Tidak jarang kita mendengar ketika seorang ibu berkata kepada anaknya,’ Rancak bana parangai kau kini yo. Alah pandai malawan ka induak. Yo, bantuak itu se lah taruih! Rancak tu mah!

Secara literal, apa yang dikatakan si ibu merupakan pujian atas perilaku si anak. Si ibu mengatakan bahwa perangai anaknya sangat bagus. Anaknya sudah pintar melawan kepada orang tua. Bahkan, pujian itu dipertegas dengan arahan agar si anak mempertahankan sikap tersebut karena dinilai bagus.

Bagi sebagian orang, tuturan di atas terdengar kontradiktif. Bagaimana mungkin seorang anak yang pelawan kepada orang tuanya dianggap bagus dan berperilaku baik. Bahkan pujian itu dilakukan berulang kali.

Bentuk-bentuk kebahasaan yang demikian disebut dengan bahasa paradoks. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (2003), paradoks artinya pernyataan yang seakan-akan berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

Jadi bahasa paradoks dimaknai sebagai bentuk kebahasaan yang secara literal bertentangan dengan kebenaran, tetapi sesungguhnya mengandung kebenaran itu sendiri.

Dalam ilmu bahasa atau linguistik, bahasa paradoks dinilai sebagai suatu cara untuk mengkomunikasikan suatu nilai. Salah satunya adalah nilai pendidikan.

Terkait dengan tuturan di atas, meskipun si ibu memuji tindakan anaknya yang tidak terpuji, ada nilai kearifan yang ditanamkan kepada anaknya. Kearifan memahami bahasa tersirat.

Kearifan memahami bahasa tersirat tidak dimiliki oleh semua orang. Meskipun ada budaya yang identik dengan hal tersebut. Contohnya adalah masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau identik dengan bahasa  yang arif. Hal ini terefleksi dalam ungkapan alun takilel lah takalam. Manggarik lauak dalam tabek, lah jaleh jantan jo batinonyo.

Ungkapan ini mengandung makna  yang sangat dalam. Budaya kearifan dan kebijaksanaan sudah diajrkan oleh si ibu melalui bahasa. Bahwa apa yang terlihat belum berarti itu yang nyata.

Implikasi lebih jauh lagi adalah dalam hidup ini tidak semua yang terlihat indah itu sesungguhnya indah. Bungkus cantik belum tentu isinya juga cantik. Sesuatu yang terlihat bagus  di luar belum tentu sebagus yang di dalam. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang buruk di luar belum tentu seburuk yang di dalamnya.

Dalam bahasa Inggris, ada sebuah ungkapan yang terkait dengan ini. Don’t judge people by its cover. Ungkapan ini diterjemahkan anak-anak muda dengan ‘Jangan lihat orang dari casingnya.

Pernah suatu kejadian, seorang anak yang dibesarkan oleh tantenya di Jakarta, pulang kampung ke Padang. Setelah makan, anak ini meninggalkan piring kotornya di meja makan. Selain karena kebiasaan, dia juga merasa adalah tugas pembantu merapikan meja makan yang kotor. Sementara ibunya menginginkan agar anak-anaknya tetap mengamalkan attitude seorang perempuan yang sesungguhnya.

Meskipun sudah ada pembantu, selesai makan, piring kotor harus diletakkan di tempat pencucian piring. Hal sederhana, tetapi bermakna dalam.

Setinggi apapun pendidikan seorang perempuan, kodrat bahwa dia akan menjadi ibu dan istri yang salah satu perannya adalah dalam hal kerumahtanggaan harus tetap ditanamkan.

Ketika melihat si anak langsung berdiri setelah makan, tanpa mengangkat piring kotornya, si ibu langsung berkata, ‘ Iya begitu. Anak perempuan kalau habis makan itu langsung berdiri dan nonton TV. Piring kotornya tidak perlu diletakkan di tempat cuci piring.’

Respon yang diberikan si anak adalah ‘Iya, Ma. Yang gituan kan kerjaannya pembantu.’

