Monthly Archives: November 2016

You are browsing the site archives by month.

Diriwayatkan dari Abu Syuraih RA: Nabi SAW pernah bersabda, “Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman”. Seseorang lalu bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya” (HR Bukhari). Penjelasan: Adahal menarik dari redaksi hadis ini, Rasulullah SAW bersumpah sampai tiga kali dengan nama Allah dan vonis yang sangat keras “tidak beriman” tatkala beliau mengungkapkan esensi hidup bertetangga. Rasulullah SAW tidak pernah mengulang-ulang sebuah pernyataan, kecuali pernyatan tersebut menyangkut sesuatu yang penting. Dengan redaksi seperti ini tergambar bahwa hubungan bertetangga menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Sebagai perbandingan, Rasulullah SAW pernah mengulang-ulang larangan agar kita jangan marah.Adaseorang lelaki berkata pada Rasulullah SAW, “Berilah aku nasihat”. Beliau menjawab, “Jangan marah”. Maka pernyataan diulanginya sampai tiga kali (HR Bukhari). Marah adalah awal dari bencana dan dampak yang ditimbulkannya pun bisa berlipat-lipat. Karena pentingnya menjaga marah, maka Rasul pun mengulangnya sampai tiga kali.

Menurut Muhammad Abdurrazak Mahili kata “tetangga” dalam hadis ini dapat dinisbatkan pada empat kelompok orang. Pertama, orang yang serumah dengan kita. Kedua, orang yang bersebelahan dengan tempat tinggal kita. Ketiga, penghuni empat puluh rumah dari semua sisi yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Keempat, orang yang tinggal senegara dengan kita. Apa yang diungkapkan Abdurrazak Mahili hanya menyangkut hubungan secara orang perorang, padahal konteks hidup bertetangga bisa lebih luas lagi jangkauannya. Karena itu, berbicara tentang hidup bertetangga, hakikatnya berbicara pula kehidupan dua bangsa. Saat kita tidak menyukai tetangga yang selalu mencampuri kehidupan tetangga lainnya, maka ketika itu pula kita tidak menyukai sebuah negara yang selalu mencampuri urusan negara lainnya. Mengapa Rasulullah SAW mengajurkan umatnya untuk berbuat baik pada tetangga dan tidak menyakinya sedikit pun? Dalam Islam, akhlak mulia adalah kunci pertama dan utama. Ia adalah bukti keimanan yang harus terwujud dalam kehidupan seorang Muslim. Memuliakan tetangga adalah salah satu di antaranya.  Jadi, memuliakan tetangga adalah perwujudan keimanan dan sebentuk akhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus memuliakan tetangganya”. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa Jibril selalu memerintahkannya untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai beliau mengira para tetangga termasuk salah satu ahli waris.Adakisah pula tentang seorang wanita ahli ibadah, tapi ia divonis oleh Rasul sebagai ahli neraka. Apa sebabnya? Karena ia selalu menyakiti tetangganya. Keterangan-keterangan tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa kebaikan tidak sekadar dengan Allah (habluminallah), tapi harus mencakup pula hubungan dengan sesama; tetangga, dalam konteks ini. Karena itu, Rasul memerintahkan Abu Dzar (dan istrinya) agar saat memasak memperbanyak kuahnya sehingga tetangga dapat ikut merasakannya. Rasul pun menyatakan tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya meringis kelaparan. Selain bukti keimanan, memuliakan tetangga pun dapat melahirkan keharmonisan hidup di masyarakat. Dengan saling memuliakan antartetangga, tidak akan ada lagi permusuhan, kebencian, kesenjangan, egoisme, dan saling merendahkan. Dan, inilah landasan awal bagi terbangunnya sebuah peradaban yang besar. Wallahu a’lam bish-shawab. Sumber : www. republika.co.id

Mati adalah awal kehidupan. Hidup adalah pangkal kematian. Hidup dan mati, datang silih berganti, tidak ada yang kekal abadi. Itulah hukum alam yang hakiki. Oleh sebab itu, jangan takut mati, jangan mencari mati. Selama hidup, lebih baik bersegeralah perbanyak kebaikan, syukuri diri dalam keadaan apapun, dan tahu diri di manapun. Bebas, lepas, tidak terikat dan melekat, cerah ceria,berpikir optimis dan positif setiap saat, insya allah hidup senang, mati tenang.

Kisah Nyata…

Pagi itu seorang pria menjalani rutinitasnya seperti biasa. Sebagai seseorang yang mempunyai relasi luas dan sibuk, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca kolom pengumuman termasuk juga kolom berita kematian.Tiba-tiba matanya membaca sebuah berita, berita yang sangat mengejutkan dan membuat bulu kuduknya merinding. Ia sedang membaca berita kematiannya sendiri. Pria ini terhenyak, ia lalu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia masih hidup? Apakah saat ini ia ada di dunia atau di alam baka?. Saat ia menyadari bahwa ada sebuah kesalahan dalam berita ini, mungkin karena memiliki nama yang sama, pastilah redaksi koran ini telah melakukan kesalahan. Namun karena rasa penasaran ia pun melanjutkan membaca berita tersebut. Ia ingin tahu apa tanggapan orang mengenai dirinya. Dalam artikel itu ia disebut dengan panggilan ‘raja dinamit’ telah wafat. Pada bagian lain ia juga disebut sebagai ‘partner dewa kematian. Ia terkejut bukan kepalang, apakah seperti ini dirinya akan dikenang oleh orang-orang.Kejadian ini membuka pikirannya, ia lalu memutuskan bahwa ia tidak ingin dikenang seperti itu. Ia bertekad mulai saat itu juga ia akan berjuang demi kedamaian dan kemanusiaan. Begitulah akhirnya, pria yang bernama Alfred Nobel ini dengan tekadnya ia berusaha hingga pada akhirnya namanya diabadikan dalam hadiah perdamaian–yaitu Nobel Prizes. Bagaimana dengan anda seperti apa anda ingin dikenang oleh orang-orang yang anda tinggalkan. Warisan apa yang akan anda sumbangsihkan demi mashlahat umat banyak. Apakah orang-orang akan mengingat Anda dengan penuh cinta dan rasa hormat. Mari kita bersegera lakukan sebanyak kebaikan, mulai hari ini, detik ini, saat ini juga.

Semut apa bila bertemu makanan ia akan memberitahukan kepada teman nya , walau pun mereka tidak saling kenal. Apabila mereka berpapasan satu sama lain dia akan tegur sapa sejenak, kemudian akan memberitahukan disana ada makanan dan mereka bergotong royong mengangkatnya, tanpa ada yang  mengkoordinir, tetapi apabila semut tersakiti mereka juga menyerang bersama sama.

  1. Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang, yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah SWT. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah. (KH. Maimun Zubair)
  2. Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga. (KH. Maimun Zubair)

 

2016.11.25 Gambar shalat Jumat Terbesar

Dalam sebuah hubungan agar bisa berjalan dengan lancar dibutuhkan sebuah komitmen yang besar. Bukan sekedar sebuah pernyataan bahwa Anda menyukai hubungan ini dan ingin menjalaninya. Sangat mudah untuk berkomitmen dalam hubungan ketika hubungan itu berjalan lancar, menyenangkan, atau memabukkan. Namun ketika hubungan itu mulai menemui masalah, tantangan, ganjalan, tidak sedikit yang berucap, “aku serius dengan hubungan kita,sayangnya hubungan ini tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan.” Komitmen sejati dalam sebuah hubungan adalah ketika anda mau berkorban di dalamnya. Sangat mudah untuk meminta pasangan untuk berubah, namun apakah Anda bisa berubah juga ? Cobalah untuk berubah terlebih dahulu, lalu lihatlah bagaimana hal tersebut membawa perbedaan. Untuk membangun komitmen dalam sebuah hubungan diperlukan 3 hal yang sederhana namun tidak mudah dilakukan, yaitu: kerja keras, waktu, dan kejujuran.

Tidak baik jika kita menutupi kelemahan dan kegagalan dengan banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah kegagalan itu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga, agar bisa jadi pedoman dan tuntunan untuk mencapai kemajuan dan keberhasilan yang lebih berarti di kemudian hari. Kita tahu bahwa dunia ini selalu berputar. Adakalanya manusia ada dibawah, atau sebaliknya ada di atas. Ada orang bertanya kepada saya, bagaimana dengan kenyataan yang sering kita lihat begitu banyak orang-orang yang selalu di bawah ?. Bukankah mereka juga tinggal di bumi yang sama dengan orang-orang yang mampu dan kuat berada di atas? Sering kita lihat orang-orang yang sudah di atas malah semakin ke atas. Temanku, pandangan itu semua hanyalah ironi. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka yang sudah ada di atas. Kebanyakan di antara kita melihat mereka yang di atas selalu dari materi atau jabatan. Namun percayalah, setiap orang mengalami pasang surut. Belajarlah dari orang-orang yang sudah ada di atas, dan orang-orang yang berada di bawah. Jangan hanya melihat ke atas. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari keduanya, yang bisa engkau jadikan bekal untuk menjadi pribadi yang luhur bijaksana, sukses lahir dan batin. Pepatah mengatakan: Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika dia berdiri dan memberi perintah. Kebesaran seseorang akan terlihat ketika dia berdiri sama tinggi dengan orang lain, dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka untuk mencapai sukses – Prof. G. Arthur Keough. Janganlah suka cari alasan untuk menutupi kegagalan. Sebaliknya, carilah terus ‘cara’ untuk menggapai keberhasilan.

Suatu ketika Rasulullah SAW pernah menyatakan, dirinya ibarat kota ilmu, dan Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya. Mendengar pernyataan demikian, sekelompok orang tidak percaya. Sepuluh orang diantara mereka segera berkumpul, dan bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah itu. Mereka sepakat untuk mendatangi Ali secara bergantian. Orang pertama menemui Ali dan bertanya, manakah yang lebih utama, ilmu atau harta ?. Tentu yang lebih utama ilmu, jawab Ali tegas ilmu adalah warisan para nabi dan rasul  sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir`aun, Namrud dan lain – lain. Mendengar jawaban Ali, orang itu kemudian mohon diri. Orang kedua pun datang dan bertanya, manakah yang lebih utama ilmu atau harta ?, lebih utama ilmu karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta engkau yang harus menjaganya ujar Ali. Orang kedua itupun pergi. Orang ketiga datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya. Ali menjawab, harta lebih rendah dibandingkan ilmu. mengapa bisa demikian tuan ? tanya orang itu penasaran. sebab, orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh, sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak yang menyayangi dan menghormatinya. Orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali kemudian menjawab, ya , jelas lebih utama ilmu. apa yang menyebabkan demikian? tanya orang itu mendesak. Bila engkau pergunakan harta ia akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah.

Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disenangi. Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun Ali tetap saja mengemukakan alasan yang berbeda. Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan. Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, pemilik ilmu akan diberi syafa`at oleh Allah dihari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab. Kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang bertanya mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga, jawaban yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa ketiga orang itu bisa mencari kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang pandai diantara mereka. Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya. antara ilmu dan harta manakah yang lebih utama wahai Ali ?. Tentu lebih utama ilmu jawab Ali karena dalam waktu yang lama harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, akan abadi. Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. Seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi karena hartanya. sedangkan orang yang kaya ilmu akan dianggap intelektual jawab Ali. Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, Harta akan mengeraskan hatimu, sedangkan ilmu akan menyinari hatimu hingga menjadi terang dan tentram karenanya. Mereka akhirnya menyerah dan percaya apa yang dikatakan Rasulullah. Ali memang pantas mendapatkan julukan gerbang ilmu.

Sekalipun engkau hidup berlimpahan dan berkecukupan dana, tetaplah hidup dengan sederhana. Tidaklah sulit menciptakan sifat yang baik yaitu sikap rendah hati dan sederhana. Orang yang memiliki sikap rendah hati selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, tidak sombong, atau terlalu memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Tidak usahlah kita risaukan, jika orang lain tidak tahu apa yang kita miliki atau seberapa tinggi kemampuan kita melakukan segala sesuatu. Orang lain bisa menilai ‘kualitas seseorang’ hanya dengan melihat sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari yang kita lakukan. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menjaga diri kita sendiri. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menempatkan diri di posisi yang nyaman, tenang, damai dan tentram. Jika hati sudah merasa nyaman, damai dan tentram, maka secara otomatis Anda akan tampak bersahaja dan bahagia. Bukankah itu yang kita inginkan. Marilah kita bersikap rendah hati, dan membiasakan diri, untuk selalu hidup sederhana.

  1. Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yang gelap, maka terangilah aku dengan shalat tahajud
  2. Aku adalah tempat yang paling sempit maka luaskanlah aku dengan bersilaturrahim
  3. Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak membaca Al – Qur’an
  4. Aku adalah tempatnya binatang – binatang yang menjijikan maka racunilah ia dengan amal shadagoh.
  5. Aku yang menjepitmu hingga hancur bilamana tidak shalat maka bebaskan jepitan itu dengan shalat
  6. Aku adalah tempat untuk merendammu dengan cairan yang sangat amat sakit maka bebaskan rendaman itu dengan berpuasa
  7. Aku adalah tempat Munkar dan Nankir bertanya, maka persiapkanlah jawabanmu dengan perbanyak mengucapkan Kalimat “Lailahailallah”…