April telah tiba. Artinya perayaan hari Kartini tidak akan lama lagi. Kaum perempuan dari berbagai kalangan dan usia sudah mulai berbenah dan menyiapkan perayaan ulang tahun perempuan yang dianggap sebagai pejuang kaumnya.

Semua orang tahu bahwa Kartini adalah pejuang yang berhasil menguak tabir gelap kaum perempuan. Perempuan yang dulunya dianggap sebagai pelengkap kaum laki-laki sekarang sudah memiliki hak untuk menjalankan  peran-peran yang selama ini tidak boleh digeluti. Jika selama ini perempuan dinilai hanya berperan di sumur, dapur, dan kasur, sekarang sudah bertambah menjadi di kantor. Artinya, perempuan tidak lagi dibatasi untuk melakoni aktifitas sejauh tidak melanggar kodratnya sebagai istri  dan ibu.

Jika berkata tentang perempuan, salah satu sosok yang paling identik adalah IBU. Ibu dikatakan sebagai ciptaan Allah yang sorga ada di bawah telapak kakinya. Betapa ibu diposisikan sebagai makhluk yang terhormat. Hingga dimetaforakan sorga sebagai tujuan seluruh manusia di dunia setelah mengalami kematian berada dibagian tubuh terbawahnya. Ibu diibaratkan sebagai matahari yang memang dibutuhkan oleh semua makhluk di dunia.

Dalam sebuah syair lagu anak-anak,  jelas bagaimana sosok perempuan yang bernama IBU itu digambarkan. Kasih Ibu kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali.Bagai sang surya menyinari dunia

Syair dalam lagu ‘Kasih Ibu’ ini menjabarkan  betapa besarnya jasa dan kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang tiada terukur dan tiada terbalas. Tidak sepantasnya ibu dibuat berduka. Tidak seharusnya ibu dibuat kecewa oleh anak-anaknya. Oleh karena itu, begitu banyak cara yang dipakai untuk mengungkapkan betapa Ibu adalah pahlawan kehidupan seorang anak. Salah satunya melalui diksi atau kosakata dalam bahasa.

Sebagai seorang perempuan yang melahirkan kita, ibu tidak hanya digunakan sebagai panggilan atau sapaan. Ibu juga memiliki makna  sesuatu yang pokok, besar, atau asal (KUBI, 2013).

Ketiga makna ibu itu dapat dibuktikan melalui analisis dari perspektif linguistik. Analisis itu dapat dilihat dari bentuk dan penggunaannya dalam masyarakat.

Jika ketiga makna ibu dipreteli lebih jauh, secara semantis, pokok adalah segala tumbuhan yang berbatang keras dan besar atau batang kayu dari pangkal ke atas. Selain itu kata pokok juga berarti yang terutama dan sangat penting. Dari sekian banyak makna tentang pokok, ada benang merah yang dapat diambil, yakni bahwa ibu adalah seorang manusia yang tangguh dan  menjadi tonggak terutama sebuah kehidupan. Tanpa tonggak itu, segala sesuatu akan runtuh.

Makna ini mengandung filosofis  ibu diibaratkan sebuah batang pohon dimana semua bagian bertengger. Tanpa ibu, tidak akan ada kehidupan.

Pentingnya ibu tidak hanya terungkap dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbahasa pun terefleksi betapa ibu adalah sesuatu yang besar dan menjadi asal muasal dari banyak hal.  Ada beberapa bentuk kebahasaan yang melibatkan kata ibu sebagai bagian yang pokok, besar dan asal.

Pertama, bagian tubuh.  Bagian  tubuh yang didahului dengan kata ibu adalah ibu jari. Ibu jari  berarti empu jari atau kepala atau hulu jari. Tidak ada istilah untuk bapak jari. Begitu juga di bagian kaki. Yang ada hanya ibu kaki ‘jempol’. Bukan bapak kaki atau kepala kaki. Istilah yang dipakai adalah ibu…

Kedua, bagian dari wilayah yang besar. Contohnya adalah ibu kota yang berarti kota tempat kedudukan pusat pemerintahan, tempat dihimpunnya unsur kekuasaan, seperti legislaitf, eksekutif, dan yudikatif.

Selain ibu kota, dipakai juga istilah ibu negeri yang memiliki acuan sama, kota yang menjadi pusat pemerintahan. Ada juga bentuk lain yang mengacu kepada tanah air, yakni ibu pertiwi. Ibu pertiwi  disebut juga dengan tanah tumpah darah. Tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Misalnya, Indonesia adalah ibu pertiwiku ‘ Indonesia merupakan tanah tumpah darah yang selalu dijaga dan dibela’.

Konsep ibu pertiwi ini sering dipakai untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Istilah ini sering dipakai dalam kegiatan yang bernuansa perjuangan.

Dalam bahasa Inggris, juga ditemukan istilah yang terkait dengan ibu atau mother, seperti motherland ‘tanah air, tanah tumpah darah’. Kadang-kadang dipakai juga diksi mother country yang bermakna ibu pertiwi atau daerah asal.

Ketiga, orang tua perempuan dalam sistem kerajaan. Dalam sebuah kerajaan, ibunda dari seorang raja disebut dengan ibu suri. Tidak ada istilah yang mengatakan *bapak suri untuk ayah seorang raja. Biasanya, ayah raja tetap disebut dengan ayah raja  yang diikuti oleh nama raja tersebut.

Keempat, bagian yang terkait dengan benda. Contohnya adalah ibu tangga. Ibu tangga  berarti bambu atau kayu yang diberi beranak tangga. Dua sisi yang mengikat anak tangga ini dinamai dengan ibu tangga. Ada juga yang namanya ibu sungai yang mengacu kepada sungai yang besar dan memiliki cabang-cabang.

Bahasa Inggris memiliki kosakata yang serupa untuk benda yang besar. Misalnya, kapal induk disebut dengan mother ship. Kapal induk atau mother ship ini dapat memuat pesawat atau helikopter . Biasanya kapal ini digunakan untuk perang di lautan atau samudera luas.

Kelima adalah beragam rupa. Banyak frasa yang menggunakan ibu sebagai  bagiannya, seperti ibu pasir yang berarti pasir yang kasar-kasar/besar-besar. Ada juga ibu panah atau busur.

Masyarakat Minangkabau kadang-kadang menyebut ibu dengan induak. Dalam bahasa Minangkabau ditemukan juga istilah yang menggunakan kata induak  ini. Contohnya, induak bareh  yang mengacu kepada istri. Di masyarakat Minagkabau tidak ada istilah *(b)apak bareh  untuk suami.

Banyaknya kosakata yang menggunakan ibu menggambarkan sosok ibu sebagai perempuan yang berperan besar dalam kehidupan manusia. Bahkan, dalam bahasa, ada istilah yang namanya bahasa ibu   atau mother tongue.

Bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya dalam interaksi dengan masyarakat. Hakikatnya, bahasa ibu memang diperkenalkan oleh ibu. Sebagai perempuan yang melahirkan dan menyusui, seorang anak akan lebih banyak berada di pangkuan ibunya. Melalui ibulah , bahasa diperkenalkan.

Filosofisnya adalah, ibu adalah orang pertama yang mengajarkan bahasa kepada anak. Apapun bahasanya, itulah yang menjadi bahasa ibu.

Masyarakat Minangkabau, contohnya menjadikan bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu. Tidak jarang juga bahasa Indonesia menjadi bahasa pertama yang dikenalkan pada anak. Oleh karena itu, bahasa ibu si anak ini adalah bahasa Indonesia.

Tidak tertutup kemungkinan seorang anak Minangkabau yang dilahirkan di negeri asing, memperoleh bahasa asing itu sebagai bahasa pertama. Ketika bahasa itu senantiasa digunakan dalam interaksi atau komunikasi, maka bahasa asing itulah yang menjadi bahasa ibu.

Namun, ketika kembali ke tanah air  dan si anak menjadikan bahasa Indonesia atau bahasa daerah sebagai bahasa komunikasinya, bahasa ibunya beralih menjadi bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Konsep ini sesungguhnya masih menjadi pro dan kontra dari sebagian ahli. Bahwa bahasa ibu adalah bahasa yang pertamakali dikenalkan (oleh ibu) atau bahasa yang dominan digunakan dalam komunikasi sepanjang hidupnya.

Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa bahasa ibu merupakan bahasa yang paling  dikuasai. Hal demikian terjadi pada masyarakat atau penutur yang bilingual atau multilingual.

Sekarang ini begitu banyak orang yang menguasai lebih dari satu bahasa. Di antara sekian banyak bahasa, tentu ada satu bahasa yang paling dikuasai dan paling sering digunakan dalam komunikasi. Bahasa ini disebut juga dengan bahasa ibu.

Apapun konsep tentang bahasa ibu dan meskipun pandangan tentang bahasa ibu bermacam-macam, ada satu hal yang dapat diambil. Bahwa semuanya mengacu kepada yang pertama, yang pokok, dan yang menjadi asal. Yang pertama, yang pokok, dan yang menjadi asal itu adalah ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation