Sore hari sekitar pukul 3 di akhir pekan, di saat saya baru akan tertidur, saya mendengar nada panggil telepon seluler. Karena posisi telepon seluler yang tidak begitu jauh, suaranya langsung membuat saya tagalanjang. Saya segera meraihnya. Dalam pikiran saya, setiap telepon adalah penting. Jadi panggilan itu pantas untuk direspon.

Saya lihat, yang menelpon rupanya  mahasiswa saya. Karena sudah terburu terbangun, telepon itu pun saya angkat. Salam pertama yang saya ucapkan adalah Assalamualaikum. Tidak terdengar respon atas doa kebaikan yang saya ucapkan. Justru yang terdengar cerocosan permintaan agar  menerima dia pindah ke kelas saya akibat ditolak di kelas lain.

Dengan bijak saya coba arahkan  agar pembicaraan dilakukan face to face  dan di kampus saja. Harapannya adalah komunikasi face to face memiliki nilai tersendiri dibandingkan via media telepon genggam.

Mahasiswa ini tidak peduli, tetapi terus menyerocos dengan maunya. Akhirnya saya mengatakan bahwa penyebab dia ditolak masuk kelas lain adalah karena dia melanggar aturan yang sudah ada. Aturan itu pun berlaku sama di kelas saya. Artinya, dia tetap ditolak.

Dari nada suaranya terdengar mahasiswa ini agak marah. Supaya cerita tidak panjang, saya mengingatkan dia bahwa saya sedang aktifitas lain. Telepon ditutup oleh mahasiswa ini tanpa mengatakan apapun.

Saya mencoba untuk tersenyum sembari berpikir positif bahwa mungkin pulsanya habis sehingga telepon langsung terputus.

Dialog tadi itu mengingatkan saya pada ungkapan berbahasa Minangkabau Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baiak budi, nan murah baso. Ungkapan kedua adalah Kok bantuak ndak bisa dirubah, kok parangai bisa dirubah.

Ini adalah kalimat-kalimat bijak yang senantiasa diajarkan kedua orang tua semasa saya kecil. Ketika ada sesuatu hal yang dinilai tidak pantas terkait dengan attitude, orang tua saya selalu mengucapkan kalimat bijak ini.

Saya mencoba merenung, apakah kalimat bijak ini masih terpakai di zaman sekarang?

Ketika saya jemput kembali pengalaman sebagai seorang guru terkait dengan tingkah polah siswa saya yang sudah maha ‘mahal’ dan maha ‘amat atau yang teramat’ (KUBI, 2012) , saya menjadi sedih. Ungkapan ini sepertinya sudah lapuk. Tidak laku lagi. Tidak mungkin terpakai lagi.

Saya ujicobakan kepada mahasiswa saya di kelas dengan menanyakan maksud kalimat bijak ini. Sebagian besar mereka gagal menafsirkannya. Bahkan ada yang membelokkan nan murah baso menjadi nan murah maco (sejenis ikan kering).

Baso sebagai sebuah cerminan dan ciri  seorang Minangkabau dihargai mahal. Justru yang murah itu adalah ikan kering. Implikasinya adalah yang namanya basa basi itu jarang digunakan dan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang antik. Dengan demikian baso  hanya menjadi sebuah simbol yang dipandang-pandang tanpa perlu diterapkan.

Kalimat bijak Kok bantuak ndak bisa dirubah, kok parangai bisa dirubah pun  sepertinya sudah mengalami perubahan posisi. Kecanggihan teknologi membuat rupa yang dulunya dianggap kurang cantik bisa dimake up menjadi cantik layaknya seorang artis. Melalui operasi plastik, cipataan Allah bisa direkayasa sesuai keinginan kita.

Jika kalimat bijak di atas mengatakan parangai bisa dirubah sepertinya hanya tinggal kenangan. Justru fenomena yang terjadi sekarang, sangat sulit merubah perangai yang sudah melekat dalam diri seseorang. Contohnya seperti kasus di atas.

Dalam hubungannya  dengan etika, aturan dan norma menelepon itu ada. Apa yang diucapkan di awal/akhir  pembicaraan dan kapan waktu menelepon ada aturannya. Semua ini terkait dengan kesantunan. Misalnya, menelepon diawali dan diakhiri dengan salam. Menelepon sebaiknya dilihat waktu, tidak di waktu istirahat, seperti waktu tidur siang atau tengah malam di saat orang sudah tertidur lelap.

Sepertinya hal seperti ini sudah diajarkan kepada anak semenjak mereka duduk di tingkat sekolah dasar. Mata pelajaran  muatan lokal berupa Budaya Alam Minangkabau (BAM) menitikberatkan pada aspek-aspek yang terkait dengan Minangkabau dan yang gayut dengannya. Artinya, prinsip-prinsip yang terkait keminangkabauan sudah diberikan. Termasuk di dalamnya yang namanya boleh dan tidak boleh. Yang santun dan tidak santun.

Kesantunan merupakan hal-hal yang bertemali dengan norma dan dianggap berterima dalam suatu masyarakat. Kesantunan dapat meliputi cara berpakaian, cara menelepon, cara bertamu, atau cara berbahasa. Cara berbahasa yang santun disebut dengan kesantunan berbahasa (Revita, 2013).

Ketika berbahasa tidak lagi memenuhi aspek kesantunan, maka bahasa itu dikatakan tidak santun. Ada banyak hal yang memicu orang tidak santun dalam berbahasa. Salah satunya adalah teknologi.

Teknologi sesungguhnya diciptakan untuk membantu manusia. Mempermudah manusia dalam aktifitasnya. Sayangnya, kemajuan teknologi tidak diiiringi dengan benteng  kesantunan. Akibatnya, koridor-koridor etika dan norma yang sudah dibangun dan tersistem sedemikian rupa dari waktu ke waktu mulai tergerus dan dibobol.

Kepentingan individual mulai menggerogoti aspek estetis. Teknologi mempercepat habisnya nilai estetis ini. Ciri seorang Minangkabau raso, pareso, malu  jo sopan perlahan mulai ditinggalkan.

Silaturahim cukup dibangun melalui media telepon dengan kecanggihannya. Kunjungan dari rumah ke rumah di hari Lebaran cukup digantikan dengan e-mail atau SMS. Undangan pernikahan tidak lagi dilakukan dengan panggilan tapi cukup melalui telepon atau SMS.

Sampai kapan sistem ini akan bertahan? Sampai kapan filosofi masyarakat Minangkabau Adat basandi syarak, Syarak basandi Kitabullah mampu menahan lajunya teknologi?

Jawabannya berpulang kepada kita. Jika rantai sistem ini terputus, tidak ada regenerasi, tidak ada model, tidak ada contoh baik yang diberikan, umur yang namanya santun berbahasa tidak akan lama.

Tidak ada salahnya kita bersikap kepo untuk menanamkan nilai kesantunan berbahasa kepada anak-anak/generasi muda. Biarkan mereka ikut dengan laju kemajuan teknologi, tapi tidak hanyut. Jadikan teknologi ini sebagai media untuk mendidik mereka dengan nilai-nilai kebaikan. Menghindari mereka dari ketidaksantunan.

Belum terlambat. Masih ada   waktu untuk itu.

‘Tulisan ini sudah dimuat di Harian Singgalang 22 Maret 2015′

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation