Arsip Tag: marine spatial

Kawasan Konservasi Laut

Dalam membangun Kawasan Konservasi Laut (KKL), ada tiga hal yang harus dipertimbangkan:

1. Seberapa luaskah persentase yang harus dilindungi oleh suatu negara?

2. Dimana sajakah lokasi yang akan dipilih untuk dilindungi?

3. Seberapa besarkah luas masing-masing KKL itu?

Pertanyaan nomor 3 terlihat mirip dengan pertanyaan nomor 1. Tapi sebenarnya beda. Nomor 1 itu membahas tentang persentase atau proporsi total luas semua KKL jika dibandingkan dengan luas laut yang ada. Sedangkan nomor 3 itu, membahas seberapa luaskah untuk masing-masing KKL.

 

Peneliti dari University of Queensland, Dr. Nils Krueck, telah melakukan penelitian untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Krueck menjawabnya dengan menerbit tiga artikel ilmiah pada tahun 2017 ini. Satu artikel untuk masing-masing pertanyaan di atas.

 

Jawaban pertanyaan 1. http://journals.plos.org/plosbiology/article?id=10.1371/journal.pbio.2000537

Berdasarkan konvensi keanekaragaman hayati (Convention on Biological Diversity) di Aichi Jepang, hampir 200 negara sepakat untuk melindungi 10% daerah pesisir dan lautnya. Namun Krueck dkk menemukan berdasarkan analisis dari data pergerakan ikan, kelahiran, kematian serta hubungannya dengan kepadatan ikan, luas yang tepat untuk KKL agar terjaminnya keberlanjutan perikanan adalah 20-30%. Persentase ini bukanlah dari luas total laut, tapi dari luas lokasi yang selama ini telah dijadikan sebagai lokasi penangkapan ikan. Para peneliti ini menegaskan juga bahwa yang akan dijadikan KKL adalah daerah yang selama ini dijadikan lokasi penangkapan, bukan laut secara acak, atau daerah yang tidak dimanfaatkan oleh manusia.

 

Jawaban pertanyaan 2 http://onlinelibrary.wiley.com/wol1/doi/10.1002/eap.1495/full

Menentukan lokasi KKL tidak bisa sembarangan. Belum tentu lokasi yang bagus ikannya, bagus pula untuk dijadikan KKL. Contoh pertama, ketika lokasi itu memiliki ikan yang melimpah, tetapi berasal dari larva ikan di lokasi lain. Jika lokasi ini dindungi, sedangkan sumber larvanya tidak dilindungi, maka ikan di dalamnya akan menjadi punah. Contoh kedua, ketika sebuah lokasi itu sebagai penghasil larva ikan atau tempat memijah, namun semua larvanya keluar dibawa arus. Jika lokasi kedua ini dilindungi, sedangkan lokasi sekitarnya tidak, maka juga akan mengakibatkan kepunahan pada ikan tersebut. Contoh ketiga, ketika sebuah lokasi menghasilkan larva, dan larvanya tidak ada yang keluar dari lokasi tersebut, maka hal ini juga tidak bagus untuk dijadikan KKL. Karena jika lokasi ini dijadikan KKL, maka tidak ada kentungan bagi daerah sekitarnya. Nanti suatu saat ikan di daerah sekitarnya menjadi habis tidak ada penerusnya. Sehingga nelayan merugi. Lokasi yang ideal adalah, jika KKL itu bisa menjadi sumber larva bagi daerah sekitarnya. Sehingga larva itu tumbuh dewasa sampai bisa ditangkap oleh nelayan. Namun, tidak boleh semua larva ikan keluar, harus ada yang bertahan di dalam KKL sebagai generasi penerus.

Oleh karena itu, untuk menentukan daerah KKL yang tepat salah satu caranya adalah mempertimbangkan penyebaran larva ikan yaitu, nilai larva yang bertahan (larval retention), larva yang keluar (export), larva yang masuk (import), serta tingkat konektifitas antara suatu lokasi dengan lokasi lain (berhubungan dengan pergerakan arus laut yang akan membawa larva ikan). Krueck dkk mengembangkan sebuah perangkat lunak Dispersal Score, yaitu program yang akan mengolah variabel-variabel di atas, lalu menghasilkan data baru yang selanjutnya dianalisis dengan Marxan dan program GIS.

 

Jawaban pertanyaan 3 http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/conl.12415/full

Pada prinsipnya, ikan tidak akan mau tahu tentang batas laut bahkan batas negara sekalipun. Ikan akan berenang bebas sesuai dengan gaya hidup dan tingkah lakunya. Jika ukuran KKL terlalu kecil, maka ikan yang punya daerah jelajah yang luas, bisa saja tertangkap ketika berenang di luar KKL. Maka berdasarkan perhitungan Krueck dkk, untuk melindungi ikan-ikan yang penting dibutuhkan KKL yang memiliki minimal panjang 2-10 Km. Penelitian ini menggunakan data daerah jelajah, kepadatan, dan panjang maksimal tubuh ikan. Artikel penelitian ini masih hangat, baru saja diterbitkan dan malah belum masuk ke nomor dan volume edisi cetak. Versi finalnya dijanjikan akan disertai perangkat lunak program untuk menghitung lebar KKL minimal, untuk masing-masing jenis ikan.


##oleh-oleh dari MSP training workshop di University of Queensland