Suatu hari, saya membaca status seorang mahasiswa di personal message (PM)  handphonenya. Di situ tertulis bahwa dia tersakiti. Karena dia sudah terbiasa curhat  membuat saya segera bertanya apa maksud PMnya tersebut.

Mahasiswa itu menjawab pertanyaan saya dengan permintaan agar diizinkan menelepon. Saya segera menelepon dia karena saya yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi.

Begitu  telepon saya diangkat, mahasiswa ini langsung berteriak histeris sambil menangis. Saya sangat kaget. Saya menanyakan kalau ada kejadian yang tidak nyaman. Sambil menangis terisak-isak dia menceritakan bahwa dia disakiti kekasihnya.

Saya menjadi teringat dengan  kejadian yang pernah dialami mahasiswa ini. Ketika dia meminta agar hubungan mereka diakhiri. Kekasihnya tidak menerima dan mengancam akan bunuh diri jika diputuskan.

Atas dasar pertimbangan kemanusiaan, meski sudah tidak cinta, mahasiswa ini terpaksa tetap melanjutkan hubungannya. Namun, dalam hubungan ini, bukannya kecocokan yang muncul tetapi percekcokan. Mereka sering bertengkar.

Sikap possessif dan protective si pacar membuat mahasiswa ini merasa tertekan. Terakhir, mahasiswa ini curhat ke saya bahwa dia sudah tidak peduli lagi karena dia merasa sangat sering tersakiti dengan tuturan pacarnya. Walaupun secara fisik dia tidak pernah mengalami ketidaknyamanan.

Ketika saya menanyakan perkataan yang menyakitkan itu, mahasiwa itu menjelaskan, salah satunya adalah penghinaan. Dia pernah dianggap ‘mata duitan’. Mau mempertahankan hubungan demi materi. Selain itu, karena cantik, mahasiswa ini memang banyak didekati cowok lain. Akibatnya, dia dituduh ‘rakus’ karena ingin memacari dua atau tiga lelaki di waktu bersamaan.

Apa yang terjadi pada mahasiswa saya ini mungkin banyak dialami oleh anak-anak kita yang sedang membangun sebuah komitmen yang bernama ‘pacaran’. Fenomena yang terjadi saat ini, pasangan yang sedang ‘berkomitmen’ ini sering melangkah keluar dari koridor.

Dikatakan demikian karena ‘komitmen’ itu sendiri jika ditilik dari perspektif agama dan adat tidaklah berterima. ‘Komitmen’ itu ada hanya jika mereka sudah terikat dengan sebuah lembaga yang disebut perkawinan.

Perkembangan zaman menyebabkan banyak koridor yang sudah terlanggar. Ketika sepasang remaja sudah ‘berpacaran’, tidak jarang perilaku mereka seperti sepasang suami istri. Masing-masing mereka merasa berhak mengatur pasangan yang lain. Akibatnya, terjadilah seperti kejadian pada mahasiswa saya tersebut. Dia mengalami yang disebut dengan ‘kekerasan’.

Kekerasan dimaknai sebagai perbuatan yang menyebabkan orang lain merasa tidak nyaman (UU PKDRT No. 23 Th. 2004). Dalam undang-undang ini secara tegas dikatakan bahwa kekerasan itu ada yang berbentuk fisik dan non fisik.

Meskipun undang-undang ini lebih ditujukan kepada pasangan suami istri dan terjadi dalam ranah rumah tangga, fenomena kekerasan ini juag ditemukan dalam hubungan yang disebut dengan  ‘berpacaran’.

Salah satu bentuk kekerasan non fisik itu adalah kekerasan verbal. Revita (2014) menyebutkan bahwa kekerasan verbal itu dilakukan melalui bahasa dan tuturan yang memicu perasaan tidak nyaman bagi orang lain.

Beberapa bentuk kekerasan non fisik yang bersifat verbal itu adalah penghinaan atau pelecehan. Penghinaan  dalam KUBI (2012) berarti sebagai perbuatan yang sifatnya merendahkan diri. Penghinaan ini dapat membuat seorang kehilangan harga diri. Apalagi bila dilakukan di depan orang lain.

Keberadaan orang lain akan semakin mempertajam dan memperjelas efek dari kekerasan non fisik ini. Dengan kata lain, hadirnya orang ketiga dalam sebuah komunikasi, makin meninggikan potensi terjadinya kekerasan bila memang ada tuturan yang bersifat kekerasan.

foto-sesi-makalah

Sesi foto setelah presentasi

Dalam ilmu linguistik, kekerasan berbentuk verbal ini bertemali dengan tindakan yang dikatakan mengancam muka (face threatening act/FTA). FTA merupakan suatu tindakan yang bersifat mengancam muka orang lain. Muka adalah self esteem / self image  atau  harga diri. Harga diri juga dikatakan sebagai satu-satunya yang membuat orang berani bertaruh nyawa untuk itu.

Masyarakat Minangkabau sangat mempertahankan yang namanya harga diri. Dikatakan kalau lah arago diri nan  ndak do, labiah ancak mati. Artinya harga diri adalah mutlak. Tidak ada tawar menawar. Ketika sebuah tuturan sudah menyentuh aspek pelecehan harga diri, seseorang dikatakan sudah mengalami yang namanya kekerasan.

Bentuk lain dari kekerasan verbal itu adalah penggunaan kata umpatan. Tidak jarang seorang diumpat oleh pasangannya. Rasa marah menyebabkan pasangan ini tidak mampu menahan emosi sehingga keluarlah kata umpatan, seperti binatang, buahan, atau kata-kata yang dianggap tabu. Penggunaan kapunduang (sejenis buah) atau kabau (hewan) adalah beberapa kata yang digunakan untuk mengumpat.

Dalam masyarakat Inggris, kata-kata tabu yang dinilai umpatan misalnya blood (darah), shit atau damn  yang keduanya sepadan dengan ‘sialan’ dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ini  bila digunakan dalam konteks yang tidak pas dapat dikategorikan sebagai sebuah kekerasan.

Yang dimaksud dengan konteks di sini adalah situasi dan kondisi yang membolehkan dan tidak membolehkan tuturan ini digunakan. Dalam konteks tertentu, umpatan dapat berterima, misalnya untuk keakraban atau intimacy. Jika umpatan sudah menyakiti orang lain, maka dia terkategori sebagai sebuah kekerasan.

Selain itu, dari pilihan sapaan yang digunakan juga dapat memicu terjadinya kekerasan. Dalam sebuah masyarakat, sebutan ‘kau’ mungkin biasa digunakan. Namun tidak pada masyarakat lain yang justru menganggapnya kasar.

Oleh karena itu, pilihan penggunaan bahasa memang harus perlu dilakukan secara hati-hati. Jika tidak, kita bisa masuk ke dalam wilayah yang disebut dengan kekerasan. Pilihan bahasa yang keliru dapat memicu terluka dan tersakitinya hati orang lain.

Hati-hatilah dalam berbahasa! Mulutmu, harimaumu yang akan merekah kepalamu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation