Nak, jagalah mulutmu disaat berbicara

Gunakanlah hatimu dikala akan berkata-kata

Karena mulutmu harimaumu yang akan merekah kepalamu

                                                   

Nak, katakanlah yang baik-baik

Tuturkanlah bahasa yang indah dan meyenangkan hati

Karena apa yang kita katakan adalah doa

 

Syair ini merupakan nasihat yang sering disampaikan oleh seorang ibu ketika memberikan pendidikan anaknya.

Ada dua catatan yang dapat diambil dari syair berisi nasihat ini. Catatan itu ada di kalimat terakhir setiap stanza. Pertama, mulutmu harimaumu yang akan merekah kepalamu. Ini merupakan sebuah ungkapan yang bermakna mulut dapat menjadi sumber celaka.

Mulut adalah alat ucap yang memproduksi kata-kata. Kata-kata yang  diproduksi inilah yang disebut dengan bahasa.

Bahasa dapat ditujukan kepada orang lain. Misalnya, saat berkomunikasi, ada yang menjadi mitra tutur atau pasangan tutur. Pasangan tutur ini akan bereaksi sesuai dengan apa yang dikatakan. Jika kita meminta, pasangan tutur akan memberi. Jika kita bertanya, pasangan tutur akan menjawab.

Namun, ada cara-cara dan strategi yang harus dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Salah satu strategi itu adalah berbahasa dengan sopan. Bahasa yang sopan artinya tidak  menyakiti orang lain. Rasa sakit di hati ini adalah jalan menuju ketidaksepahaman. Ketidaksepahaman yang bergerak menuju kesalahpahaman dapat menggiring kepada pertengkaran. Pertengkaran adalah cikal bakal putusnya hubungan baik. Jika hubungan baik sudah putus, maka lahirlah permusuhan.

Fase-fase ini dipicu oleh yang namanya mulut. Makanya, dikatakan berbahasa hendaklah dilakukan dengan hati dan hati-hati agar tidak menjadi bumerang atas diri sendiri. Agar bahasa itu tidak menjadi harimau yang akan mengoyak dan mencabik-cabik tubuh (muka) kita sendiri.

Catatan kedua dari syair di atas di stanza  kedua adalah apa yang kita katakan adalah doa. Doa adalah permintaan yang disampaikan kepada Allah Sang Pencipta. Permintaan itu biasanya disampaikan melalui doa. Doa itu salah satunya dilakukan melalui bentuk-bentuk kebahasaan di kala berkomunikasi atau berinteraksi.

Contohnya  ketika seorang ibu mendapati anaknya sedang berkelahi dengan temannya. Si ibu lagsung memarahi anak dan mengata-ngatainya dengan bahasa yang cenderung kasar. Anak kurang aja. Indak bautak. Mambuek malu urang gaek se ang mah. Co iko den manggadangan waang. Bakureh dari pagi sampai malam.

Si anak yang juga dengan emosi bisa bereaksi dengan hanya diam atau merespon tuturan-tuturan ibunya. Aden kan ndak do mamintak dilaian ka dunia ko. Manga amak maupek ka aden.

Singkatnya, cerita akan menjadi panjang karena hampir dipastikan kemarahan si ibu akan semakin memuncak. Kekerasan fisik tidak tertutup mungkin terjadi.

Jika ditelaah kata-kata  yang dilontarkan si ibu anak kurang aja  dan indak bautak,   ini merupakan sebuah pengharapan. Dikatakan demikian karena  apa yang dikatakan itu mengandung ekpektasi anak untuk kurang ajar dan tidak punya otak.

Secara psikologis, apa yang dikatakan, apalagi yang berkata adalah orang yang punya kekuatan dan kekuasaan memiliki efek sugesti cukup tinggi. Ada efek  dalam pilihan kata dan tuturan. Inilah yang disebut dengan hipnotis bahasa.

Hipnotis bahasa merupakan bentuk kebahasaan yang secara tidak sadar memiliki daya atau efek. Efek itu bisa positif atau negatif. Tergatung dari bentuk bahasa yang dipilih.

Kata-kata si ibu mengandung hipnotis negatif sehingga ketika dimarahi, anaknya bukan menjadi lebih baik, tetapi bisa menjadi lebih kurang ajar. Makanya, ketika berbahasa, apalagi bila itu disampaikan kepada anak, tidak ada salahnya menggunakan bahasa yang manis karena apa yang dikatakan adalah doa.

Contoh lainnya adalah ketika seorang anak tidak mau bersalaman dengan orang lain. Anak seperti ini tidak jarang dikomentari dengan bahasa yang kurang tepat. Bodoh wak namonyo tu. Ndak muah basalam.

Jika bahasa bodoh  ini sering-sering digunakan, tidak tertutup kemungkinan anak akan menjadi bodoh. Anak tidak akan pernah mau bersalaman degan siapapun. Ini bisa jadi merupakan reaksi atas apa yang dikatakan karena  selalu dijejali dengan label bodoh.

Untuk konteks di atas, ada bahasa konstruktif yang bisa dipilih yang sifatnya memotivasi dan menstimulasi anak. Wah, anak pintar, ayo salaman sama Tante. Kamu kan anak pintar, anak berani, anak hebat. Ada kosakata konstruktif anak pintar dan anak hebat di sana.

Jika kosakata kostruktif ini senantiasa dihembuskan kepada anak, si anak bisa menjadi yakin dan percaya diri bahwa dia memang hebat dan pintar. Itulah sebabnya, ada ungkapan ‘Ketika anak dibesarkan dengan kekasaran, dia akan menjadi penakut dan tidak percaya diri’. Dalam bahasa kasar dan ancaman itu ada sugesti destruktif.

Bahasa-bahasa seperti ini menunjukkan betapa apa yang dituturkan memiliki efek yang tidak main-main. Ada hipnotis dalam bentuk kebahasaan yang digunakan. Ada kekuatan yang terkandung di dalamnya. Kekuatan itu adalah doa. Doa kepada Sang Pencipta.

Dalam doa via bahasa ada campur tangan-Nya. Makanya, tidak salah jika kita memilih bahasa yang berisi doa kebaikan. Salah satunya menggunakan bahasa yang tidak seperti harimau yang akan mencabik tubuh kita. Kita menggunakan bahasa yang mengandung nilai-nilai konstruktif, bukannya destruktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation