Category Archives: Renungan

  1. Bila hari ini belum dapat memberi kebahagiaan pada sesama, usahakan hari ini tidak menyakiti orang lain.
  2. Bila hari ini belum dapat melakukan amal sholeh, usahakan hari ini tidak melakukan dosa.
  3. Bila hari ini belum dapat berakhlak mulia, usahakan hari ini tidak menyimpan hati buruk pada sesama.
  4. Bila hari ini belum dapat menghargai orang lain, usahakan hari ini tidak memberi nilai berlebih pada diri sendiri.
  5. Bila hari ini belum dapat memberi manfaat, usahakan hari ini tidak memberi mudharat bagi sesama.
  6. Bila hari ini belum dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi orang lain, usahakan hari ini tidak melakukan kemarahan dan kebencian pada sesama.
  7. Bila hari ini belum dapat mengingat kebaikan orang, usahakan hari ini dapat melupakan keburukan orang lain.
  8. Bila hari ini belum dapat beramal dengan ikhlas, usahakan hari ini dapat membebaskan diri dari pujian orang lain.
  9. Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain.
  10. Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar- benar bernilai.

 

2018.04.13 Kunci Kebahagian

Sedih itu….

Ketika kita dibangunkan Allah SWT pada malam hari, namun diri lebih memilih nikmatnya tidur lagi daripada mengambil air wudhu lalu bersimpuh sujud hadapan-Nya.

Sedih itu….

Ketika kita sedang berkendaraan pribadi, lalu ada seruan untuk shalat di salah satu rumah Allah SWT,  namun diri lebih memilih melanjutkan perjalanan hingga shalat berjamaah terlewatkan.

Sedih itu….

Ketika kedua orang tua masih ada, kita kurang memperdulikannya. Ketika mereka telah tiada, baru menyesal sejadi-jadinya.

Sedih itu….

Ketika dititipi harta melimpah oleh-Nya, fakir miskin dilupakan. Ketika diri ditimpa kesempitan, baru berharap punya harta melimpah agar bisa bersedekah. Angan-angan semu.

Sedih itu….

Ketika sehat walafiat majelis ilmu dilalaikan. Ketika jatuh sakit baru berharap bisa ikut duduk menyimak kajian.

Sedih itu….

Ketika dapat pasangan hidup yang solehah sukanya dizalimi, hatinya disakiti, nafkah tidak diberi, bisanya hanya mencaci-maki. Setelah ditinggalkan pasangan, merengek minta kembali.

Sedih itu….

Ketika gelar akademik sudah sampai S1, S2 atau bahkan S3, namun sholat tidak diperhatikan, al-Quran di dalam lemari kaca dimusiumkan.

Sedih itu….

Ketika memilih calon pasangan hidup yang diprioritaskan adalah harta dan dunianya, tanpa melihat kepada agama dan akhlaknya.

Sedih itu….

Ketika kuat berlari kesana kemari berolahraga, namun hatinya mengeluh saat imam membaca surat al-A’laa.

Sedih itu….

Ketika dunia lebih diprioritaskan dari pada akhirat. Padahal, dunia fana, akhirat kekal abadi.

Sedih yang sesungguhnya itu adalah….

Ketika muda berfoya-foya, tua bergelimang dosa, akhirnya mati masuk neraka. Wa na’udzu billah min dzaalik.

Penawar kesedihan itu adalah….Dengan memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, yaitu:

  • Memanfaatkan waktu sehat sebelum datangnya sakit.
  • Memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua.
  • Memanfaatkan waktu luang sebelum datang kesibukan.
  • Memanfaatkan waktu kaya sebelum datang kefakiran, dan..
  • Memanfaatkan hidup sebelum ajal menjemput.

 

  1. Semakin bertambah usia semakin lemah tangan menggenggam karena Allah SWT sedang mendidik kita agar melepaskan cinta dunia. (Qs.Hud : 15-16)
  2. Semakin bertambah usia semakin kabur mata kita karena Allah SWT sedang mencerahkan mata hati untuk  melihat Akhirat. (Qs.Al Isra:72)
  3. Semakin bertambah usia semakin sensitif perasaan kita karena Allah SWT sedang mengajarkan bahwa pautan hati dengan makhluk senantiasa menghampakan namun hati yang berpaut kepada Allah SWT, tiada pernah mengecewakan. (Qs. Luqman : 22)
  4. Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-gigi kita….karena Allah SWT sedang mengingatkan bahwa suatu hari kita akan gugur kedalam tanah selamanya. (Qs.Ali Imran : 145)
  5. Semakin bertambah usia semakin ditarik nikmat kekuatan tulang dan sendi kita.karena Allah SWT sedang mengingatkan bahwa tak lama lagi Nyawanya akan di ambil. (Qs.An Nisa : 78)
  6. Semakin bertambah usia semakin putih rambut kita karena Allah SWT sedang ingatkan kain kafan yang putih. (Qs.Ali Imran : 185)
  7. Begitu juga hati kita semakin bertambah usia semakin sepi dan ingin bersendirian…karena Allah SWT sedang mendidik kita untuk melepaskan cinta manusia dan bersendirian dialam barzakh. (Qs.Al-An’am : 32)

Semua petinju profesional memiliki pelatih.Bahkan, petinju legendaris sehebat Mohammad Ali sekalipun memiliki pelatih yaitu angelo dundee yang membantu Ali menjadi juara dunia 3 kali. Padahal jika mereka berdua disuruh  bertanding sangat jelas Angelo Dundee tidak akan pernah menang. Mungkin kita bertanya – yanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas Ali pasti menang melawan pelatihnya ?

 Ketahuilah…

Bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat tapi karena Mohammad Ali membutuhkan seorang untuk melihat hal – hal yang “tidak dapat dilihat sendiri”. Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itu yang disebut : “Blind Spot” atau “Titik Buta”. Kita hanya bisa melihat “Blind Spot” dengan bantuan orang lain. Dalam hidup kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser. Kita butuh orang lain untuk

  • Menasihati
  • Mengingatkan
  • Menegur

Jika kita mulai melakukan sesuatu hal yang keliru yang mungkin tidak kita sadari dan kita butuh kerendahan hati untuk

  • Menerima kritikan
  • Menerima nasehat
  • Menerima teguran

Itulah yang justru menyelamatkan kita. Kita bukan manusia sempurna. Jadi, biarkan orang lain menjadi mata kita di area ‘Blind Spot’ kita, sehingga kita bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dengan pandangan kita sendiri.

Di zaman ini, sangat banyak godaan dunia sehingga sangat berat bagi sebagian orang untuk menyembunyikan amal baiknya. Apalagi setelah media sosial menjadi trend di masyarakat.. banyak sekali status yang berpotensi merusak pahala amal ibadah.   Sedang tahajud, tergoda untuk menulis status: “sungguh nikmatnya bermunajat di sepertiga malam terakhir “.

Ketika sedekah, tergoda dengan status: “hati menjadi trenyuh dan lembut saat menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa”.  Saat membaca Alquran, ingin tulis di beranda: “Terbukti setelah banyak membaca quran, hati menjadi sangat tenang”… “ramadhan ini penuh berkah, sudah khatam 3 kali!”.

Saat umroh, tergoda menulis, “semoga Allah  SWT terima ibadah umrohku yg sangat berkesan ini”… “hanya karena-Mu ya Allah, aku penuhi panggilanmu”. Saat sedang thowaf, ingin diabadikan dalam video. ketika shalat di depan ka’bah, minta dijepret, lalu disebar.. ketika berada di Madinah, narsis dengan gaya tangan berdoa.

  • Wahai saudaraku.. mengapa engkau lakukan itu semua.. tidak cukupkah pahala dan pujian dari Allah SWT sehingga engkau masih berharap pujian dari manusia.
  • Wahai saudaraku.. sungguh kasihan orang yang demikian adanya..cobalah engkau renungkan, berapa lama orang itu akan menikmati perbuatannya..paling hanya ketika ia masih hidup, karen setelah meninggal, tidak ada yang akan peduli lagi dengannya. bahkan bisa jadi ketika dia masih hidup, dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tindakannya itu atau bahkan akan menimbulkan hasad dan dengki orang lain terhadapnya.
  • Saudaraku… tinggalkanlah itu semua karena Allah SWT. Bukanlah Allah SWT sudah menyimpan detil-detil amalanmu dalam catatan yang aman dan terjaga ataukah engkau ingin nantinya tercantum juga dalam catatan itu bahwa engkau beramal sembari narsis, berpose, dan bergaya, karena mengharapkan pujian dari makhluk ?. Ingatlah selalu firman Allah SWT sebagai berikut “Kebaikan apapun yang kalian lakukan, maka sungguh Allah SWT mengetahuinya”. [Qs. Annisa': 127]

Semoga Allah menjaga amal ibadah kita dari riya dan sum’ah sehingga pahalanya terjaga dan bisa memuliakan kita di akherat nanti, Aamiin.

 

Menulis merupakan cara untuk memberi manfaat kepada banyak orang. Coba baca sejarah para ulama, di samping belajar, mereka banyak menulis kitab-kitab yang bermanfaat. Mereka melakukan semuanya dengan ikhlas, sehingga kitab-kitab yang mereka hasilkan bisa berumur panjang. Tangan mereka tidak lelah menulis. Abu Al-Muzhaffar, cucu Ibnu Al-Jauzi, pernah berkata, “Aku mendengar kakekku berkata di atas mimbar, sebelum meninggal dunia, ‘Aku menulis dua ribu jilid ini dengan jemariku.” Yahya bin Ma’in berkata,”Aku menulis ribuan hadits dengan tanganku.”

Benar kata penyair dan tiadalah seorang penulis itu, kecuali akan sirna .Tapi apa yang ditulis dengan tangannya akan kekal sepanjang masa Maka, jangan engkau menulis buku yang buruk. Di Hari Kiamat engkau pun melihatnya akibat buruknya Ada kalanya seorang penulis buku menulis buku untuk mengumbar syahwat, memuaskan hawa nafsu, menebar syuhbat dan menggoncangkan akidah; maka lembaran keburukannya didapat saban hari, setiap jam, menjelma tumpukan keburukan. Setiap kali ada yang membaca buku itu, mereka terjebak dalam keburukannya. Apalagi dengan buku ini sang penulis mendapatkan uang. “Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri. Dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah:79).

Kata-kata yang tertulis kadang bisa menoreh di hati daripada sebilah pedang. Karena itu, Habib bin Aus Ath-Thai berkata:”Pukulan seorang penulis dengan ujung jarinya, lebih mematahkan, daripada pedang yang tajam. Jika kau ingin memusuhi yang hasud, tumpahkan darah mereka dengan pena.”

Sukar dibayangkan apabila manusia tidak mengenal canda dalam hidupnya. Sebagai pelengkap interaksi sosial antar sesama kehadiran canda cukup penting. Canda itu merupakan instrumen pengerat tali persahabatan, penghilang kejenuhan, penghibur hati yang lara, dan penyemangar jiwa yang lesu. Karenanya, Islam juga menaruh perhatian terhadap permasalahan canda. Agama Islam mengatur bagaimana agar canda yang seharusnya manis tidak menjadi malapetaka bagi pelakunya, baik di dunia atau di akhirat. Canda yang dilakukan secara keliru bisa saja menjerumuskan seseorang kepada keliru bisa saja menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Oleh sebab itu, setiap muslim perlu mengetahui tuntutan syari’at dalam bercanda agar candanya dalam keseharian tidak keluar dari rambu-rambu yang dibenarkan, bahkan menjadi ibadah yang akan memberatkan timbangan amal diakhirat kelak.

Menirut Ibnu Hibban, canda ada dua macam : canda yang terpuji dan canda yang tercela.Canda yang terpuji yaitu canda yang tidak dikotori hal-hanl yang dibenci Allah, tidak mengarah kepada dosa, dan tidak menyebabkan terputusnya silaturahim. Sementara canda yang tercela yaitu canda yang dapat mengakibatkan permusuhan, menghilangkan kewibawaan, memutuskan persahabatan, serta membuat orang biasa bersikap lancang dan dengki kepada orang yang mulia. Namun tentu canda dan lelucon itu tidak dibebaskan begitu saja. Terdapat batasan dan ketentuan yang tidak boleh dilanģgar sehingga tidak menyalahi aturan dan ajaran agama. Diantara batasan itu adalah tidak mengolok-olok dan melecehkan agama dan syiar dan ajaranNya. Dari Abu Hurairah, dia berkata. “Para sahabat berkata kepada Rasullah SAW, “Ya Rasulullah, Engkau juga bercada dengan kami.” Maka Nabi bersabda,”. Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar”. (HR. Termizi)

2018.01.29 Pohon

2018.01.27 Dalai Lama