Sukar dibayangkan apabila manusia tidak mengenal canda dalam hidupnya. Sebagai pelengkap interaksi sosial antar sesama kehadiran canda cukup penting. Canda itu merupakan instrumen pengerat tali persahabatan, penghilang kejenuhan, penghibur hati yang lara, dan penyemangar jiwa yang lesu. Karenanya, Islam juga menaruh perhatian terhadap permasalahan canda. Agama Islam mengatur bagaimana agar canda yang seharusnya manis tidak menjadi malapetaka bagi pelakunya, baik di dunia atau di akhirat. Canda yang dilakukan secara keliru bisa saja menjerumuskan seseorang kepada keliru bisa saja menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Oleh sebab itu, setiap muslim perlu mengetahui tuntutan syari’at dalam bercanda agar candanya dalam keseharian tidak keluar dari rambu-rambu yang dibenarkan, bahkan menjadi ibadah yang akan memberatkan timbangan amal diakhirat kelak.

Menirut Ibnu Hibban, canda ada dua macam : canda yang terpuji dan canda yang tercela.Canda yang terpuji yaitu canda yang tidak dikotori hal-hanl yang dibenci Allah, tidak mengarah kepada dosa, dan tidak menyebabkan terputusnya silaturahim. Sementara canda yang tercela yaitu canda yang dapat mengakibatkan permusuhan, menghilangkan kewibawaan, memutuskan persahabatan, serta membuat orang biasa bersikap lancang dan dengki kepada orang yang mulia. Namun tentu canda dan lelucon itu tidak dibebaskan begitu saja. Terdapat batasan dan ketentuan yang tidak boleh dilanģgar sehingga tidak menyalahi aturan dan ajaran agama. Diantara batasan itu adalah tidak mengolok-olok dan melecehkan agama dan syiar dan ajaranNya. Dari Abu Hurairah, dia berkata. “Para sahabat berkata kepada Rasullah SAW, “Ya Rasulullah, Engkau juga bercada dengan kami.” Maka Nabi bersabda,”. Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar”. (HR. Termizi)

2018.01.29 Pohon

2018.01.27 Dalai Lama

Gambar Dinding

  1. Kebodohan + Kemiskinan = Kejahatan
  2. Kebodohan + Kekayaan = Kerusakan
  3. Kebodohan + kebebasan = kekacauan
  4. Kebodohan + Kekuasaan = Sewenang-wenang
  5. Kebodohan + Agama = Terorisme

Gantilah kata kebodohan dengan pengetahuan (ilmu), lalu lihat apa yang diperbuat ilmu atas kebodohan  yaitu

  1. Ilmu + Kemiskinan = Qona’ah (merasa cukup, tetap bersyukur)
  2. Ilmu + Kekayaan = Penemuan, Inovasi
  3. Ilmu + Kebebasan = Kebahagiaan
  4. Ilmu + Kekuasaan = Keadilan
  5. Ilmu + Agama = Ketentraman

Ya Allah.. tambahkanlah ilmu kepadaku dan karuniakanlah pemahaman kepadaku.

Aamiin yaa robbal alamiin.

Waktu berlalu begitu pantas menipu kita yang terlena.Belum sempat berzikir di waktu pagi, hari sudah menjelang siang, Belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi. Niat pukul 9.00 pagi hendak solat Dhuha, tiba-tiba azan Zuhur sudah terdengar. Teringin setiap pagi membaca 1 juzuk Al-Quran, menambah hafalan satu hari satu ayat, itu pun tidak dilakukan. Rancangan untuk tidak akan melewatkan malam kecuali dengan tahajjud dan witir, walau pun hanya 3 rakaat, semua tinggal angan-angan.

Beginikah berterusannya nasib hidup menghabiskan umur berseronok dengan usia ?. Lalu tiba-tiba menjelmalah usia di angka 30, sebentar kemudian 40, tidak lama terasa menjadi 50 dan kemudian orang mula memanggil kita dengan panggilan “Tok Wan, Atuk, Nenek” menandakan kita sudah tua. Lalu sambil menunggu Sakaratul Maut tiba, diperlihatkan catatan amal yang kita pernah buat. Astaghfirullah, ternyata sedekah tidak seberapa dan infak cuma sekadarnya, mengajarkan ilmu juga tidak seberapa, silaturrahim kurang terjaga.Justeru, apakah roh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah dari pada tubuh ketika Sakaratul Maut ?.

Tambahkan usiaku ya Allah, aku memerlukan waktu untuk beramal sebelum Kau akhiri ajalku. Belum cukupkah kita menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun ?. Perlu berapa tahun lagikah untuk mengulang pagi, siang, petang dan malam hari, perlu berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar kita Bersedia dan SIAP untuk mati ?. Kita tidak pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala, maka 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang terlena.

 

 

Jika kita memang tak bisa merubah suramnya kisah masa lalu
Jika kita memang tak bisa memastikan baiknya masa depan
Maka
Kita punya hari ini untuk berbuat baik yang terbaik
Jika kita menengok ke belakang, ternyata dibayangi dengan masa lalu yang kelam
Jika kita menatap ke depan, ternyata diliputi dengan kecemasan dan ketidakpastian masa depan
Maka
Lihat-lah ke atas dan berdoalah
Sebab kita punya Allah Yang Maha Penyayang, yang sayangnya tiada berbilang
Zat yang mengijabah setiap pinta yang amat mustahil bila Ia menelantarkan hambaNya
Kita berdoa, semoga hari ini dan seterusnya
Kita dimudahkan dalam mengerjakan setiap kebaikan..
  1. Setiap orang pasti ada yang mencintai dan membecinya. Jika ini sebuah keniscayaan hendaknya seseorang bersama orang – orang yang taat kepada Allah SWT ( Imam Asy Syafi’i  Rahimahullah)
  2. Lindungi Diri Anda Dari Pikiran – Pikiran Anda Sendiri (Rumi)
  3. Jika hati  senantiasa berniat baik, Allah SWT akan pertemukan kita dengan hal yang  baik, orang-orang baik, tempat yang baik, atau setidaknya peluang dan  kesempatan untuk bisa berbuat baik. Maka isi hati kita dengan prasangka baik, harapan baik, keinginan  baik, dan tekad untuk menjadi lebih baik.”( Buya Hamka, ulama, aktivis dan sastrawan 1908-1981)

Buya Hamka menasehati kita semua tentang Dakwah dimana menurut beliau :

  1. Dakwah itu membina, bukan menghina.
  2. Dakwah itu mendidik, bukan membidik.
  3. Dakwah itu mengobati bukan melukai.
  4. Dakwah itu mengukuhkan bukan meruntuhkan.
  5. Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.
  6. Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.
  7. Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan.
  8. Dakwah itu mengajar, bukan menghajar.
  9. Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar.
  10. Dakwah itu menasehati, bukan mencaci maki.
  11. Dakwah itu merangkul, bukan memukul.
  12. Dakwah itu mengajak bersabar, bukan mengajak mencakar.
  13. Dakwah itu argumentatif, bukan provokatif.
  14. Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat.
  15. Dakwah itu realistis bukan fantastis.
  16. Dakwah itu mencerdaskan bukan membodohkan
  17. Dakwah itu menawarkan solusi bukan mengumbar janji.
  18. Dakwah itu berlomba dalam kebaikan bukan berlomba saling menjatuhkan.
  19. Dakwah itu menghadapi masyarakat bukan membelakangi masyarakat.
  20. Dakwah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru.
  21. Dakwah itu mengatasi keadaan bukan meratapi kenyataan.
  22. Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat.
  23. Dakwah itu menebar kebaikan bukan mengorek kesalahan.
  24. Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari – cari  aib dan menyebarkannya.
  25. Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran.
  26. Dakwah itu mendukung semua program kebaikan bukan memunculkan keraguan.
  27. Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis.
  28. Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat.
  29. Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah – belah barisan.
  30. Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran.
  31. Dakwah itu siap menghadapi musuh bukan selalu mencari musuh.
  32. Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan.
  33. Dakwah itu melawan kesesatan bukan mengutak-atik kebenaran.
  34. Dakwah itu asyik dalam kebersamaan bukan bangga dengan kesendirian.
  35. Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan.
  36. Dakwah itu kita mengatakan aku cinta kamu bukan aku benci kamu
  37. Dakwah itu kita mengatakan:  Mari bersama kami bukan kamu harus ikut kami.
  38. Dakwah itu dengan biaya sendiri bukan dibiayai/disponsori.
  39. Dakwah itu habis berapa ? bukan dapat berapa ?
  40. Dakwah itu memanggil mendatangi bukan dipanggil/panggilan.
  41. Dakwah itu saling islah bukan saling salah
  42. Dakwah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja bukan hanya di pengajian.
  43. Dakwah itu dengan cara nabi bukan dengan cara sendiri.

Buya Hamka (H. Abdul Malik Karim Amarullah)

 

Ibnu Abbas RA menjelaskan, ada 7 indikator kebahagiaan hidup di dunia, yaitu :

  1. Qolbun Syakirun (hati yang selalu bersyukur), artinya selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stres, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
  2. Al-Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang shaleh/shalihah. Pasangan hidup yang shaleh/shalihah akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah.
  3. Al-Auladul Abrar, yaitu anak yang berbakti. Do’a anak yg shaleh/shalihah kepada orang tuanya dijamin dikabulkan ALLAH SWT, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh / sholehah. Investasi abadi selamanya.
  4. Al-Biatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang shaleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.
  5. Al-Malul Halal, atau harta yang halal, bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup.
  6. Tafaquh Fid-Dien, atau semangat untuk memahami agama, dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
  7. Umur yang barokah, artinya umur yang semakin tua semakin shaleh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan sang pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yang barokah umurnya.