Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah diskusi dengan teman lama ketika kuliah dulu. Dalam diskusi kami, teman ini bercerita tentang sebuah tempat yang cukup banyak memberi pengaruh dan mengisi hidupnya ketika masih kuliah.Tempat itu adalah asrama.

Saya jadi ingat bahwa ketika kuliah S1 teman ini awalnya tinggal di sebuah asrama yang memang dibangun khusus untuk mahasiswa yang berasal dari Minangkabau. Mereka yang berasal dari Minangkabau dan kuliah di daerah itu diizinkan tinggal di asrama tersebut.

Asrama ini memberikan fasilitas yang cukup memadai dan sangat membantu mereka yang baru datang dan pertamakali dating ke  kota itu. Dalam asrama ini pulalah pendidikan dan nilai keminangkabauan semakin terasah. Kecintaan dan kebanggaan pada kampung halaman–Minangkabau, kebersamaan sesama anak rantau, sikap tenggang rasa, atau mandiri tercipta sedemikian rupa.

Diskusi ini juga membawa pikiran saya kepada pengalaman saat mendampingi mahasiswa kuliah lapangan Sosiopragmatik. Dalam dua kali pengalaman membawa mahasiswa pascasarjana ke lapangan, saya menyaksikan bagaimana mahasiswa kebingungan ketika masalah muncul di lapangan.

Mahasiswa terlihat agak panik dan kebingungan. Sebagian dari mereka ada yang mampu mengambil inisiatif dan berhasil mengatasi persoalan sementara. Sebagian lagi justru terpaksa menghindar dan menjauh dari masalah itu tanpa menemukan suatu solusi.

Saat ditanyakan kepada mahasiswa, sebagian yang tidak memperoleh solusi menjawab bahwa mereka kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara mereka  yang berhasil mencari inisiatif, beralasan bahwa tindakan yang diambil berdasarkan logika berpikir sederhana yang pernah saya ajarkan di kelas.

Adapun persoalannya adalah dalam mengumpulkan data mereka kesulitan mencari informan. Hal demikian terjadi karena pengambilan data dilakukan saat masyarakat sedang bekerja di sawah. Akibatnya tidak dijumpai informan yang mereka butuhkan.

Dari sinilah kemudian saya memberikan analogi batu dan kolam tenang. Di saat sebuah kolam tenang dilempar batu, akan muncul lingkaran kecil yang diikuti lingkaran lebih luas sampai menyentuh pinggir kolam tersebut.

Analogi ini mendeskripsikan bahwa tidak ada masalah yang tidak terselesaikan. Selalu ada solusi. Apalagi dalam kajian linguistik, tidak ada kemutlakan penelitian mengenai bahasa harus dilakukan semata di labor seperti halnya penelitian dalam bidang eksakta.

Dalam ilmu linguistik, labor bahasanya adalah masyarakat. Lingkungan masyarakat itu adalah kita dan yang ada di sekitar kita. Dengan kata lain, labor linguistik tidak memerlukan bangunan seperti halnya labor dalam arti umum.

Salah satu labor yang paling sederhana itu adalah asrama. Asrama menurut KBBI (2012) adalah bangunan tempat tinggal bagi sekelompok orang untuk sementara waktu. Dalam bangunan itu terdapat kamar-kamar yang ditempati oleh penghuninya.

Asrama ini umumnya dihuni oleh kelopok masyarakat yang homogen tetapi heterogen dalam aspek sosial. Disebut demikian karena asrama dibangun atas konsiderasi tertentu, misalnya daerah asal. Asrama akan ditempati oleh kelompok masyarakat dari daerah yang sama tetapi berlatarbelakang berbeda. Perbedaan ini salah satunya di aspek sosial, seperti kampung kecil, latar belakang orang tua, usia, tempat kuliah, dsb.

Faktor-faktor sosial ini akan menimbulkan adanya perbedaan yang salah satunya tercermin dari sikap berbahasa. Wardaugh (1986) menyatakan no two people speak exactly alike and no one people speak exactly alike at different time.

