Ide tulisan ini muncul ketika saya menghadiri rapat jurusan. Dalam diskusi, salah seorang teman berpendapat dan memberi komentar atas sebuah fenomena. Di sanalah kemudian dia mengemukakan istilah amnesia kolektif ini.

Saya menjadi tergelitik dengan istilah itu karena amnesia kok kolektif.

Yang lazim terjadi adalah sesuatu dikatakan bersifat kolektif ketika terkait dengan materi atau non human. Misalnya pengiriman bahan yang dilakukan secara kolektif atau bersama.

Secara etimologis, kata kolektif berasal dari bahasa Inggris to collect. Jika dialihbahasakan to collect berarti mengumpulkan. Sementara itu amnesia merupakan suatu kekurangan dalam diri manusia yang menyebabkan dia menjadi pelupa.

Dengan demikian, amnesia kolektif dimaknai sebagai sifat pelupa yang dialami oleh sekelompok orang secara bersamaan. Amnesia kolektif ini merupakan hal yang unik dan dinilai belum berterima secara logis. Namun, amnesia kolektif ini terjadi dan bahkan dalam situasi sekarang sudah dianggap sebagai hal yang biasa.

 

Apa Fenomena Amnesia Kolektif?

Amnesia dikatakan kolektif jika terjadi pada dua atau lebih orang. Contohnya adalah ketika seseorang berada dalam suatu lingkungan kerja yang menuntut sistem kerja dulu baru dibayar.

Sistem seperti ini adalah biasa karena orang akan menerima upah atau gaji setelah dia bekerja. Dia akan menerima haknya setelah kewajiban dilaksanakan.

Jika sistem berjalan sedemikian rupa, semuanya berjalan mulus. Justru masalah muncul adalah ketika kewajiban sudah dilakukan, sedangkan hak belum dibayarkan. Hal ini tentu akan memicu konflik.

Disaat konflik ini muncul, pimpinan yang arif akan mengambil kebijakan yang kadang-kadang berseberangan dengan aturan. Dasar kemanusiaan membuat pimpinan ini berani melanggar sistem. Namun, ketika situasi sudah aman terjadilah pemeriksaan. Ditemukan adanya pelanggaran. Pimpinan ini dianggap keluar dari sistem dan melanggar hukum. Akibatnya dia harus dijebloskan ke penjara.

Sebagian stafnya yang mengetahui alasan terjadinya ‘pelanggaran sistem’ ini berupaya melindungi pimpinannya dengan melakukan amnesia kolektif. Ketika dijadikan saksi, mereka sepakat menjawab pertanyaan hakim dengan ‘lupa’.

Apa yang dilakukan pegawai ini pada dasarnya untuk kebenaran. Mereka sepakat secara bersama untuk memberi jawaban’lupa’ atas sebuah iven. Merea melakukan tindakan amnesia secara kolektif untuk melindungi pimpinan yang dianggap bijak ini. Kebijakan untuk kemaslahatan pegawai di kantor.

Jika hal demikian terjadi, di sisi humanis dapat dikatakan berterima meskipun tidak di sisi lain.

Kasus terbaru adalah seperti yang dialami oleh calon penumpang sebuah maskapai penerbangan. Calon penumpang ini sudah menunaikan kewajiban mereka dengan membayar tiket seharga yang tertulis. Namun, hak mereka untuk diterbangkan tidak juga terpenuhi. Sekian belas jam mereka menunggu tanpa ada kabar berita dan kejelasan.

Yang menariknya adalah fenomena amnesia kolektif ini muncul. Tidak satu pun petugas dari pihak maskapai yang menjelaskan alasan kejadian. Mereka seakan-akan lupa bahwa ada beratus manusia yang menunggu hak mereka.

Lupa ini dialami oleh banyak pihak terkait dengan aktifitas  penerbangan ini.

Kenapa sampai terjadi demikian? Kenapa amnesianya kolektif?

Salah satu jawabannya adalah karena sistem. Sistem mengatur hanya ada pihak tertentu yang boleh menginformasikan kepada masyarakat. Sistem kadang-kadang membuat orang harus menggerus sisi nurani dan humanisnya.

Hal yang sama juga terjadi ketika salah seorang teman saya komplain karena harus melakukan suatu hal yang menurutnya tidak masuk akal. Dia coba berjuang menjelaskan ketidakmasukanakal itu. Namun, kembali sistem ‘menghukumnya’ dan terpaksa ikut dan berbuat sesuatu yang illogical menurut dia.

Mau keluar dari sistem, tuntutan ‘perut’ tidak bisa kompromi. Akhirnya, dia harus melogiskan apa yang terjadi meski dia menganggap itu sebagai sebuah ‘ketidaklurusan berjamaah’.

Itulah dunia. Itulah fakta.

 

Bagaimana dengan Dunia Berbahasa?

Fenomena amnesia ini juga terjadi dalam dunia berbahasa. Begitu seringnya didengar keluhan bahwa anak-anak Minangkabau sekarang sudah tidak mengerti lagi dengan nan ampek. Pendapat sebagian orang,  nan ampek itu sudah mengalami reduksi sehingga menjadi nan ciek.

Banyak generasi muda Minangkabau sekarang yang kurang memahami aturan berbahasa yang tertuang dalam kato nan ampek. Kato mandaki, manurun, dan malereang kini hanya tinggal kenangan karena yang tersisa tinggal kato mandata.

Nagari ini data saja. Tidak ada lurah dan tidak ada gunung. Begitu juga dengan berbahasa, tidak ada ada orang tua, anak-anak, dan orang yang dihormati. Semuanya sama besar.

Sawah ndak bapamatang demikian kata ungkapan. Pola berbahasa sudah menjauh dari filosofi masyarakat Minangkabau.

Apakah ini sebuah ketidaktahuan atau kelupaan?

Jika ketidakatahuan, rasanya tidak mungkin karena mereka dari sekolah dasar sudah dibekali dengan pendidikan formal mengenai budaya dan alam Minangkabau dalam mata pelajaran  muatan lokal BAM. Namun, bisa saja itu ketidaktahuan karena materi yang diberikan lebih banyak bersifat teoretis bukan praktis.

Berdasarkan hasil penelitian Revita (2006; 2010) kekurangpahaman konsep kato nan ampek  salah satunya dipicu oleh tidak diwarisinya nilai ini. Dengan kata lain, ada kecenderungan generasi ‘tua’ tidak mengajarkan dan memberi contoh bagaimana berbahasa dan bertutur yang berbasis kato nan ampek.

Yang ironis adalah jika hal ini terjadi karena lupa. Mereka tahu tapi pura-pura tidak tahu sehingga lahirlah sikap pura-pura lupa. Sikap pura-pura lupa ini lama kelamaan mendarah daging dan berimbas pada orang lain.

Akibatnya, dalam berbahasa, terjadi amnesia kolektif di kalangan generasi muda Minangkabau. Mereka lupa dengan rule of speaking-nya orang Minangkabau.

Ketika amnesia kolektif ini dibiarkan berlarut-larut, apa jadinya Minangkabau dan Bahasa Minangkabau di masa depan. Apakah orang Minangkabau akan kehilangan ciri khasnya sebagai urang awak  yang identik dengan kato nan ampek dalam bertutur. Apakah orang Minangkabau harus kehilangan Minangnya (Minangkabau – Minang = Kabau) sehingga tinggal……

Jawabannya kembali ke kita.

‘Terbit di Harian Singgalang 8 Maret 2015′

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation