Sebagai alat komunikasi, bahasa tidak hanya difungsikan untuk memberi informasi, tetapi juga mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran penutur. Melalui bahasa, seseorang dapat menyampaikan semua isi pikiran dan isi hati dengan simbol-simbol kebahasaan.

J.L Austin (1969), seorang filusuf dari Inggris menyebutkan bahwa dalam berbahasa seseorang tidak hanya mengatakan sesuatu, sesungguhnya dia juga melakukan sesuatu. Ada aksi yang terkandung dalam tuturannya. Inilah yang dia sebut dengan  tindak tutur atau speech act.

Speech act didefinisikan sebagai performing via language. Contohnya adalah ketika seseorang bertemu dengan sahabat lamanya yang sudah menjadi konco palangkin dan kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan pertanyaan, Lah makan kawan? Pertanyaan ini bisa saja direspon oleh temannya dengan mengatakan, Dima wak kamakan ncak?  atau Baa, pai ka tampek biaso wak liak?

Normalnya, sebuah pertanyaan harusnya direspon dengan jawaban. Dalam situasi ini, mitra tutur malah manjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Meskipun terdapat ketidaklinearan sekuensi tutur, pertanyaan dijawab pertanyaan, kedua teman lama ini terlihat menikmati pembicaraannya. Tidak satupun yang complain.

Hal demikian terjadi karena adanya kesepahaman di antara mereka. Masing-masing mereka memiliki pemahaman bersama atau shared knowledge. Shared knowledge inilah dalam ilmu Pragmatik disebut dengan konteks.

Konteks tidak hanya meliputi knowledge, tetapi juga pengalaman¸ latar belakang pendidikan, sosial, usia, atau jenis kelamin, dsb. Dengan demikian, Revita (2013) menyebut konteks sebagai everything. Apa saja bisa menjadi konteks yang kemudian akan mewadahi sebuah pertuturan.

Berdasarkan wadah ini, seorang penutur akan memilih bentuk tuturan yang tepat dan pantas. Tatkala terjadi kekacauan dalam penggunaan konteks akan berakibat pada terganggunya fungsi komunikatif  bahasa. Jika hal demikian terjadi maka ini sudah masuk ke dalam ranah ilmu yang disebut Pragmatik Klinis.

Pragmatik Klinis pertama kali diperkenalkan oleh Crystal (1981) dalam konsep Clinical Linguistics  yang dituangkannya dalam buku berjudul sama Clinical Linguistics edisi Disorder of Human Communication. Selanjutnya Cummings (2009) mempertegasnya dengan menulis buku tentang Pragmatik Klinis yang berjudul Clinical Pragmatics.

Cummings sendiri mendefinisikan Pragmatik Klinis sebagai studi tentang cara penggunaan bahasa seseorang dalam berkomunikasi yang mengalami kekacauan pragmatik. Kekacauan pragmatik berhubungan dengan faktor kognitif dan linguistik.

Pragmatik Klinis lahir sebagai bentuk perkembangan ilmu Pragmatik yang berangkat dari terjadinya kerusakan Pragmatik seseorang dalam berkomunikasi. Kerusakan ini  bisa saja merupakan hasil dari cedera serebral, patologi atau mungkin anomali lain yang menyebabkan gangguan ini berawal dalam tahap perkembangan, selama masa remaja, atau dewasa.

Gangguan ini ditenggarai merupakan konsekuensi dari sederet faktor kognitif dan linguistik. Disebutkan juga bahwa gangguan pragmatik adalah dampak dari adanya interaksi yang kompleks antara simbol, kognitif, dan sistem sensorimotor.

Daya tarik kajian Pragmatik Klinis mirip dengan kajian Pragmatik pada umumnya. Hasil pemikiran para filusuf, Austin dan Searle (1979) merupakan reaksi kritis terhadap pandangan umum bahasa yang dikemukakan oleh sebagian besar filusuf pada awal abad ke-20.

Disebutkan, secara struktural kalimat deklaratif  berfungsi untuk memberi informasi saja. Pandangan ini kemudian disanggah Austin (1962) dengan menyebutnya declarative fallacy. Dalam kalimat deklaratif tidak tertutup kemungkinan terkandung sebuah performatif. Kalimat deklaratif  berpotensi juga untuk memutuskan sesuatu itu salah atau benar.

Realitasnya, dalam komunikasi nyata sehari-hari, penggunaan bahasa sarat dengan konteks, situasi, kondisi psikologis, dan sosiologis. Ujaran dapat dipahami maksudnya apabila berada dalam konteks. Hal ini membawa implikasi terhadap hadirnya apa yang disebut implikatur. Dalam implikatur terjadi proses inferensi yang berakar pada kekuatan dan pemahaman akan konteks. Konteks adalah media utama kajian Pragmatik.

Mengkaji Pragmatik Klinis ini berarti melihat fenomena kebahasaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan pragmatik penutur. Yang jelas, Pragmatik Klinis merupakan sebuah kajian terhadap berbagai cara bisa terganggunya penggunaan bahasa oleh individu untuk mencapai tujuan komunikatif.

Oleh karena itu, studi Pragmatik Klinis menekankan pada teknik assessment bahasa pada penyandang disorder bahasa. Sehubungan dengan ini, para ahli klinis mencoba menghubungkannya dengan konsep penggunaan bahasa sebagai alat  komunikasi dengan cara menguji bagaimana seorang klien menggunakan keterampilan berbahasa dalam berkomunikasi. Hasil assessment menunjukkan bahwa para ahli klinis meng-asses berbagai macam faktor keterampilan berbahasa. Salah satunya adalah faktor konteks.

Konteks berperan penting dalam kajian-kajian Pragmatik yang terkait dengan tindak tutur dan implikatur. Ketika terjadi gangguan pada penguasaan konteks ini,  maka terganggulah peran implemantasi tindak tutur dan implikatur dalam sebuah interaksi.

Selain itu, kajian-kajian Pragmatik seperti maksim-maksim, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis percakapan dan wacana mengalami dinamika dalam kajian Pragmatik klinis.

Menurut Cummings (2009), posisi Pragmatik dalam praktik dan penelitian klinis sudah mapan. Pragmatik adalah bagian standar protokol assessment  dan treatment gangguan perkembangan dan pemerolehan bahasa. Perannya  dalam pelemahan komunikasi semakin banyak diselidiki para peneliti klinis. Dengan adanya karya-karya Pragmatik dalam kajian klinis menjadikan bidang Pragmatik Klinis lebih banyak memerlukan assessment kritis yang cermat.

Sekarang tibalah saatnya untuk meninjau kemampuan berbahasa dalam fungsi komunikatif dengan memanfaatkan bidang ini. Namun, kita pun perlu menyadari adanya kegagalan-kegagalan di samping prestasi-prestasi yang sudah ditorehkan oleh kajian Pragmatik Klinis.

Selamat meneliti dan menulis dalam ranah Pragmatik Klinis.

Sudah diterbitkan di Singgalang, 3 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation