Istilah schismogenesis  berasal dari bahasa Yunani skhisma  yang berarti tergerus  dan genesis yang berarti diturunkan. Dengan demikian, schismogenesis dapat dimaknai sebagai peningkatan perubahan akibat perbedaan kelompok sosial atau individu.

Terminologi schismogenesis ini pertamakali diperkenalkan oleh seorang antropolog yang bernama Gregory Bateson, sekitar tahun 1930-an. Menurut Bateson, ada dua macam schismogenesis ini, yakni yang bersifat (1) komplementer dan (2) simetris.

Lahirnya schismogenesis dipicu oleh adanya interaksi masyarakat atau individu dari budaya yang berbeda. Ketika interaksi itu bersifat melengkapi, maka schismogenesis bersifat komplementer. Misalnya, ketika seorang Minangkabau yang biasa menyapa orang  dengan Pai kama tu, padahal maksudnya hanya sekedar sapaan dan tidak membutuhkan jawaban. Sapaan  itu tidak dijawab oleh orang yang disapa karena dalam budayanya sebuah sapaan cukup direspon dengan senyuman atau anggukan kepala.  Bentuk interaksi seperti ini dikatakan bersifat komplementer.

Biasanya, jika schismogenesis komplementer ini dipertahankan terus menerus, dapat memicu ketegangan antarmereka. Mereka menganggap tidak ada keselarasan dalam komunikasi karena masing-masing penutur bertahan dengan budaya berbahasa mereka.

Tidak jarang pula dalam komunikasi dikenal istilah resiprokal. Orang akan berbahasa sebagaimana kita berbahasa. Contohnya,  ketika dicemooh, seseorang tidak tinggal diam, dia akan membalasnya dengan cemooh lagi. Di saat cemooh ditingkatkan menjadi carut marut,  orang itu akan membalasnya dengan carut marut yang lebih menyakitkan.

Bentuk berbahasa seperti ini disebut dengan schismogenesis  simetris. Orang akan merespon bahasa kita sama dengan apa yang kita tuturkan. Ketika marah, seseorang mengatakan baruak ang mah. Mitra tutur membalas kemarahan ini dengan mengatakan anjiang waang. Artinya, terjadi balas membalas dengan cara yang sama. Bahkan, masing-masing akan meningkatkan strategi.

Analogi sederhananya adalah ketika dua kelompok bertanding sepakbola. Mereka diperlakukan dengan aturan yang sama. Masing-masing akan mencari trik untuk memasukkan bola ke gawang lawan masing-masing.

Schismogenesis adalah sebuah fakta sosial. Indonesia sebagai negara multikultural sangat berpotensi mengalami schismogenesis ini.

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu  kelompok yang berpotensi besar berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai budaya. Tradisi merantau membuat orang Minangkabau harus bertemu dengan masyarakat yang berbeda budaya.

Pertemuan ini tidak menjadikan masalah bagi orang Minangkabau karena mereka cenderung bersifat adaptif.  Sifat adapatif ini  disebut juga oleh Revita (2012) dengan tarik ulur.

Dalam bersikap dan berbahasa, kita harus mampu bertarik ulur. Tarik ulur ini menjadikan kita nyaman dalam sebuah interaksi. Wujud tarik ulur ini salah satunya adalah dalam pemilihan bahasa.

Tidak jarang kita bertemu orang yang suka melakukan alih kode atau code mixing dan campur kode atau code switching. Sering pula kita bertemu orang yang senang mengalihbahasakan sebuah kata dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Padahal kata itu memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Pernah suatu ketika, saya ditanya oleh seorang pejabat yang berlum terlalu tinggi eselonnya. Saat itu saya akan berangkat melakukan studi banding ke Kuala Lumpur. Ketika saya mengatakan studi banding dia langsung bertanya, studi banding atau studi komparatif. Saya hanya tertawa karena keduanya adalah sinonim.

Dengan percaya diri si pejabat ini mengatakan bahwa dia lebih senang menggunakan bahasa yang bercampur dengan istilah asing atau bernuansa bahasa asing. Karena memiliki kesan hebat dan elegant, begitu alasannya.

Rasa bangga berbahasa Indonesia yang baik dan benar mungkin mulai terkikis dalam jiwa pejabat itu. Tetapi ada satu penjelasan. Kadang-kadang, sikap seperti itu untuk diperlukan untuk menimbulkan pencitraan.

Bagaimana dengan schismogenesis?

Meskin berpotensi memicu konflik, schismogenesis diperlukan agar kita punya wajah. Agar kita punya warna. Tidak hondong aia hondong dadak. Kama angin kancang, ka situ awak maliauk.

Artinya, sikap schismogenesis, walau menggiring ke kesulitan dan masalah, sesungguhnya dalam konteks tertentu perlu dipertahankan.

Sebagaimana halnya kecintaan pada bahasa daerah, bahasa Minangkabau dengan aturan-aturannya yang tertuang dalam kato nan ampek tetap perlu dipertahankan.

Walau dunia sekarang sudah dunia digital, tetapi norma berbahasa dan berperilaku sebagaimana seorang Minangkabau seyogyanya tetap dijaga. Karena di situlah letak idealisme kita sebagai orang Minang.

Tidak sulit, kalau mau dicoba.

Selamat ber- schismogenesis.

“tulisan ini terbit di ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation