Suatu hari saya membaca sebuah email di milist dosen Unand yang berisi bagaimana perkalian dalam ilmu matematika mengandung filosofi yang sangat dalam. Filosofi itu dianalogikan dengan sebuah fakta benar dan salah sehingga tergambar perilaku dan attitude  manusia dalam menyikapi hidup.

Adapun dalam email itu itu dikatakan bahwa ada alasan yang jelas kenapa negatif (-) dikali negatif (-) hasilnya positif (+); negatif dikali positif (+) atau sebaliknya positif (+) dikali negatif (-) hasilnya negatif; dan positif (+) dikali positif (+) hasilnya positif (+).

Uraiannya sangat sederhana  dan saya meyakini itu benar. Dikatakan bahwa jika positif dianalogikan dengan BENAR dan negatif dengan SALAH maka SALAH x SALAH = BENAR; BENAR x SALAH atau SALAH x BENAR= SALAH; BENAR x BENAR = BENAR.

Apa maksud dari kata BENAR dan SALAH itu?

Di sinilah bahasa mulai bermain dengan dihubungkan  pada logika dan hati nurani.  Jika kita mengatakan SALAH untuk sesuatu yang SALAH, artinya kita sudah melakukan hal yang BENAR. Jika yang BENAR dikatakan SALAH atau sebaliknya yang SALAH dikatakan BENAR artinya kita melakukan sesuatu yang SALAH. Jelas sekali jika kita mengatakan sesuatu yang BENAR itu BENAR sebagai sebuah keBENARan.

Sekarang timbul pertanyaan. Apakah kita sudah melakukan ini semua?

Pertanyaan sederhana, tidak  sulit untuk dijawab tetapi sangat berat untuk diimplementasikan.

Adalah sebuah fakta sosial yang menunjukkan  banyaknya orang melawan realitas ini. Tidak jarang orang mengatakan ‘iya’ dalam ‘tidak’ atau ‘tidak’ dalam ‘iya’. Kadang-kadang, mereka sadar melakukannya. Tidak sedikit juga yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah mengkontraskan ‘iya dan tidak dalam satu ujaran dan dengan posisi yang berdekatan.

Contohnya ketika saya mengkonfirmasi mahasiswa yang  dilaporkan melakukan kecurangan dalam kelas, dia segera menjawab Iyo indak, Buk. Dalam ber-‘iya’ dia mengatakan ‘tidak’. Segera saya pertegas maksud jawabannya tersebut. Mahasiswa ini langsung gelagapan.

Mahasiswa ini terkesan berusaha menutupi perbuatannya yang tidak benar dengan mengatakan ‘tidak’. Namun, ‘tidak’nya itu didahului oleh ‘iya’. Artinya. Ada sesuatu yang kontradiktif dalam ujarannya.

Saya jadi tersenyum karena saya ingat konsep eufimisme dalam linguistik. Eufimisme merupakan salah satu bentuk kebahasaan dalam komunikasi yang tujuannya untuk menghaluskan. Yang dimaksud dengan menghaluskan bertemali degan kesopansantunan berbahasa. Dengan bereufimisme kita meminimalisir orang lain menjadi tersinggung dan marah akibat pilihan bahasa yang keliru atau kasar.

Lawan dari eufimisme adalah disfimisme. Dalam disfimisme, orang biasanya menggunakan bahasa yang kasar sehingga maksudnya jelas ditangkap. Bentuk disfimisme sering dipakai bila seseorang sedang dalam emosi. Kemarahannya ini tergambar dari pilihan kata-kata yang dinilai kasar.

Seiring berkembangnya waktu, konsep eufimisme dan disfimisme tidak lagi dapat sepenuhnya dipercayai. Manusia sebagai makhluk yang cerdas menyikapi diamika hidup dengan ‘mempermainkan’ bahasa. Mereka memainkan konsep yang SALAH dan BENAR melalui pilihan kebahasaan atau eufimisme .

Contohnya ketika seorang mantan petinggi di Indonesia mengatakan bahwa jika dia benar-benar melakukan tindakan korupsi satu rupiah saja, dia bersedia digantung di Monas (Monumen Nasional).

Secara umum masyarakat pasti akan ada yang beranggapan bahwa mantan petinggi ini adalah orang yang jujur karena dia tidak berani melakukan korupsi bahkan satu rupiah sekalipun. Buktinya dia berani mengatakan demikian. Faktanya adalah dia tetap ditahan  karena terbukti melakukan tindakan korupsi, tetapi tidak satu rupiah, miliaran rupiah.

Penggunaan bahasa yang halus terkesan membodohi mereka yang tidak paham konteks. Di mata orang-orang yang tidak paham konteks, petinggi ini dianggap bersih dan jujur. Padahal realitanya tidak sesederhana itu.

Petinggi ini sudah mengatakan yang BENAR dengan cara yang SALAH. Artinya dia melakukan keSALAHan. Lewat bahasa, dia memainkan keBENARan. Lewat bahasa dia membangun pencitraan. Seperti yang saat ini banyak terjadi, pencitraan lewat tindakan yang terkesan menutupi keBENARan. Tindakan yang sesungguhnya SALAH tetapi dibungkus dengan pemBENARan.

Ini adalah sebuah fenomena. Yang BENAR  bisa dibuat jadi SALAH dan yang SALAH bisa dianggap BENAR. Semuanya kembali kepada manusia dan mental manusia itu. Jika mereka memiliki mental yang baik, seburuk apapun keBENARan itu, mereka akan tetap sampaikan BENAR dan semanis apa pun SALAH itu, tetap dikatakan SALAH.

Apakah kita mampu?

Why not?

Tidak sulit karena semuanya berpulang kepada diri kita sendiri. Hanya orang yang ‘bermental’ lah yang mampu melakukan ini. Hanya orang yang berkarakterlah yang tetap konsisten dengan hati dan perkataan.

Oleh karena itu, tidak heran jika pendidikan berkarakter selalu menjadi buah bibir dalam banyak kegiatan yang akan membuat negara kita, Indonesia, ini lebih baik. Pendidikan berkarakter ini dipercayai dapat melahirkan anak-anak dan generasi yang bermental. Bermental dalam berfikir, berlaku, dan bertindak sehingga yang BENAR tetap BENAR dan yang SALAH tetap SALAH.

Indak bacampua gomok jo lamak, cirik jo karaia’, demikian ungkapan dalam bahasa Minangkabau. Bagaimanapun  juga, yang namanya minyak tidak akan dapat bercampur dengan air. Tetap ada yang membatasi.  Tetap ada perbedaan.

Semoga! Amin!

“Terbit di Harian Singgalang, 1 Maret 2015′

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation