Plagiat: Antara mengutip dan citing

DSC_0081  Kasus plagiat di dunia non akademik yang dilakukan oleh seorang pemudi di media sosial baru-baru ini kembali menghangatkan lagi diskusi publik mengenai tindak pencurian ide tersebut. Publik pun dicengangkan oleh pernyataan seorang profesor terkenal yang seolah-olah membela si plagiator. Si profesor berpendapat bahwa “…plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme…” Pernyataan sang profesor tersebut sungguh telah mereduksi konsep dan nilai moral yang ada dalam konsep plagiat tersebut dalam tataran status formal saja, yaitu dunia akademik. Tindakan pereduksian nilai ini akan semakin membahayakan kualitas dan fungsi pendidikan formal yang dimiliki negara ini. Tulisan ini menjelaskan kembali konsep plagiat dan fungsi nilai moralnya di tengah masyarakat (non akademis) Indonesia.

Definisi dan teknis tindakan plagiat

Plagiat sebenarnya adalah istilah yang seharusnya sudah lazim dan wajib diketahui oleh anggota masyarakat yang pernah menjalani pendidikan akademik, termasuk pada tingkat SMP dan SMA. Dalam definisinya, plagiat menurut definisi KBBI daring adalah “pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan“. Konsep plagiat di Indonesia sebenarnya diambil dari konsep yang sudah lama berlaku umum di dunia barat sana. Dalam kamus daring Merriam-Webster, definisi plagiat itu mencakup tindakan: “to steal and pass of the ideas or words of another as one’s own” (mencuri dan melewatkan ide atau kata orang lain sebagai miliknya), “to use another’s production without crediting the source” (menggunakan hasil karya orang lain tanpa menjelaskan sumber asalnya), “to commit literary theft” (melakukan pencurian sastra), dan “to present as new and original an idea or product derived from an existing source” (menyajikan sebuah ide atau produk yang sudah ada sebelumnya dalam bentuk yang seolah-olah baru dan orisinil). Jadi jelaslah bahwa inti dari tindakan plagiat itu adalah pencurian ide dan penipuan dengan menggunakan ide orang lain bermoduskan pengaburan / penghilangan sumber aslinya.

Sebenarnya ada dua aktifitas teknis yang mesti dilakukan seseorang ketika meminjam ide dari sumber lain. Aktifitas pertama adalah ‘mengutip’ (bahasa Inggris: quote) ide itu sendiri, baik secara utuh (direct quote) maupun diedit / parafrase. Aktifitas kedua adalah memberi keterangan mengenai sumber ide tersebut, yang dalam bahasa Inggris direpresentasi dengan kata cite. Menurut kamus daring Meriam-Webster, arti ketiga dari kata cite itu adalah “to refer to: especially: to mention formally in commendation or praise” (merujuk kepada: khususnya: menyebut secara formal dalam bentuk puja dan puji). Jadi, cite bisa diartikan sebagai “tindakan menyebutkan dan mengacu kepada seseorang sebagai bentuk penghargaan (atas apa yang dihasilkannya)”. Secara teknis, seseorang dianggap sudah mencuri ide jika dia tidak menyebutkan atau tidak mengacu (cite) kepada sumber atau orang yang memiliki ide itu. Sayangnya konsep cite ini, sepanjang pengetahuan penulis, belum diadopsi dalam Bahasa Indonesia. Kalaupun ada, representasinya ditumpang-tindihkan dalam kata ‘mengutip’. Hal ini tentu akan membingungkan para guru ketika mengajarkan dua konsep yang berbeda ini. Meski kata ‘sitasi’ sudah mulai diadopsi sebagian kecil akademisi, namun sejauh ini bahasa nasional kita masih tidak memiliki padanan kata cite.

Mendeteksi tindak plagiat

Untuk membuktikan plagiat, prosedur yang paling mudah adalah dengan melihat kesamaan redaksi (struktur kalimat dan pilihan kata) dari dua tulisan yang dicurigai dan kelengkapan citation-nya (penyebutan sumber). Biasanya, seorang plagiator itu adalah orang yang malas menulis namun butuh mengeluarkan tulisan. Akhirnya, jalan pintas yang dipilihnya adalah menjiplak (copy-and-paste) tulisan orang lain. Hasilnya, rata-rata karya plagiat itu akan memiliki kemiripan yang sangat tinggi (diatas 70%) dengan sumbernya sehingga mendeteksi plagiat dalam kasus seperti ini amat mudah, cepat, dan akurat. Namun pun begitu, sebuah karya tulis yang kemiripannya diatas 50 persen tidak bisa serta merta dikategorikan plagiat kalau semua rujukannya disebutkan / di-sitasi. Meski sah, tulisan seperti itu hanya menjadi tidak berkualitas karena yang terlihat disana hanyalah ide orang lain, bukan ide sang penulis. Begitu juga sebaliknya, semua karya tulis yang memiliki kemiripan hanya 5 atau 10 persen saja bisa dianggap plagiat jika sumber kutipannya (yang 5-10% itu) tidak di-sitasi di dalam teks (in-text citation). Jadi, ada atau tidaknya plagiat tidak terletak pada kemiripan saja melainkan lebih dikarenakan ada atau tidaknya penyebutan sumber (citing).

Nilai moral dalam tindakan mengutip dan citing

Jika aksi meminjam ide (mengutip / quote) itu membawa konsekuensi pada kualitas argumentasi tulisan, maka aksi menyebutkan sumber acuan (cite / sitasi) membawa konsekuensi pada legalitas tulisan tersebut untuk diterima keabsahannya di kalangan pembaca, baik akademik maupun non akademik. Dalam tindakan mengutip terdapat nilai kerja keras dan bukti keahlian beretorika lewat tulisan. Dalam tindakan cite / sitasi, tercermin karakter jujur, rendah hati, dan menghargai karya orang lain. Meski latihannya banyak diterapkan secara formal di perguruan tinggi, konsep antiplagiat ini semesti malah harus diimplementasikan dan disebarluaskan di tengah masyarakat umum lewat guru TK sampai SMA, tidak boleh direduksi hanya dalam dunia perguruan tinggi saja. Jika dibatasi, itu artinya kita ingin menegaskan bahwa sifat jujur, kerja keras, dan menghargai karya orang lain lewat konsep anti plagiat itu hanya dimiliki oleh akademisi saja. Masyarakat awam tidak perlu memilikinya. Semua akademisi mesti membumi-hanguskan pikiran nyeleneh seperti ini, terlebih lagi elit akademisi seperti para profesor yang terhormat itu. Akademisi itu berasal dari rakyat dan mereka mesti berbuat sebaik-baiknya untuk memajukan rakyat baik dari segi keilmuan terlebih lagi dari sisi pembangunan karakter.

Hanafi, Ph.D

Dosen Jurusan Sastra Inggris Unand
ErHaD Lingua Senior Language Consultant

Cemooh dan Rendahnya Kemampuan Berbahasa Asing Urang Minang

Jika kita menoleh sejarah para tokoh Minang di masa lalu seperti H. Agus Salim, M. Hatta, Tan Malaka, dll, tentu kita akan ingat mereka juga sebagai Urang Minang yang bisa mengkomunikasikan ide dan pendapatnya ke dunia internasional melalui bahasa asing. H. Agus Salim sebagai contoh, menguasai tujuh bahasa asing secara aktif dan mampu meredam cemoohan orang-orang asing terhadap jenggotnya di forum PBB (yang menirukan suara kambing ketika beliau naik podium) dengan fasih menyuruh ‘kambing-kambing’ yang ada di forum manusia tersebut untuk dikeluarkan. Tindakan itu merupakan gabungan antara keterampilan berbahasa asing dan kecerdikan beliau akibat tempaan alam dan budaya Minangkabau. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah ranah Minang masih akan menghasilkan generasi cerdik pandai yang fasih berbahasa asing?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘cemooh’ didefinisikan sebagai “tindakan mengejek, menyindir, mengolok-olok, menertawakan untuk menghinakan”. Dengan demikian tindakan mencemooh seseorang bisa diartikan sebagai tindakan fisik dan psikologis yang bertujuan menghinakan seseorang berdasarkan ketidaksukaan terhadap orang tersebut. Sepintas, kelihatannya tindakan cemooh ini adalah hal sepele dan tidak perlu dibahas lebih jauh apalagi harus ditampilkan di media massa. Tapi benarkah ‘mencemooh’ adalah tindakan yang sepele?

Untuk membuktikan bahwa cemooh itu memberi efek merusak yang massal, mari kita lihat contoh kasus berikut.

Setelah diberitahu oleh dosennya bahwa menguasai keterampilan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris itu harus dilakukan secara aktif dan berkesinambungan dalam jangka waktu yang lama, dua mahasiswa, A dan B, membuat kesepakatan untuk berlatih menggunakan bahasa Inggris dimanapun mereka bertemu. Besoknya, mereka bertemu di kampus dan langsung cas cis cus praktek bahasa Inggris. Namun, teman-teman mereka memberi reaksi yang tidak mendukung. Bagi yang tidak begitu kenal dekat dengan mereka, akan melayangkan pandangan sinis dan raut wajah masam, serta akhirnya membuang muka. Bagi teman-teman yang kenal dengan mereka akan berkomentar: “wow, ado bule lokal disiko mah”, “hebat ang mangecek bule kini yo”, “oeh, makan roti jo keju ang tadi pagi yo”, dll. Akibatnya, si B yang kurang percaya diri mulai goyah dengan usahanya tersebut. Si A yang fokus dengan pencapaian dan resisten dengan tantangan tidak ambil peduli dan terus saja mengajak B untuk berbicara dalam bahasa Asing. Namun, akhirnya si B tidak tahan dan memutuskan tidak meneruskan usaha belajar tersebut dengan alasan “tidak enak dengan teman-teman”. Si A mengerti dan mencari teman praktek yang lain. Singkat cerita, begitu tamat kuliah, si B melamar ke perusahaan asing yang akhirnya menyatakan akan menerimanya dengan gaji awal 5 juta / bulan jika dia lulus tes bahasa Inggris aktif (berbicara). Tentu saja si B gagal karena kemampuan berbicara dalam bahasa asing tidak bisa dibangun dalam waktu semalam, seminggu atau sebulan, secara malas-malasan pula. Sementara si A, dengan kegigihannya berpraktek, diterima dan diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya bahkan sampai S3 di luar negeri.

Cerita diatas merupakan kisah yang barangkali sudah biasa dialami oleh orang Minang namun jarang disorot sebagai akibat fatal dari memandang enteng peristiwa budaya yang sepele. Sumbernya adalah dari resistensi Minangkabau yang homogen ketika berhadapan dengan yang berbau bahasa asing. Jika kita melihat kembali ke awal cerita, kedua mahasiswa itu sama-sama berniat kuat untuk berinvestasi demi masa depannya dengan menguasai bahasa Inggris namun hanya satu yang punya resistensi kepribadian yang kuat terhadap respon negative lingkungannya. Jika kita melebarkan pandangan ke, katakanlah, mahasiswa di kota Padang saat ini, berapakah mahasiswa yang setipe dengan si A? Saya berspekulasi jumlahnya barangkali 1 banding 100. Namun, yang 100 orang itu bukannya tidak memiliki niat yang sama dengan si A. Kalau ditanya mengenai pentingnya menguasai bahasa Inggris untuk masa depan mereka, saya yakin bahwa mereka 100% sangat ingin menguasainya. Tetapi, bagaimana mungkin mereka akan bersungguh belajar menguasainya jika dari awal saja mereka sudah mencemooh teman yang berkomitmen untuk belajar?

Disinilah sebetulnya titik kritis dari kemunduran mahasiswa di ranah Minang itu. Ketika usaha mencapai keterampilan berbahasa asing disikapi oleh kebanyakan mahasiswa dengan tatapan sinis dan cemoohan, mereka sebetulnya telah memperangkap dirinya dalam jebakan kemunduran. Karena setiap cemoohan yang dilontarkan kepada orang lain akan memberi efek ganda kepada diri sendiri, yaitu paranoia terhadap cemoohan serupa. Artinya, seseorang yang mencemooh orang lain biasanya akan ingat dengan cemoohannya dan akan selalu bertindak agar dia tidak mendapat cemoohan serupa dari orang lain. Jika hipotesa ini kita pakaikan ke kasus A & B tadi, maka teman-teman mereka yang mencemooh tadi juga tidak akan berpraktek bahasa Inggris karena tidak mau dicemooh balik. Hasilnya bisa ditebak, semuanya tidak akan bisa menguasai bahasa asing tersebut secara mantap, bahkan mungkin sama sekali. Bagaimana jika ternyata beberapa dari teman-teman A & B yang mencemooh tadi bernasib beruntung bekerja sebagai pengajar di sekolah atau PT. Bukan tidak mungkin mereka juga akan menularkan budaya cemooh ini secara lebih luas ke anak didik / mahasiswa mereka. Bukankah ini berarti kemunduran masal bagi orang Minangkabau itu sendiri?

Kalau dibandingkan dengan daerah lain, sikap cemooh memang lebih membudaya di ranah Minang. Jika kita perhatikan daerah atau kota-kota yang lebih heterogen, tidak terlihat budaya cemooh ini dilakukan terhadap orang-orang yang sedang belajar bahasa asing sehingga kemampuan berbahasa asing merupakan suatu kewajaran dan kelumrahan. Tapi coba tengok di ranah Minang, budaya cemooh sepertinya bahkan telah diinstitusionalkan. Beberapa koran harian Minangkabau memiliki kolom yang khusus mengomentari isu yang sedang hangat. Komentar-komentar singkat tersebut rata-rata tidak lebih dari sekedar cemoohan ketimbang nasehat atau saran konstruktif. Jelas ini bertentangan dengan ajaran Islam menjadi fondasi adat Minangkabau. Ajaran yang dimaksud adalah untuk berkata benar dan baik atau, jika tidak ada yang benar dan baik untuk dikatakan, memilih untuk diam. Sayangnya hal ini malah sepertinya dilanggar oleh media massa di tanah urang awak ini.

Masih dalam rangka memperingati hari guru, pengentasan budaya cemoohan ini juga harus menjadi agenda setiap guru, pengajar, dan pendidik. Jika seorang guru sudah terlanjur terjebak dengan budaya cemooh, tentu dia mesti berhenti meneruskan budaya negatif tersebut melalui anak didiknya dan memberi nasehat bahwa cemooh itu sama berbahayanya dengan merokok. Dia enak untuk dinikmati tetapi mematikan dan meracuni orang lain dalam usaha mencapai kemajuan. Jika kita ingin Ranah Minang menghasilkan generasi seperti H. Agus Salim, M. Hatta, dan Tan Malaka lagi, maka selain merubah perilaku sosial kita terhadap urang awak yang berlatih menggunakan bahasa asing, kita juga harus merobah pola pengajaran terhadap generasi muda sehingga mereka lebih  nyaman dalam usaha belajarnya tersebut.