Kutipan ini menunjukkan betapa tidak ada manusia yang berbahasa sama dan tidak akan pernah seorang manusia berbahasa sama dalam waktu berbeda. Hal ini memperjelas bahwa perbedaan berbahasa ada yang disebabkan oleh faktor internal, yaitu kemampuan manusia itu sendiri dan eksternal, aspek lingkungan.

Dalam asrama akan terjadi interaksi-interaksi yang tidak jarang menimbulkan pergesekan. Pergesekan ini melahirkan api-api kecil perseteruan. Namun, api-api ini dapat dipadamkan tatkala penanggung jawab asrama atau kakak senior berhasil menyiramkan air dingin.

Di sinilah suatu proses berjalan. Proses pencerdasan emosi, pendewasaan, dan pendidikan karakter. Tinggal di sebuah asrama memang tidak mudah karena intensitas pertemuan dengan beragam aktifitas yang tidak mungkin menghindari adanya interaksi.

Interaksi itu salah satunya diwujudkan melalui bahasa. Keberagaman dalam sebuah asrama melahirkan bentuk-bentuk kebahasaan yang bervariasi. Maksud yang sama belum tentu disampaikan sama juga. Revita (2014) menyebut fenomena ini dalam sebuah ungkapan ‘Tidak satu jalan ke Roma, tidak satu cara berbahasa’.

Contohnya adalah ketika meminjam ember untuk mencuci, penghuni asrama yang bernama A mengatakan, ‘Salang embe nta yo.’ Untuk tujuan yang sama, penghuni yang bernama B dan C bisa saja mengatakannya dengan ‘Masih bapakai embe ko, Nton?’ dan ‘Ondeeh, lah pacah lo embe wak, baa ka mancuci ko ha.

Penggunaan ketiga bentuk tuturan ini dimaksudkan untuk tujuan yang sama tetapi diwujudkan melalui cara yang berbeda. Jika si A meminjam dengan cara meminta izin, si B dengan bertanya, dan si C dengan mengeluh.

Bentuk kalimat yang digunakan pun berbeda, ada yang menggunakan kalimat  berita, kalimat tanya, dan kalimat eksklamatif. Perbedaan bentuk ini tidak menutup kemungkinan menimbulkan reaksi yang berbeda. Hal ini jika dihubungkan salah satunya dari perspektif kesantunan.

Berbicara tentang kesantunan bertemali dengan konteks. Konteks itu salah satunya adalah pengalaman, pemahaman, atau latar belakang. Tuturan si C bisa jadi tidak dipahami dan ditangkap dengan baik oleh pemilik ember karena secara literal terdengar seperti keluhan. Demikian juga dengan tuturan si B yang jika dianggap bertanya akan menimbulkan reaksi berupa jawaban masih atau sadang bapakai. Sementara itu, tuturan si A mungkin direspon dengan meminjamkan ember yang dimaksud.

Kegagalan-kegagalan dalam penafsiran ini berpotensi untuk menjadi bibit sebuah ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini kemudian akan berujung pada perseteruan. Namun, kearifan dan kebijksanaan melalui nilai-nilai budaya, agama, dan sosial dapat meredam perbedaan dan perseteruan ini.

Di sinilah besarnya manfaat tinggal di asrama. Asrama akan menjadi sekolah kedua dalam pendidikan tentang hidup. Dalam asrama ini juga dapat dibentuk karakter-karakter yang kemudian melahirkan orang-orang yang tangguh. Melalui asrama ini inspirasi-inspirasi lahir. Di asrama ini pulalah nilai tenggang rasa atau disiplin bisa ditanamkan.

Asrama dapat juga disebut sebagai labor hidup. Dalam linguistik, asrama adalah tempat dimana banyak data bahasa ditemukan. Asrama dapat menjadi inspirator bagi peneliti bahasa.

Dalam kehidupan, asrama tidak hanya tempat tinggal tetapi juga tempat belajar. Dengan kata lain, asrama akan banyak memberi pengaruh positif jika sistem dan aturan itu jelas serta diamalkan.

Semoga asrama-asrama di Indonesia tetap ada dan berjalan sesuai fungsinya untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat banyak! Semoga!

Tulisan ini sudah diterbitkan di Singgalang, 18 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation