Adalah suatu fakta bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Dalam masyarakat multikultural ini, potensi-potensi akulturasi tidak dapat dihindari. Salah satunya dapat dilihat dalam bahasa.

Dari investasi yang dilakukan oleh Dewan Bahasa, dikatakan ada sekitar 740 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi di Indonesia. 400 di antaranya sudah dipetakan. Ke 740 bahasa ini tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah penutur masyarakat yang bervariasi.

Penyebaran masyarakat penutur bahasa ini terjadi dalam wilayah yang luas dan sempit. Dengan kata lain, antarmasyarakat tutur bahasa  sering terjadi interaksi. Interaksi  intensif yang dilakukan memicu terjadinya pembauran dan percampuran bahasa. Hal inilah yang menjadi pionir terjadinya alih dan campur bahasa atau yang biasa disebut dengan code mixing dan code switching.

Dalam sebuah komunikasi, kenyamanan akan muncul bila ada sikap tarik ulur dari peserta tutur. Revita (2010) menyebutnya dengan konsep tarik ulur. Sebagian pendapat menyebutnya dengan teori akomodatif.

Yang dimaksud dengan tarik ulur adalah adanya kemampuan peserta tutur dalam menyesuaikan bentuk kebahasaannya. Penyesuaian atau adaptasi ini dapat terjadi dalam semua hierarki bahasa, termasuk bahasa yang dipilih.

Ketika seorang penutur menggunakan bahasa daerah, kemudian direspon oleh mitra tuturnya menggunakan bahasa Indonesia, dalam perkembangannya, salah satu akan mengalah dan memutuskan ikut salah satu dari dua bahasa yang digunakan. Dengan demikian, mereka akan menggunakan bahasa yang sama.

Tidak jarang, penyesuaian ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena arogansi peserta tutur, mereka bertahan di posisi dan pilihan kebahasaan masing-masing. Akibatnya, ketidaknyamanan berbahasa muncul hingga akhirnya salah satu tetap akan mengalah.

Sikap tarik ulur berbahasa ini akan makin terasah jika peserta tutur adalah bilingual atau multilingual. Kemampuan menguasai dua bahasa atau lebih membuat penutur lebih leluasa memilih bentuk bahasa yang digunakannya.

Contohnya adalah masyarakat Indonesia yang sebagian besar bilingual. Masyarakat Indonesia paling tidak menguasai dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Masing-masing bahasa ini sudah diatur penggunaannya. Bahasa Indonesia adalah lingua franca dan digunakan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi, sementara itu bahasa daerah digunakan untuk situasi informal. Peran masing-masing ini sudah diatur dalam undang-undang.

Namun, implementasinya kadangkala tidaklah sesuai. Tidak sedikit masyarakat yang mengkerucutkan fungsi bahasa daerah atau Indonesia. Bahasa Indonesia dipakai dalam semua situasi, tidak hanya formal tetapi juga informal. Bahasa daerah menjadi kehilangan peran karena jarang digunakan.

Mirisnya lagi, bahasa Indonesia yang digunakan pun jauh dari kaidah bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia yang dipakai  sudah mengalami peleburan dengan bahasa asing atau bahasa daerah dialek tertentu. Misalnya, ada kecenderungan generasi muda sekarang menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta. Gua nggak ikut lu ah  lebih menjadi pilihan daripada Saya tidak ikut kamu.

Kalau pun masih ada yang menggunakan bahasa daerah, seperti Minangkabau, bahasa daerahnya pun bercampur dengan bahasa daerah lain atau bahasa asing. Pai kama lu? adalah contohnya. Terjadi percampuran antara bahasa Minangkabau Pai Kama dengan kata ganti lu. Lu  merupakan kata ganti atau sapaan yang berasal dari bahasa Betawi. Padahal, dalam bahasa Minangkabau, Lu dapat diganti dengan ang (laki-laki)/kau (perempuan)  atau sebutan nama diri.

Contoh lainnya adalah I nio pai jo you, tapi mother I ndak maijinkan do. Secara preskriptif, pola seperti ini menjadi bibit pengacau gramatika bahasa. Pola bahasa Indonesia diisi dengan materi bahasa Inggris I, You, Mother I  yang sebenarnya dapat digantikan dengan saya, kamu, dan ibu saya.

Kemudahan teknologi dan informasi pun semakin mempermudah interaksi lintas budaya, bahasa, dan negara. Begitu banyaknya generasi muda yang menguasai minimal satu bahasa asing. Tidak jarang yang menguasai lebih dari satu bahasa asing. Muaranya, lahirlah generasi yang menguasai bahasa yang beragam.

Keberagaman kompetensi dan kelancaran interaksi via media komunikasi menjadikan semuanya begitu mudah berbaur. Pembauran itu sering tidak terkontrol. Akibatnya, ketunggalan berpotensi untuk lahir. Ada upaya homogenisasi dan situasi yang heterogen.

Hal ini tidak fair karena sesuatu yang berbeda itu tidak harus dibuat sama. Justru, dalam perbedaan itu terkandung suatu keindahan dan harmonisasi.

Keberagaman ini sesungguhnya sangat indah. Diversity is beautiful.

Namun, keberagaman  harus diimbangi dengan awareness  dan pride.  Bahwa berbeda bukan berarti harus diseragamkan. Perbedaan itu menjadikan kita semakin kritis dan sadar karena di masing-masing ragam itu tersimpan keunikan dan local genius.

Loca genius ini menjadi potret betapa sesuatu yang berbeda bukan dijadikan alasan untuk semakin jauh. Justru perbedaan dapat menjadi pengikat untuk saling mengisi.

Keberagaman seyogyanya tidak menjadikan   ancaman atas yang lain. Justru keberagaman akan semakin memperkuat eksistensi masing-masing ragam. Semoga!

‘Tulisan ini sudah dimuat di Harian Singgalang, 17 Mei 2015′

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation