Tidak sadarkah kita, kalau ternyata Allah SWT selalu mengingatkan kita ? mungkin banyak dari kita juga mengalami itu. Waktu kita lalai buat jamaah subuh karena kecapekan selesaikan tugas kuliah, dan sewaktu dengarkan radio ada yang baca hadist ini. “Barang siapa yang melakukan sholat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan sholat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan sholat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim).

Saat destinasi kaki hari ini jarang ke masjid, pas baca timeline sosial media, ada yang share ayat ini,  “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT ialah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Hari akhir, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah SWT, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Taubah: 18).

Waktu sedang  jaya,  kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu sedang  berkuasa,  kita percaya diri melakukan apa saja. Waktu sedang tak berdaya, barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati yang ada. Waktu sedang  jatuh,  kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang memperalat dan memanfaatkan kita. Waktu sedang sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting jauh melebihi harta. Manakala  miskin,  kita baru tahu jadi orang harus banyak memberi menderma dan saling membantu. Masuk  usia tua,  kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan Saat di ambang ajal,  kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia sia. Hidup tidaklah lama sudah saatnya kita bersama sama membuat hidup lebih berharga saling menghargai,  saling membantu, saling memberi, saling mendukung dan saling mencintai.Jadilah teman setia tanpa syarat. Tunjukkanlah bahwa kita masih mempunyai hati nurani yang tulus apa yang ditabur itulah yang akan dituai. Allah SWT tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan mentari selalu bersinar. Tapi ketahuilah bahwa Allah SWT selalu memberi pelangi di setiap badai. memberi senyum di setiap air mata. Memberi kasih sayang dan berkah disetiap cobaan dan jawaban di setiap doa. Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah,  Life is so beautiful and colourful. Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan sebuah perjalanan. Saudaraku, indahnya hidup bukan karena banyak orang mengenal kita, namun berapa banyak orang yang bahagia karena kita. Jangan pernah menjadi  “gunting” karena gunting bisa  memotong sesuatu menjadi terpisah,  jadilah jarum,  meskipun tajam tetapi bisa menyatukan apa yang sudah terpisah.

 

Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas. Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar. Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar. Seorang yang dekat dengan tuhan, bukan berarti tidak ada air mata. Seorang yang taat pada tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan. Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit. Biarlah tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik. Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan. Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan. Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan. Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati. Tetap semangat, tetap sabar. dan tetap tersenyum karena kamu sedang menimba ilmu di universitas kehidupa. Allah SWT menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “kebetulan” orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan mereka di bentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Subhanallah,semoga allah senantiasa membimbing kita dalam menghadapi rintangan dan cobaan-nya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang senantiasa bersabar dalam keadaan apapun.

Bertanya adalah kunci ilmu. Ali RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Ilmu itu laksana lemari (yang tertutup) rapat dan kunci pembukanya adalah pertanyaan. Oleh karena itu, bertanyalah kalian karena sesungguhnya dalam tanya jawab diturunkan empat macam pahala, yaitu untuk penanya, orang yang menjawab pertanyaan, para pendengar, dan orang yang mencintai mereka.” (HR Abu Naim).

Bagi penuntut ilmu, bertanya adalah strategi untuk meraih ilmu. Bagi pengajar, bertanya adalah metode untuk menyampaikan ilmu. Bagi penuntut ilmu, bertanya hendaknya dilandasi rasa ikhlas. Bukan dengan maksud untuk berdebat kusir atau menyombongkan diri karena ingin dianggap sebagai orang pandai.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh untuk menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi).

Senada dengan hal tersebut, Ibnul Qayyim berkata: “Jika Anda duduk bersama seorang ahli ilmu, maka bertanyalah untuk menuntut ilmu, bukan untuk melawan.” (Miftah Daris Saadah: 168). Itulah sebagian adab bertanya bagi para penuntut ilmu. Bagi pengajar, bertanya adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai.

Metode bertanya bisa digunakan untuk melatih kemampuan berpikir para penuntut ilmu. Rasulullah SAW biasa menggunakan pertanyaan untuk menyadarkan seseorang tentang suatu kebenaran melalui cara berpikir logis. Dalam beberapa kasus, Rasulullah SAW sering meminta si penanya mengulangi pertanyaannya agar beliau bisa menjawab pertanyaan dengan lengkap.

Mengajar yang baik adalah membuat pertanyaan yang baik pula. Rasulullah SAW bersabda, “Pertanyaan yang baik itu adalah sebagian dari ilmu.” (HR Ad Dailami). Peranan pertanyaan sangat penting dalam situasi pengajaran dan pembelajaran.

Strategi bertanya dapat efektif digunakan untuk beragam tujuan, seperti untuk mengetahui tingkat pemahaman ilmu, melibatkan murid dalam diskusi, menarik perhatian murid, menyediakan kesempatan untuk mengulangi materi ilmu yang sudah disajikan, serta mengembangkan keterampilan berpikir murid.

Bertanya adalah kunci untuk membuka tabir ilmu. Dengan bertanya, kita menjadi terlatih untuk berpikir. Dengan berpikir, itulah sebaik-baik cara menggunakan akal sebagai anugerah dari Allah SWT. Akhirnya, akal pula yang bisa membantu kita memahami hal esensial, untuk apa dan untuk siapa ilmu seharusnya dimanfaatkan. Wallahualam bishawab.

Bila engkau anggap shalat itu hanya sebagai penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.

Bila engkau anggap shalat hanya sebagai sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah SWT saat kau mengerjakannya.

Anggaplah shalat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.

Anggaplah shalat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah SWT.

Anggaplah shalat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah SWT.

Anggaplah shalat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.

Bayangkan ketika adzan berkumandang, tangan Allah SWT melambai kepadamu untuk mengajak kau lebih dekat denganNya.

Bayangkan ketika kau takbir, Allah SWT melihatmu, Allah SWT tersenyum untukmu dan Allah SWT bangga terhadapmu.

Bayangkanlah ketika rukuk, Allah SWT menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau merasakan damai dalam sentuhan-Nya.

Bayangkan ketika sujud, Allah SWT mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu Aku mencintaimu wahai hambaKu.

Bayangkan ketika kau duduk di antara dua sujud, Allah SWT berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu.

Bayangkan ketika kau memberi salam, Allah SWT menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.

Subhanallah sungguh nikmat shalat yang kita lakukan. Tidak akan sia-sia yang menyebarkannya, tidak akan rugi orang yang membacanya.

Beruntunglah  orang-orang yang mengamalkannya.

“Ibumu sarjana apa? “. Ibuku gelarnya adalah MSi : Master Segala ilmu. Tak terbayang bukan, menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar.

  1. Ibu harus belajar akuntansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, serta menata pemasukan dan pengeluaran yang seimbang.
  2. Ibu harus belajar ilmu tata boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga dengan kreatif, supaya tidak bosan.
  3. Ibu harus belajar ilmu keguruan. Ia harus menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah dasar, agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PR-nya.
  4. Ibu harus belajar agama, karena ibu-lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta iman yang kokoh.
  5. Ibu harus belajar ilmu gizi, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.
  6. Ibu harus belajar farmasi, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sedang sakit dan menyediakan obat-obatan ketika keadaan darurat.
  7. Ibu harus belajar keperawatan, karena beliaulah yang merawat anak/suami ketika sakit. Mengusap tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi dan mengganti kompres. Ibu adalah perawat yang handal.
  8. Ibu harus belajar ilmu kesehatan, agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk dan lain – lain.
  9. Ibu harus belajar psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik saat menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga sebagai teman curhat suami yang terbaik, ketika suami sedang mengalami masalah.
  10. Ibu juga bisa cari uang ( bekerja ).

Seandainya ibu harus kuliah dulu, butuh berapa lama ? bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas tadi. Begitu luar biasanya seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik dan  menemani anak-anak dan suami tercinta. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita……?

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat satu ibunya.”

Kepada Para Orangtua, Ujian anak Anda telah selesai.  Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya. Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika. Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra. Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tak akan berarti. Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika  di sekolah. Ada calon photografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini. Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat!  Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja: “tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian.” Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka. Lakukanlah ini, dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah tak akan mencabut impian dan bakat mereka. Mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Ketika orang berpikir bahwa elektron adalah sebuah partikel titik kecil yang padat dengan massa dan muatan tertentu, mereka tidak memahami fenomena quantum leap ( loncatan kuantum) yang dilakukan oleh elektron.  Apakah itu quantum leap ?  Bayangkan seorang melempar bola-bola tenis ke dinding secara berulang-ulang. Pengalaman inderawi kita tentu mengatakan, bola-bola tersebut tentu akan terpantul kembali. Kemungkinan lain, bila pelemparan tersebut teramat keras (dengan tenaga Pukulan Peremuk Tulang, Chinmi, Kungfu Boy atau dengan tenaga Tapak Budha, Sembilan Benua, Tapak Sakti) dinding akan jebol dan bola tenis dapat melewati dinding tersebut. Agak sulit dibayangkan dengan apa yang kita anggap sebagai “akal sehat”, bahwa bola dapat melewati dinding, sedangkan baik dinding maupun bola dalam keadaan utuh.  Mungkinkah ini terjadi ?  Mekanika klasik menjawab : tentu tidak. Namun, Fisika Modern khususnya Mekanika Kuantum, memberikan jawaban yang positif  terhadap pertanyaan ini. Dan inilah yang disini kita sebut dengan nama “Quantum Leaps “ . Dalam terminologi probabilistik, rumusan Erwin Schrodinger  ( yakni persamaan Schrondinger)  yang terkenal mengatakan bahwa “ probabilitas bola dapat menerobos dinding tanpa keduanya terluka tidak nol, walaupun teramat kecil “ . Adalah Ivar Giaever dan John Fisher yang mencoba untuk menyaksikan kebenaran quantum leaps ini dalam alam elektron. Agar diperoleh probabilitas yang tinggi, digunakan elektron yang kecil dan jumlahnya teramat banyak. Sedangkan yang merepresentasikan dinding dalam eksperimen mereka adalah lapisan isolator yang tebalnya tidak lebih dari 10 mm diantara di antara dua metal. Dan terbuktilah fenomena  quantum leaps.

Adalah hal yang menarik untuk dicatat bahwa baik Ivar  Giaever ataupun John Fisher bukanlah ahli fisika eksperimental yang sudah berpengalaman. DR Giaever adalah insinyur mesin yang bekerja di General Electric, yang kemudian tertarik untuk belajar fisika. Sebuah koran di Oslo menuliskan “ Master in billiards and bridge, almost flunkd physics-gets Nobel prize”, ketika DR. Giaever menerima hadiah nobel untuk penemuannya. DR Giaever sendiri menambahkan, ia tidak hanya jatuh cinta dalam fisika, pada saat kuliah, namun juga dalam matematika. Cerita Giaever ini bisa menjadi suatu model buat kita, bagaimana seseorang yang kuliahnya tersendat-sendat dan kurang mengerti fisika dapat memenangkan hadiah nobel, hanya karena pandangan optimisnya dan pengembangan naluri instink keingintahuan yang tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu. Keputusan yang diambil oleh Giaever saat mengambil Ph.D course dalam fisika pada usia tiga puluhan ternyata membawa hasil. Ia mengalami pula quantum leap,  menerobos jajaran teratas hirarki para fisikawan dunia dan menggondol nobel. Satu persoalan kecil buat kita, bagaimana proses terjadinya quantum leap,  sehingga ia benar-benar bisa menjadi kenyataan ? Dan apakah kita termasuk makhluk –makhluk yang beruntung mendapat anugerah quantum leap untuk mencapai prestasi kemanusian tertentu hingga kita bisa memberikan manfaat pada human kind dan humanity ? Ini adalah suatu pertanyaan penting yang mengawali filosofi Quatum dalam belajar yakni apa yang diperlukan oleh manusia, sebagaimana bagian-bagian alam lain yang telah mengalami quantum, agar dapat mengalami quantum dalam pengetahuan, kemampuan dan sikap hidupnya ?  Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar seseorang, setelah mengalami pendidikan yang mengaktualisasikan potensi dirinya  melakukan quantum, benar-benar dapat melakukan terobosan-terobosan dan loncatan-loncatan ke arah yang benar dan baik dalam lingkungan pekerjaannya ?

Pertama,  belajar dari elektron, semakin kecil sesuatu semakin mudah untuk melakukan terobosan quantum. Belajar dari DR. Giaever, semakin kecil “ego” seseorang dan semakin kecil “keyakinan” seseorang akan kehebatan dirinya, semakin besar kemungkinannya untuk mengalami quantum. Seseorang yang telah merasa cukup, merasa bahwa dirinya memiliki satu kelebihan ketimbang yang lain akan tertutup dari kemungkinan mengalami loncatan prestasi yang hakiki.

Kedua,  belajar dari penjelasan Richard Feynman tentang fenomena ketidakpastian Heissenberg yang telah dikutip diatas, pandangan bahwa elektron adalah titik partikel yang padat membuat kita bisa memahami fenomena kuantum, tapi bila kita memandang elektron dari awal sebagai suatu fenomena yang bukan titik partikel yang padat  kita akan bisa memahaminya dengan baik. Quantum bukanlah suatu ketidakpastian, ia menjadi ketidakpastian bila kita memandang sesuatu yang mengalami quantum sebagai suatu partikel yang padat dan masif. Bila kita memandang manusia (termasuk diri kita sendiri) hanya dari proses belajar representatif yang rasional, bila kita memandang manusia 100% hanya dari faktor-faktor material dan inderawi, sulit buat kita untuk mengharapkan terjadinya quantum  dalam diri kita. Manusia bukanlah suatu partikel yang padat dan pendiktean-pendiktean setiap saat. Namun, manusia adalah suatu gelombang kemungkinan untuk mencapai hal-hal tertinggi yang bisa dicapai oleh seluruh mahkluk. Suatu lingkungan diskusi yang aman dari celaan, suatu kebersamaan tim yang hangat, sikap-sikap yang memanusiakan manusia dan menghargai prestasi –prestasi individual maupun tim. Itulah syarat-syarat perlu terjadinya suatu loncatan quantum dalam kepribadian seseorang.

Ketiga,  belajar dari Peter F. Drucker tentang “knowledge societies”  dalam buku beliau “ The Post Capitalist Society “ , “ In The knowledge society people have to learn how to learn. Indeed, in the knowledge society subjects may matter less than the students, capacity to continue learning dan their motivation to do so”.  Filosofi quantum yang bisa kita ambil disini yakni  belajar, memang manusia harus belajar terus menerus dan memperbarui diri terus-menerus.  Dan itu adalah instink alamiah manusia, terus maju dan menyempurnakan diri. Mengambil istilah M. Sadruddin dari Shiraz yang dikenal dengan nama Mulla Sadra, seluruh alam maupun manusia selalu mengalami gerakan menyempurna terus-menerus. Adapun dalam gerakan penyempurnaan pengetahuannnya ia mengalami quantum, itu mungkin-mungkin saja. Bahkan, apabila seseorang kembali ke instink naluriahnya sebagai seorang realis yang mengharapkan kesempurnaan, anugerah quantum itu benar-benar akan terjadi.

Maka para pekerja quantum selalu belajar, belajar dan belajar. Selalu menghargai orang lain, menghargai dan menghargai. Selalu menghargai waktu dan menikmati proses belajar. Hingga anda benar-benar akan mengalami loncatan quantum

Sumber : Dimitri Mahayana, Menjemput Masa Depan,  PT  Remaja Rosdakarya,  1999

“Jadilah orang yang gembira. Jangan memikirkan kegagalan hari ini, tapi pikirkan sukses yang mungkin datang di hari esok. Anda bisa jadi mendapatkan tugas yang sulit, tapi anda akan sukses jika tekun dan gigih, dan merasakan kesenangan dalam mengatasi hambatan. Ingatlah, tidak ada hal yang sia-sia untuk meraih sesuatu yang indah” – Helen Keller

Perilaku dan kebiasaan yang kita tunjukkan sehari-hari akan menentukan ke mana kita akan berada nantinya. Orang yang selalu tertutup dan tidak pernah merasa gembira dalam hidupnya, maka ia adalah orang yang paling malang. Bukanlah mobil mewah, uang banyak, jabatan tinggi dan kecantikan yang membuat seseorang bahagia. Kebahagiaan, kegembiraan dan keceriaan, semua itu datang dari dalam diri dan hati kita masing-masing. Bersikap terbukalah pada orang lain, maka mereka akan lebih menghargai kita. Berpikirlah selalu positif, maka itu akan membuat kita menjadi lebih rileks dan jauh dari khawatir.Tebarkan senyuman dan ramah pada setiap orang, itu akan mencerminkan pribadi yang kita miliki.

Ada seorang perempuan yang merasa sangat kehilangan saat ditinggal mati suami yang sangat dicintainya. Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia memutuskan untuk mengawetkan mayat suaminya dan meletakkannya di dalam kamar. Setiap hari, dia menangisi suaminya yang telah menemaninya bertahun-tahun.Wanita itu merasa dengan kematian suaminya, maka tidak ada lagi makna dari hidup yang dijalaninya. Cerita tentang wanita itu terdengar oleh seorang pria bijak yang juga terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Didatanginya wanita tersebut dan dia mengatakan bisa menghidupkan kembali suaminya. Dengan syarat dia meminta disediakan beberapa bumbu dapur yang mana hampir setiap rumah memilikinya. Namun, ada syarat lain, bumbu dapur tersebut harus diminta dari rumah yang anggota keluarganya belum pernah ada yang meninggal dunia sama sekali. Mendengar hal itu, muncul semangat di hati sang wanita tersebut. Dia berkeliling ke semua tetangga dan berbagai penjuru tempat. Setiap rumah memiliki bumbu dapur yang diminta oleh si orang bijak, tapi setiap rumah mengaku pernah mengalami musibah ditinggal mati oleh kerabatnya. Entah itu orang tua, suami, nenek, kakek, adik, bahkan ada yang anaknya sudah meninggal. Waktu berjalan dan tidak ada satu pun rumah yang didatanginya bisa memenuhi syarat yang dibutuhkan. Hal ini menjadikan wanita tersebut sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang ditinggal mati oleh orang yang disayanginya. Akhirnya, dia kembali mendatangi si orang bijak dan menyatakan pasrah akan kematian suaminya. Hingga kemudian dia menguburkan mayat suaminya, dan menyadari bahwa semua orang pasti pernah mengalami masalah sebagaimana yang dihadapinya. Pesan dari kisah di atas adalah, jangan pernah menganggap bahwa masalah yang ada pada kita merupakan masalah yang paling besar, sehingga kita mengorbankan waktu hanya untuk terus meratapi musibah tersebut. Yakinlah, bahwa semua orang di dunia ini pernah mengalami musibah, apapun bentuknya.Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menghadapi dan menyikapi masalah yang ada pada dirinya.