Menulis merupakan cara untuk memberi manfaat kepada banyak orang. Coba baca sejarah para ulama, di samping belajar, mereka banyak menulis kitab-kitab yang bermanfaat. Mereka melakukan semuanya dengan ikhlas, sehingga kitab-kitab yang mereka hasilkan bisa berumur panjang. Tangan mereka tidak lelah menulis. Abu Al-Muzhaffar, cucu Ibnu Al-Jauzi, pernah berkata, “Aku mendengar kakekku berkata di atas mimbar, sebelum meninggal dunia, ‘Aku menulis dua ribu jilid ini dengan jemariku.” Yahya bin Ma’in berkata,”Aku menulis ribuan hadits dengan tanganku.”

Benar kata penyair dan tiadalah seorang penulis itu, kecuali akan sirna .Tapi apa yang ditulis dengan tangannya akan kekal sepanjang masa Maka, jangan engkau menulis buku yang buruk. Di Hari Kiamat engkau pun melihatnya akibat buruknya Ada kalanya seorang penulis buku menulis buku untuk mengumbar syahwat, memuaskan hawa nafsu, menebar syuhbat dan menggoncangkan akidah; maka lembaran keburukannya didapat saban hari, setiap jam, menjelma tumpukan keburukan. Setiap kali ada yang membaca buku itu, mereka terjebak dalam keburukannya. Apalagi dengan buku ini sang penulis mendapatkan uang. “Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri. Dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah:79).

Kata-kata yang tertulis kadang bisa menoreh di hati daripada sebilah pedang. Karena itu, Habib bin Aus Ath-Thai berkata:”Pukulan seorang penulis dengan ujung jarinya, lebih mematahkan, daripada pedang yang tajam. Jika kau ingin memusuhi yang hasud, tumpahkan darah mereka dengan pena.”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation