Kalau di masa lalu kita belajar waktu adalah uang. Mulai saat ini kita  belajar  waktu  adalah  nafas dan waktu adàlah ibadah. Waktu adalah nafas yang setelah terlewat tidak akan bisa kembali. Waktu adalah ibadah karena setiap detik harus bernilai ibadah. Apapun aktivitasnya. Manusia sesungguhnya hanya pengendara di atas punggung usianya. Digulung hari demi hari, bulan dan tahun tanpa terasa. Nafas kita terus berjalan seiring jalannya waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian.

Sesungguhnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati. 1 hari berlalu, berarti 1 hari pula berkurang usia kita. Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya. Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita. Untuk itu, jangan biarkan hari ini  berlalu tanpa kebaikan yang bisa kita lakukan. Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua. Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat  mati tidak pula harus sakit. Teruslah berbuat baik dan berkata baik.

Walau tak banyak orang yang mengenali kebaikan kita, tapi kebaikan yang kita lakukan adalah kebahagiaan dimana perbuatan baik kita akan terus dikenang oleh mereka yang kelak kita tinggalkan. Jadilah seperti akar yang tidak terlihat, tapi tetap menyokong kehidupan. Jadilah seperti jantung yang tidak terlihat, tapi terus berdenyut setiap saat tanpa henti. Hingga membuat kita terus hidup, sampai batas waktunya untuk berhenti. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation