Category Archives: Kisah

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress. Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir.  Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal, cangkir-cangkir melamin dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh.. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin.

Sang dosen berkata, “Silahkan … masing-masing menuangkan kopinya sendiri”. Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa? Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress. Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain.

Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah. Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi. Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya …”. Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain. Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya. Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri. Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. (HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Albani)

Seorang bijak berpetuah,

“Alangkah anehnya kebanyakan manusia, Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang.

Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang. Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri. Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.

Maka, mari kita nikmati kopi kehidupan tersebut, apapun cangkirnyكُم. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Lihatlah orang yang ada di bawah dari kalian, jangan melihat yang ada di atas kalian, karena yang demikian lebih mendorong untuk tidak mengurangi nikmat Allah atasmu.”

 

Suatu sore di tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah – rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu jenggel milik tuan Roberto yang fanatik itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara ayat suci yang amat ia benci. “Hai … hentikan suara jelekmu! hentikan …!!!” teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi …. ? Laki – laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyunya. Roberto bertambah berang, algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih “Rabbi, wa-ana ‘abduka ..”. Tahanan lain yg menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “bersabarlah wahai ustadz … Insya Allah tempatmu di surga”. Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk…!! bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu…! aku tidak suka apa-apa yang berhubung dgn agamamu.

Sang Ustadz lalu berucap, “sungguh … aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yg amat kucintai, Allah Subhanahu Wa ta’ala … karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh”. Baru saja kata – kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengn wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yg telah lusuh, meluncur sebuah buku kecil. Adolf Roberto bermaksud memungutnya, namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki – laki  dungu !” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”, ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari – jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah … sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan ? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya -tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan – tulisan  ”aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yg telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yg dialaminya sewaktu masih kanak2. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak – kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yg mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia).

Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang – tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yg dikenakan berkibar2 di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup – hidup  pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang bocah laki – laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yg terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan – lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi.. ummi.. mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi …” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi … Abi … Abi …”. Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam. “Hai … siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi …” jawab sang bocah memohon belas kasih”. Hah … siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah …” sang bocah kembali menjawab dgn agak grogi. Tiba – tiba

“plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. “Hai bocah …! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yg bagus. Namamu sekarang Adolf Roberto … Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki – laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka. Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia

menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi … Abi … Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah kitab suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yg amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi … aku masih ingat alif, ba, ta, tsa …” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya. Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang  membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang  telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu …” Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata – kata , ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata – mata bukti kebesaran Allah SWT. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu “. Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir denganberbekal kalimah indah “Asyhadu an-laa Ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullulloh …’. Beliau pergi menemui Rabbnya dgn tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini. Kemudian Ahmad Izzah mendalami Islam dengan sungguh – sungguh hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah … “Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy” Benarlah firman Allah :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS:30:30)

Masya Allah….Semoga kisah ini dapat membuat hati kita luluh dengan hidayah Allah yang mudah-mudahan dapat masuk mengenai qolbu kita untuk tetap taat.

Saya beberapa kali bertemu dan belajar dengan para pengusaha-pengusaha yang omsetnya sudah milyaran perbulan bahkan perhari dan perusahaanya selalu mengalami kebanjiran order. Ketika saya belajar dengan mereka, saya sangat terkejut sekali ketika sudah membahas soal Markeing Langit.Ternyata para pengusaha tersebut yang omsetnya bisa milyaran per bulan, mereka bisa mendapatkan omset segitu karena mereka mempraktekan ilmu marketing langit terlebih dahulu sebelum mempraktekan ilmu marketing bumi. Apakah Anda sudah tau Marketing Langit itu apa ?
Marketing Langit itu adalah usaha-usaha yang kita lakukan selain dengan ilmu-ilmu dunia. Lalu Contoh dari marketing langit itu apa saja ?

  1. Ketaatan para istri kepada suaminya
  2. Melaksanakan Ibadah Solat wajib tepat waktu
  3. Melaksanakan ibadah solat sunnah (Dhuha & Tahajud)
  4. Sedekah Setiap Hari
  5. Berbakti kepada orang tua
  6. Bersilaturahim

Kebanyakan dari anda mungkin ada yang lebih memikirkan urusan marketing dunia daripada marketing langit saat ini. Sekarang coba anda renungkan sebenarnya anda berbisnis saat ini hanya untuk mengejar urusan dunia saja atau anda berbisnis untuk mengejar urusan akhirat. Jika anda dalam berbisnis hanya mengejar urusan dunia pantaslah anda mengalami hal-hal seperti ini

  1. Closing sedikit anda marah-marah
  2. Ketika anda berbisnis yang penting untung banyak, masalah produk bermanfaat atau tidak saya tidak mau tahu.
  3. Marah-marah di sosial media ketika di phpin customer
  4. Memaksa customer untuk cepat-cepat transfer dan beli produk yang kita jual
  5. Jengkel pada upline yang tidak bisa bimbing
  6. Jengkel pada member jika mereka tidak aktif
  7. Anda terobsesi pengen cepat kaya dalam waktu singkat sehingga dalam berbisnis anda tidak ingin tau ini bisnis atau haram
  8. Jika anda dalam berbisnis seperti itu naudzubilah, sesungguhnya urusan dunia itu hanyalah tipuan belaka dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang akan kekal.

Percayalah jika anda berbisnis hanya terobsesi dalam urusan uang dunia saja saja maka

  1. Sebanyak apapun anda mempunyai harta maka anda tidak akan pernah merasa cukup.
  2. Walaupun Anda mempunyai harta ratusan juta maka hatimu akan mengalami kegelisahan yang terus menerus seolah-olah hidup ini tidak ada artinya
  3. Anda akan semakin jauh dari pertolongan Allah SWT
  4. Anda akan semakin jauh dari apa yang yang diperintah Allah SWT dan Rasulnya.

Apalagi jika anda dalam berbisnis sudah mengabaikan urusan halal dan haram. Janganlah kamu berpikir bahwa cari uang yang haram saja susah apalagi yang halal. Sungguh cara berpikir orang demikian adalah cara berpikir orang-orang bodoh. Rejeki Allah SWT Itu luas dan rejeki yang halalpun masih banyak di dunia ini tapi kenapa anda masih mencari nafkah/harta dari jalur yang haram. Apakah Anda tidak kasihan dengan anak dan pasangan anda, mereka dikasih makan dari jalur yang haram. Jika anak anda di beri makan dari jalur yang haram, maka mau jadi apa nantinya anak anda ?. Jika anda dalam mencari rejeki dari jalur yang haram maka anda akan mengalami hal-hal seperti berikut

  1. Keluarga berantakan.
  2. Anak kurang ajar dan tidak mau menurut sama orang tuanya.
  3. Suasana rumah terasa seperti neraka dan merasa sudah tidak ada lagi ketenangan di rumah.
  4. Anda mencari kesenangan kesenangan dunia agar hati anda tenang tetapi justru yang didapat malah hati anda akan semakin gelisah.

Jika anda berbisnis sudah mengalami hal hal seperti ini maka segeralah bertaubat dan luruskan niat anda dalam berbisnis. Bukankah anda sudah sering mendengar perkataan seperti ini bisnis itu bukan masalah untung rugi tetapi masalah surga dan neraka.Memanglah demikian, berbisnis itu bisa mengakibatkan seseorang masuk surga dan bisa mengakibatkan seseorang masuk neraka. Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya susah menjadi sangat kaya raya. Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya kaya raya menjadi miskin sekali. Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya rajin beribadah menjadi lalai dalam beribadah. Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya lalai dalam beribadah setelah berbisnis justru malah semakin dekat dan rajin dalam beribadah. Kembali Lagi ke teknik marketing langit. Sebelum anda belajar marketing dunia sebaiknya anda perbaiki dulu marketing langitnya, agar apa ?

Agar percepatan bisnis anda meningkatkan jauh lebih cepat. Mulai sekarang coba hal – hal sebagai berikut

  1. Perbaiki Hubungan antara anda dan suami anda. Rejeki suami itu tergantung pada istrinya. Jika istrinya semakin soleha maka rejeki suami dan keluarganya akan di permudah. Berikut 9 ciri-ciri wanita yang akan membawa rezeki buat suaminya
    • Wanita yang taat pada Allah dan rasulNya.
    • Wanita yang taat pada suaminya.
    • Wanita yang melayani suaminya dengan baik.
    • Wanita yang berhias hanya untuk suaminya.
    • Jika ditinggal menjaga kehormatan dan harta suami
    • Wanita yang senantiasa meminta ridha suami atasnya
    • Wanita yang menerima pemberian suami dengan ikhlas
    • Wanita yang bisa menjadi partner meraih ridha Allah.
    • Wanita yang tak pernah putus doa untuk suaminya.
  2. Solat wajib dijalankan tepat waktu. Untuk perempuan lebih baik solat di rumah, jika ingin di masjid boleh asalkan dapat ijin dari suaminya. Untuk Laki-laki di wajibkan untuk di masjid secara berjamaah
  3. Melaksanakan ibadah solat sunnah ( Dhuha dan Tahajud). Kerjakan solat sunnah dhuha 6 rakaat dan solat tahajud 11 rokaat jika rejeki anda ingin di lancarkan. Jika anda ingin kaya dalam 40 hari lakukan solat sunnah ini dalam waktu 40 hari tanpa putus 1 hari pun.
  4. Sedekah Setiap Hari. Sedekah itu lebih baik sedikit tapi tiap hari daripada banyak tapi cuman sekali. Jauh lebih baik jika sedekahnya banyak dan tiap hari. Alhamdulilah saya pernah praktek ilmu sedekah ini hasilnya luar biasa.Dulu saya praktek sedekah 20% dari penghasilan setiap hari saya kehidupan saya jauh lebih baik. Tapi jika anda masih pemula saya sarankan rutinkans sedekah 1000 setiap hari, dan jangan sampai putus dalam waktu 40 hari.
  5. Berbakti kepada orang tua. Jika anda sampai detik ini masih punya kedua orang tua muliakan mereka. Terutama ibu. Ibumu itu keramat. Semakin kamu memuliakan ibumu, hidup anda akan jauh lebih baik daripada sekarang. Minta doa ke mereka agar urusan kehidupan anda selalu di permudah.
  6. Silaturahim.Mulai sekarang anda seringkan silaturahim ke orang-orang entah itu di dunia online atau offline tujuannya adalah menjalin rasa kekeluargaan. Jangan sampai anda silaturahim cuma pas ada butuhnya doang. Ingat,”Sebelum Anda Menjalankan Strategi Marketing Bumi, Anda Jalankan Dulu Strategi Marketing Langit” karena sebaik apapun rencana anda tidak akan bakal terwujud jika Allah SWT tidak meridhoi. “Dalam Hal Apapun Biasakan Menggunakan Prinsip : Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus” , karena semua yang ada di dunia ini sudah di atur sama Allah SWT. Anda minta mobil mintanya ke Allah SWT, Anda ingin umroh di bulan maret mintanya ke Allah SWT, Anda ingin banjir order mintanya ke Allah SWT Juga. “Bersuyukurlah Apa Yang Sudah Anda Miliki”. Sebelum anda menerima rejeki yang lebih banyak lagi lebih baik anda bersykur terlebih dahulu. Perbesar wadahnya, Dan Pantaskan diri terlebih dahulu jika anda ingin minta rejeki yang lebih banyak. Jangan sampai anda Lalai dari urusan akhirat karena urusan-urusan dunia. Sungguh urusan dunia itu menipu. Ada banyak ayat yang bercerita bahwa urusan akhirat jauh lebih baik daripada urusan dunia

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Semoga jadi jalan kebaikan. Aamiin…

Suatu hari seorang Raja mendapat hadiah 2 ekor anak burung elang. Lalu sang raja berpikir, akan bagus sekali jika elang ini dilatih untuk terbang tinggi.  Sang raja kemudian  memanggil pelatih burung yang tersohor di negerinya untuk melatih 2 elang ini. Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melapor ke sang raja dimana seekor elang telah terbang tinggi dan melayang di angkasa. Namun yang seekor lagi tidak beranjak dari pohonnya. Raja pun memanggil semua ahli hewan untuk memeriksa elang kesayangannya ini namun tidak ada yang berhasil menyembuhkan dan membuat elang ini terbang. Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi elang ini tidak kunjung bergerak dari dahannya. Kemudian sang raja bertemu dengan petani yang sangat mengenal akan sifat elang dan sang raja meminta bantuan petani itu. Keesokan harinya ketika sang raja mengunjungi elang ini, sang raja kaget melihat elang ini sudah terbang tinggi. Dengan penuh penasaran sang raja bertanya kepada petani, apa yang ia lakukan. Petani menjawab “saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya “. Dahan itu yang membuatnya selama ini nyaman sehingga malas untuk terbang. Kita dilahirkan sebagai pemenang, kita ditakdirkan untuk terbang tinggi, namun, ada yang memegang terlalu erat, yaitu  ketakutan, tidak ada yang mau melepaskan ketakutan itu dan tidak beranjak dari posisinya atau kadang kita terlalu memegang zona kenyamanan, hingga takut dan tidak mau melepaskannya.

Lepaskan segala ketakutan itu, lepaskan zona kenyamanan itu, kenali diri anda serta tumbuhkan kekuatan dan rasa percaya diri anda.  Maka anda akan terbang tinggi dan tanpa kita sadari, Allah SWT mengirimkan suatu keadaan, situasi dimana orang lain seperti teman/saudara/kekasih/orang tua untuk sesekali memotong dahan kenyamanan kita. Supaya iman dan kapasitas kita bertumbuh dan naik ke level yang lebih tinggi baik peringkat, penghargaan, penghasilan, kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Hidup ini 100% tanggung jawab anda. Kenali dirimu dan Potensimu karena Takdir kita adalah seorang  pemenang.

 

Disebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumahtangga. Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka. Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra : “Kenapa Bu?” Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pak”. “Ya sudah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.  Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya. “Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya”. Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang kerja, kaki yang telah mengantar anak-anak-ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”. Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….

Usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam : “Terima kasih ya Bu ”. “Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus. Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri …… “Bapak kok bicara begitu? .Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah sesuatu yang luar biasa. Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi. Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.”Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji’uun”, “Subhanallah…. sungguh akhir perjalanan hidup yang indah” demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ternyata dia telah tiada di akhir shalat Jum’at….

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan “Selamat Tinggal”…. Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak. Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.” Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata :
“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian…. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan.”Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

“Istri mu itu adalah ‘Bajumu’ dan Suami itu adalah ‘Bajumu’ pula”
QS Al-Baqarah : 187