Si ibu hanya bisa geleng-geleng kepala karena ketidakpahaman anak atas maksudnya tersebut. Setelah diberi penjelasan maksud tuturannya, barulah si anak mengerti.  Alasan si anak adalah si ibu harusnya menyampaikan secara langsung. Tidak perlu memakai bahasa paradoks.

Meskipun dinilai tidak efektif dan tidak efisien oleh sebagian kalangan, khususnya generasi muda, bahasa paradoks sebenarnya adalah strategi yang cukup jitu untuk mengajarkan nilai-nilai edukatif. Bentuk bahasa paradoks ini relatif sudah jarang digunakan. Inilah yang menyebabkan ketidakpahaman sebagian generasi muda dengan bahasa seperti ini.

Revita (2006) mengatakan bahwa ketidakpahaman bahasa yang arif dan  bijaksana ini dipicu oleh beberapa faktor. Pertama adalah karena bentuk kebahasaan ini memang jarang digunakan. Artinya tidak ada regenerasi atas bahasa-bahasa paradoks. Bagaimana mungkin generasi muda bisa paham bila mereka jarang bahkan tidak pernah mendengar lingkungannya berbahasa demikian.

Sering kita lihat seorang yang seharusnya menjadi panutan malah berbahasa yang berisi umpatan.  Seorang pendidik yang notabenenya adalah yang patut ditiru tidak jarang mengkomunikasikan sesuatu dengan cara yang dinilai kasar. ‘Baa kok panjang rambuik wak. Bantuak baruak nampak dek ibu. Kok ndak wak karek, ibu botakan kapalo tu.

Pilihan-pilihan kata, salah satunya baruak ‘beruk’  tidak tepat diucapkan kepada seorang anak. Meskipun dia memang terlihat seperti beruk dengan rambut panjang. Hanya dalam konteks di atas, bahasanya sangat tidak mendidik. Kalau ada ungkapan guru kencing berdiri, murid kencing berlari bentuk kebahasaan yang keliru memiliki efek yang sangat besar ke depannya. Satu kesalahan yang dibuat pendidik, minimal dua kali lipat dari itu efek yang timbul.

Kedua, adanya anggapan bahasa paradoks tidak efektif dan efisien. Jika Yule (1996) mengatakan indirectness is risky and costly ‘Bahasa tidak langsung itu beresiko dan berharga mahal’, demikian pula dengan bahasa paradoks.

Bahasa paradoks berpotensi untuk tidak dapat ditangkap dengan baik oleh orang lain. Contohnya seperti yang di atas. Lain yang dimaksud si ibu, lain pula yang dilakukan si anak. Bahasa paradoks juga memerlukan kemampuan untuk menggunakannya. Tidak semua orang mampu berbahasa paradoks tersebut. Diperlukan kearifan dan kebijaksanaan dalam menentukan bahasa paradoks yang tepat.

Tingkat kesulitan memahami dan menggunakan bahasa paradoks membuat bentuk bahasa ini dinilai tidak pas digunakan dalam komunikasi. Akhirnya,  berbahasa to the point  menjadi pilihan. Dalam beberapa hal, bahasa seperti ini menjauh dari nilai budaya masyarakat tertentu, seperti Minangkabau. Masyarakat Minangkabau terkenal dengan bahasa metaforisnya. Bahasa yang tidak to the point. Bahasa yang tidak hantam kromo. Namun, bahasa yang mencerminkan ketenangan dan kehati-hatian. Tenang karena disampaikan secara tidak langsung. Hati-hati untuk menjaga agar orang lain tidak malu.

Sekarang, tidak ada salahnya kita mencoba menggunakan bahasa yang paradoks. Meskipun paradoks menurut pendapat sebagian orang sulit, tetapi kandungan nilai pendidikannya sangatlah dalam.

Bahasa paradoks sesungguhnya enak di dengar. Baik untuk orang lain maupun kita sendiri.  Dalam bahasa paradoks terkandung filosofis berbahasa yang dapat menjaga perasaan orang lain (Revita dalam Padang Ekspres, 3 Februari 2014). Berbahasa yang tidak talonsoang.

‘Tulisan ini sudah dimuat di Harian Padang Ekpres 16 Maret 2014′

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation