantan mahasiwa ini langsung membalas emotikon tersebut dengan pertanyaan ‘Kenapa Ibu tersenyum’. Pertanyaan ini dilanjutkan oleh pernyataan, ‘Bukankah Ibu mengajarkan kepada kami ketika kuliah dulu bahwa keju yang paling mahal adalah KEJUjuran. Salahkah saya memberikan sesuatu yang termahal? SALAHKAH SAYA MENJADI ORANG YANG JUJUR?

Saya sangat terkejut membaca pesan ini. Kembali saya lihat pesan sebelumnya yang tidak begitu saya gubris itu. Rupanya dia bertanya APAKAH MENJADI ORANG JUJUR DAN LURUS ITU SEBUAH KESALAHAN?

Saya menjadi termenung.

Saya juga bertanya kepada diri sendiri, apakah saya salah karena mengajarkan mahasiswa untuk jujur. APAKAH MENGAJARKAN KEJUJURAN ITU JUGA SALAH?

Pertanyaan itu terus menggayuti pikiran saya. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah buku yang pernah saya beli 8 tahun yang lalu. Saya masih ingat historisnya.
Ketika kuliah di Yogya, salah satu pengobat kejenuhan adalah dengan hunting buku-buku murah di pameran buku atau toko buku.

Saya menemukan buku itu di salah satu rak toko yang sedang bazar. Buku itu saya beli seharga 5 ribu rupiah. Penulisnya adalah seorang guru di Yogya.

Meskipun harganya menurut saya tidak sepadan dengan perjuangan menulis buku itu, tetapi isinya membuka mata saya. Buku yang berjudul ‘Menabur Benih Kebenaran’ ini membuat saya sadar bahwa apa yang ditulis penulis ini adalah sebuah realita yang selama ini tidak kita sadari.

Disebutkan bahwa sering kita bersikap permisif kepada ketidakbenaran. Sikap ini menjadikan pembiaran dan berujung pada kebiasaan. Jika sudah disebut dengan kebiasaan maka segala sesuatu itu berterima apalagi jika terjadi secara masif.

Dalam tulisan di Singgalang (2015) yang berjudul ‘Amnesia Kolektif’, saya menyebutkan betapa ketidakbenaran kadangkala sudah diatur sedemikian rupa. Kebohongan dilakukan secara bersama-sama. Sesuatu yang jelas dikerjakan disebutkan lupa dan itu diucpakan secara kolektif.

Sebagian orang menyebut juga dengan ‘kejahatan berjamaah’.

Dalam amnesia kolektif tetap ada sutradara yang mengatur. Para aktor akan mengatakan dan beraksi  sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan si sutradara. Demikian juga dalam ‘kejahatan berjamaah’, ada pemimpin. Apa yang dilakukan pemimpinnya akan diikuti oleh rakyatnya.

Seperti halnya dalam shalat. Makmum akan ikut apa yang dilakukan imam, makmum akan membaca apa yang dibaca imam. Artinya, Imam adalah panutan dan pemandu dalam kegiatan shalat berjamaah.

Terkait dengan ini, dalam Islam, menjadi seorang imam itu tidaklah mudah dan sederhana. Ada ketentuan-ketentuan yang mensyarati dia diperbolehkan menjadi imam. Misalnya, Islam, suci, bersih bacaannya, dsb. Islam mengatur sedemikian rupa yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan makmum itu sendiri.

Akhirnya saya menulis jawaban yang cukup panjang atas pertanyaan mantan mahasiswa ini. Intinya adalah apa yang saya katakan adalah benar. Jujur tidak salah. Yang salah adalah orang yang melihat jujur sebagai sebuah keanehan.

Saya menceritakan simpulan isi buku ‘Menabur Benih Keteladanan’ bahwa betapa sesuatu yang tidak biasa sudah menjadi kebiasaan. Yang dulunya biasa malah sekarang menjadi luar biasa. Contohnya adalah kejujuran itu sendiri.

Jika mendengar kisah dan riwayat di zaman Rasulullah, betapa justru orang yang tidak jujur dianggap aneh. Kontradiktif dengan realitas zaman kekinian, jujur adalah ‘keanehan’. Yang aneh harus dicampakkan. Artinya, jika ada orang yang jujur, dianggap mengancam dan harus dibuang.

Meskipun masih ada orang yang jujur, tetapi jumlahnya mungkin tidak banyak lagi karena fenomena sekarang sudah berlawanan dengan yang dulu. Dunia sekarang adalah dunia hedonis dan nafsi-nafsian. Semuanya berbasis kepentingan. Kebenaran boleh saja dikorbankan asal kepentingan perorangan didahulukan.

Saya ingat dalam pilkada dan pemilu legislatif akhir-akhir ini. Banyak teman-teman dan masyarakat yang bersikpa golput karena mereka berada dalam posisi titik aus. Mereka mengalami yang disebut krisis kepercayaan. Karena apa, kebohongan dan hipocracy.

Masyarakat dijanjikan sedemikian rupa dalam kampanye. Namun, begitu kursi sudah diduduki, janji itu hanyut dibawa air bandang dan ditiup angin puting beliung. Pemberi janji merasa seakan-akan mereka tidak pernah mengumbar janji itu.

Di saat ditagih, akan lahirlah jawaban-jawaban klasikal. Eufimisme, ungkapan, dan bentuk-bentuk informasi vague adalah pilihan yang aman dan dianggap bijak. Seperti halnya ketika seseorang ditanya akan suatu kejadian, jawabannya kadang sangat diplomatis. Bukan kapasitas saya atau silahkan tanyakan kepada pimpinan, dsb.

Dalam ilmu linguistik, ada konsep yang dikenal dengan penghalusan makna berbahasa. Inilah yang disebut dengan eufimisme. Eufimisme salah satunya digunakan untuk mengurangi keterancaman muka orang lain. Dengan menghaluskan makna, orang tidak menjadi tersinggung. Salah satu wujud eufimisme adalah penggunaan istilah asing.

Tidak jarang bahasa asing ini digunakan untuk menutupi kebenaran.  Jika untuk tujuan kebaikan, penggunaan bahasa asing ini menurut saya sah-sah saja. Yang ironis adalah jika kata-kata itu senagaja dipakai untuk menutupi kebenaran.

Disinilah letak bahayanya. Kosakata asing dipakai agar ketidakbenaran yang dilakukan bisa tertutupi. Apa yang terjadi diselimuti dengan topeng eufimisme. Inilah yang saya maksud dengan bahasa hipocracy. Bahasa yang menunjukkan kemunafikan. Lain di mulut lain di hati.

Bahasa hipocracy  tidak mustahil sudah menjadi bagian dari bentu-bentuk berbahasa kekinian. Dengan kata lain, bahasa hipocracy  ini sudah menjadi bagian dari strategi untuk memuluskan misi pribadi.

Naudzubillahiminzalik!

Semoga kita bisa terlindungi dari penggunaan bahasa hipocracy  ini! Apalagi untuk pemenuhan nafsu hedonis dan ambisi pribadi.

Semoga!

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang 10 April 2016

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation