Author Archives: Heru Dibyo Laksono

Sebelum subuh sudah berangkat ke kantor…,
Setelah isya baru kembali dari kantor…,
Dzuhur… terjepit waktu istirahat kantor…,
Ashar… pekerjaan banyak sekali  di kantor…,
Maghrib.. tanggung dijalan, perjalanan pulang dari kantor…,
Isya…masih capek, baru pulang dari kantor…,

Malam-malam ditelpon untuk datang ke kantor…. malah segera berangkat..!!

Disaat pensiun…
Hanya memiliki rumah sederhana.. bukan istana…
Mobil tua yg perawatannya pun mahal…
Uang pesangon yg sudah habis  atau uang pensiun hanya cukup untuk makan…

Walaupun bisa memiliki rumah lebih mewah, tubuh lemah dan sakit sudah tidak bisa menikmati indahnya rumah..Hari-hari hanya merasakan rasa sakit…

Puluhan tahun kerja banting tulang…
Setelah rumah, mobil dimiliki… hartapun habis untuk berobat..

Berat untuk sholat karena semua sendi sudah tidak kuat…
Ditambah masa muda sibuk kerja hingga tak terbiasa sholat…

Mati-matian membela kantor atas perintah atasan… Sampai-sampai malas ke masjid…

Tapi disaat tua.., lemah.., dan wafat…
Jasadpun meminta disholatkan di masjid..
dengan Ustadz sebagai Imamnya.., bukan anaknya yang menjadi Imam…

Mati-matian membela kantor…
Tak seorangpun mati disholatkan dikantor dengan atasannya sebagai Imam sholat jenazah…

Jadi…masihkah kita  mengutamakan kantor daripada masjid..?

Padahal.. Mesjid adalah tempat terakhir kita.. disholatkan.*

Semoga dpt menjadi bahan renungan………. bagi yang masih aktif  maupun sudah pensiunan.

Wallahualam Bishshawab…

 

  1. Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
  2. Jangan menunggu kaya, baru memberi, tapi memberilah, maka kamu semakin kaya.
  3. Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
  4. Jangan menunggu dipedulikan orang, baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.
  5. Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.
  6. Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
  7. Jangan menunggu proyek, baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.
  8. Jangan menunggu dicintai, baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.
  9. Jangan menunggu banyak uang, baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
  10. Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
  11. Jangan menunggu sukses, baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
  12. Jangan menunggu bisa, baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa.

 

Kenapa orang baik sering tersakiti  ?
Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam semesta kebahagiaannya, ia tidak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.

Kenapa orang baik sering tertipu?
Karena orang baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tidak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yg ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya

Kenapa orang baik sering di hina?
Karena orang baik tak pernah diberi kesempatan membela dirinya. Ia hanya harus menerima, meski bukan ia yang memulai perkara.

Kenapa orang baik sering meneteskan air mata?
Karena orang baik tidak ingin membagi kesedihan. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Allah SWT akan mengganti kesedihannya dengan kebahagiaan.

Tapi, Kenapa Orang Baik Tak Pernah Membenci Yang Melukainya?
Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas semua, Allah-lah hakikatnya. Jika Allah yang mengarahkan gerak gerik hidupnya, bagaimana ia akan mendebat kehendak-Nya. Itulah sebabnya orang orang baik tidak memiliki dendam dalam kehidupannya.

Semoga Allah terus memudahkan & menguatkan kita semua dan anak keturunan kita, menjadi orang orang yg baik. Yang terus tekun belajar berbagi kebaikan dan mencoba menyinari semesta disekitar walaupun baru mampu dengan cahaya yg kecil sekalipun. Aamiin

Semoga bermanfaat

Disebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumahtangga. Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka. Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra : “Kenapa Bu?” Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pak”. “Ya sudah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.  Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya. “Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya”. Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang kerja, kaki yang telah mengantar anak-anak-ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”. Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….

Usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam : “Terima kasih ya Bu ”. “Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus. Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri …… “Bapak kok bicara begitu? .Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah sesuatu yang luar biasa. Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi. Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.”Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji’uun”, “Subhanallah…. sungguh akhir perjalanan hidup yang indah” demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ternyata dia telah tiada di akhir shalat Jum’at….

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan “Selamat Tinggal”…. Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak. Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.” Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata :
“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian…. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan.”Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

“Istri mu itu adalah ‘Bajumu’ dan Suami itu adalah ‘Bajumu’ pula”
QS Al-Baqarah : 187

Saat kita memberi kita akan menerima. Saat kita menolong orang lain pada saat yang sama kita sedang menolong diri sendiri. Apa yang kita lakukan untuk orang lain sebenarnya kita sedang melakukan untuk diri kita sendiri. Inilah rahasia kehidupan yang tersembunyi bagi banyak orang bukan karena mereka tidak melihat kebenaran ini tapi karena tidak mempercayainya.

Αda ilustrasi menarik :

Seorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya dimalam hari. Tanggan kanannya memegang tongkat sementara tangan kirinya membawa lampu. Pemandangan ini cukup mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan melihatnya. Supaya tidak penasaran, pria itu bertanya,” mengapa anda berjalan membawa lampu ? “. Orang buta itu menjawab , “ sebagai penerangan “. Dengan heran pria itu bertanya lagi,” Tapi….. bukankan anda buta dan tetap tidak bisa melihat jalan meski ada lampu penerangan ?”. Orang buta itu tersenyum sambil menjawab ,” meski saya tidak bisa melihat, orang lain melihatnya. Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak menabrak saya”.

Disaat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri. Kita diingatkan untuk tidak jemu berbuat baik. Ini sebuah rahasia kehidupan untuk hidup yang penuh berkah, berkelimpahan dan bahagia. Meski demikian rahasia kehidupan ini tersembunyi bagi orang – orang yang melakukan sesuatu berdasarkan apa yang untung bagi dirinya sendiri. Apa yang  kita lakukan untuk orang lain,  suatu saat pasti akan kembali kepada kita.

Tujuh Sunnah Nabi Muhammad SAW yang selayaknya kita amalkan :

Pertama:
Tahajjud, karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya. Pastinya doa mudah termakbul dan menjadikan kita semakin dekat dengan Allah.

Kedua:
Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari, alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman. Paling tidak jika sesibuk apapun kita, bacalah walau beberapa ayat.

Ketiga:
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke mesjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat:
Jaga sholat dhuha, karena kunci rezeki terletak pada sholat dhuha. Yakinlah, manfaat sholat dhuha sangat dasyat dalam mendatangkan rezeki.

Kelima:
Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari. Percayalah, sedekah yang diberikan akan dibalas oleh Allah dengan berlipat  ganda.

Keenam:
Jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu sholat walau ia sedang tidak sholat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, “ampuni dosanya dan sayangilah dia yaa Allah”.

Ketujuh:
Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.Semoga kita dapat mengamalkannya setiap hari. Amiin

 

Imam Ghazali rahmatullah alaihi, pernah ditanya muridnya perihal bagaimana cara mengukur kepintaran seseorang … , beliau menjawab … ,”tak perlu bandingkan dirimu dengan orang lain … ,cukup bandingkan kepintaran dirimu dengan ayam jantan yang berkokok di pagi hari . Dan lihatlah siapa yang terlebih dahulu bangun untuk mengingat Rabbnya maka itulah yang lebih pintar … “. Beliau pun ditanya bagaimana cara awal untuk mencintai Allah … , beliaupun beri jawaban …. , “belajarlah mencintai Allah dengan mencintai rumah-Nya (masjid/surau) …  dan cintailah Rumah Allah melebihi cinta kita pada rumah kita sendiri … “

Setelah nafas terakhir putus, mau dikemanakan jasad kita ini? Mau diberikan kepada siapa?

Adakah yang mau terima, mau beli atau memperebutkannya?

Padahal…

Semasa hidup, Kitalah tuan dan orang yang paling berkuasa di rumah mewah kita.

Saat meninggal, Tak ada yg setuju kita disimpan, walaupun hanya di garasi di belakang rumah kita.

Semasa hidup, Tiap malam kita duduk bersantai di ruang tamu, sambil minum kopi, baca koran atau menyaksikan TV.

Saat meninggal, Tak ada yang bisa terima, walaupun hanya ditaruh diam di pojok paling ujung, tanpa kopi, koran atau acara TV di ruang keluarga.

Semasa hidup, Kita duduk gagah di kursi di kantor kita.

Saat meninggal, Tak ada yang setuju kita didudukkan di kursi manapun di kantor kita.

Semasa hidup, Kita bisa istirahat nyenyak sesuka kita di atas ranjang kamar pribadi bersama anak dan istri.

Saat meninggal, Seisi rumah keberatan jika kita dibaringkan, walaupun hanya di atas lantai kamar ini, sekalipun semua yang ada di kamar kita semua yang membelinya.

Semasa hidup, Setiap bepergian kita duduk dengan bangga di kursi belakang mobil mewah. Saat meninggal, Tak ada yang mengijinkan kita duduk, sekalipun hanya ditaruh di bagasi di belakang mobil.

Walaupun kita punya banyak rumah, villa, condominium, apartemen, namun kini tak ada satupun tempat yang dapat menerima kita.

Seminggu kemudian, badan ini akan membusuk

Satu – satunya tempat yang mau menerima kita adalah tanah di bumi ini.

Masih beranikah kita berkata dengan sombong, “ini milikku, ini wewenangku, ini kekuasaanku, ini punyaku” dll?…”

Renungkanlah..

Orang kaya, orang miskin mengakhiri hidupnya sama.

  1. Ilmu itu merupakan tempat persemaian setiap kemuliaan, maka taburkanlah kemulian dan anda harus berhati – hati jika tempat persemaian itu tidak melahirkan suatu kebanggan ( Imam Syafii)
  2. Ketahuilah bahwa ilmu itu tidak akan didapat dari seseorang yang cita – cita hidupnya hanya demi makanan dan pakaian. (Imam syafii)
  3. Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu maka cintailah mereka. Jika kau tidak mencintai mereka janganlah engkau membenci mereka ( Umar bin Abdul Aziz)
  4. Janganlah rumahmu kamu jadikan kandang, hanya roti dan air yang kamu sediakan. Sediakan pula buku-buku di rumahmu, sehingga apabila rohanimu haus dan lapar, rohanimu akan mendapatkan minuman dan makanannya (Ali Syariati)
  5. Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagian tak akan sirna dari dirinya (Ali bin Abi Thalib)
  6. Bodoh itu adalah mendengar tapi tidak mengerti (Imam Al – Ghazali)

Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah SWT, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika Kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti (Imam Syafii)