Tulisan ini terinspirasi dari hasil diskusi saya dengan mahasiswa pascasarjana di Unand. Dalam diskusi itu, seorang mahasiswa bertanya terkait dengan pernyataan saya bahwa agar hidup ini tenang bila kita dapat mengikuti irama orang lain.

Analoginya adalah ketika orang menyanyikan lagu dangdut, goyangan kita hendaknya sesuai irama dangdut. Jika lagu yang dinyanyikan adalah keroncong, gerakannya cenderung lebih lambat. Demikian juga bila nyanyiannya adalah rock, gerakan kita juga mungkin harus menghentak seperti rocker. Sederhananya, kehidupan ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Saya juga memberi contoh lain, yakni bunglon. Binatang bunglon akan merubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungan terdekatnya. Jika lingkungan terdekatnya bewarna merah, kulitnya berubah jadi merah. Jika yang terdekat adalah biru, dia berubah menjadi biru. Jika  lingkungan terdekatnya colorful, kulit bunglon pun akan bewarna-warni.

Penjelasan ini memancing seorang mahasiswa dengan pertanyaan berupa kesimpulan bahwa kita adalah manusia tanpa sikap karena senantiasa berubah-rubah. Dikatakannya juga bahwa kita juga manusia bertopeng karena wajahnya tidak jelas dan tidak konsisten.

Istilah ‘manusia bertopeng’ kemudian menginspirasi saya untuk mengurainya dalam tulisan ini karena istilah yang sama pernah juga dilontarkan oleh mahasiswa pasca yang lain tetapi terkait dengan kesantunan berbahasa. Menurut mahasiswa ini, santun itu sama dengan munafik karena lain di mulut dan lain di hati.

Dikatakan mahasiswa ini, ketika orang memikirkan kesantunan, tidak jarang orang itu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Sesungguhnya orang itu menginginkan suatu barang, hanya karena takut dianggap tidak santun, dia mengatakanannya tidak mau. Artinya, ada ketidaksinkronan antara isi hati dan keinginan dengan apa yang diucapkan. Ketidaksinkronan ini disebut munafik, menurut mahasiswa ini.

Saya kemudian merespon statement  ini dengan menanyakan pemahamannya mengenai ungkapan berbahasa Minangkabau harimau dalam paruik, kambiang juo nan kalua. Dia segera menjawab bahwa ungkapan ini mempertegas kemunafikan dalam sebuah kesantunan.

Akhirnya saya mencoba menjelaskannya dari perspektif agama. Kebetulan saya pernah dikirimi oleh mahasiswa ini kalimat bijak yang lebih kurang mengatakan HEBAT adalah mereka yang mampu mengendalikan diri di saat marah, tenang saat dipermalukan, tersenyum saat diremehkan

Saat dipermalukan dan diremehkan biasanya orang akan marah. Di saat marah, banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri. Salah satu bentuk keHEBATan orang itu adalah dengan kemampuannya mengendalikan diri. Pengendalian diri merupakan wujud dari ketidaksinkronan isi hati dengan sikap.

Apakah itu munafik? Kembali saya lontarkan pertanyaan kepada mahasiswa ini?

Akhirnya, tanpa menjelaskan lebih jauh, mahasiswa ini pun menyadari kekeliruannya dalam mengambil kesimpulan, meskipun untuk beberapa hal, kesantunan ada yang menjadi bagian dari kemunafikan. Ini tergantung pada niat. Niat ini hanya diketahui oleh manusia pemilik hati dan pemilik manusia itu, ALLAH.

Dalam hubungannya dengan berbahasa, kata topeng dan munafik itu cenderung bersanding. Secara semantis, topeng merupakan sebuah alat untuk menutupi wajah. Semetara itu, munafik adalah perbuatan atau perkataan yang menutupi kebenaran. Kedua-duanya merupakan penutup atas suatu hal.

Dalam ilmu linguistik,   wajah tidak diartikan secara harfiah, meskipun secara pragmatis, kata wajah bertemali dengan bagian depan dari tubuh paling atas. Wajah di sini dimaknai sebagai harga diri atau self image.

Ketika berbahasa, seseorang idealnya harus memperhatikan wajah orang lain. Dikatakan demikian agar tatkala berkata-kata dan berbahasa, orang lain tidak akan tersinggung dengan apa yang dikatakan.  Mulutmu, harimaumu yang akan merekah kepalamu, demikian kata pepatah. Bahasa yang diproduksi lewat mulut dapat menghancurkan kita (Singgalang, 2014).

Kehancuran itu terjadi akibat bahasa yang dituturkan memicu rasa sakit hati orang lain. Hal ini berlanjut kepada munculnya kemarahan yang menggiring pada perseteruan. Muaranya adalah ketidakharmonisan sebuah hubungan. Jika hubungan sudah tidak harmonis, bibit-bibit petaka sudah mulai bersemi. Bila dibiarkan berlanjut, bibit ini akan tumbuh menjadi pohon yang kalau sudah berurat akar, sulit untuk dibenahi.

Betapa berbahayanya ‘bahasa’ yang dituturkan lewat alat ucap–mulut!

Bahasa seperti inilah  yang disebut dengan bahasa tanpa wajah.

Bagaimana mungkin bahasa itu tanpa wajah?

Apakah bahasa dapat terjadi tanpa wajah (wujud)?

Jawabnya adalah BISA.

Bahasa tanpa wajah dikatakan sebagai bahasa yang tidak memperhatikan dan mengabaikan perasaan dan harga diri orang lain. Bahasa seperti ini sering ditemukan dalam interaksi, baik secara lisan maupun tulisan.

Dalam tulisan saya Minggu lalu (Singgalang, 2015) jelas dikatakan bahwa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, bahasa tidak jarang digunakan secara bablas. Ekspresi kebablasan, demikian banyak orang menyebutnya. Bahasa ekspresif seperti ini merupakan salah satu wujud bahasa tanpa wajah.

Bahasa digunakan dengan mengabaikan raso   jo pareso. Tidak ada pengindahan bahwa orang lain akan tersakiti karena bahasa kita.

Dalam kesempatan kongkow dengan teman-teman sesama kuliah dulu, saya sempat menanyakan pandangan mereka mengenai bahasa tanpa wajah ini. Rupanya fenomena ini sifatnya sudah mengglobal, tidak hanya terjadi dalam masyarakat kita tetapi juga di belahan pulau lainnya.

Bahkan, seorang teman saya yang juga menjadi dosen di sebuah PT terkemuka di Indonesia mengeluhkan bagaimana anaknya dengan gampang bertutur menggunakan lu  dan gua saat berkomunikasi dengan dia. Konteksnya adalah pertuturan biasa yang kalau dialihbahasakan ke bahasa Minangkabau si anak menyebut (wa)ang  ke ayahnya dan (a)den ke dirinya.

Sungguh suatu fenomena yang ironis.

Ini perlu menjadi catatan dan perhatian bagi banyak pihak. Bahwa nilai-nilai dan norma kesantunan idealnya senantiasa diintegrasikan dalam banyak hal. Tidak hanya itu, diperlukan juga model yang pantas untuk ditiru. Jangan tungkek nan mambao rabah.

Ada contoh yang baik dari orang tua dan lingkungan yang diimitasi oleh anak-anak kita sehingga bahasa tanpa wajah dapat diminimalisir.  Ada panutan yang ditiru oleh anak-anak sehingga filosofi hidup sebagai orang Minangkabau dapat diregenerasikan. Tidak ada alasan bahwa sesuatu yang terkait dengan wajah orang lain dinilai basi atau kuno (Revita, 2006). Justru yang dianggap basi dan kuno itu harus tetap dipertahankan karena di dalamnya terkandung kebaikan, kearifan, dan kebijakan.

‘Tulisan ini sudah dimuat di Harian Singgalang, 3 Mei 2015′

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation