Prioritas Pemantauan dan Pengelolaan Habitat di Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB)

Oleh:

Adrial Ikhwan, Ana Neferia Zuhri, Elpe Bibas, Ferdi Andeska, & Sri Yuli Diana

Mahasiswa S2 Biologi Universitas Andalas

 

Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB) Universitas Andalas merupakan hutan hujan dataran rendah yang terletak pada ketinggian 250 – 450 mdpl dan memiliki luas ±150 ha. HPPB berbatasan dengan Sungai Limau Manis disebelah Selatan, Desa Batu Busuk disebelah Utara dan jajaran Bukit Rimbo Kamulau disebelah Timur. Secara umum HPPB tergolong hutan sekunder, terdiri dari daerah semak belukar dan alang-alang, bekas kebun dan ladang serta daerah hutan.

 

HPBB digunakan untuk kegiatan pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa. Namun karena keberadaan HPPB yang berbatasan dengan pedesaan dan aktivitas kampus menyebabkan masyarakat sekitar juga menggunakan HPPB untuk kegiatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kegiatan masyarakat umumnya kurang memperhatikan kondisi lingkungan disekitarnya, sehingga seringkali menyebabkan kerusakan habitat.

 

Untuk itu perlu dilakukan pemantauan dan pengelolaan habitat di HPPB untuk

menentukan usaha konservasinya. Pemantauan habitat meliputi faktor abiotik dan faktor biotik. Pemantauan faktor biotik kawasan HPPB difokuskan pada pemantauan satwa sebagai hewan kunci untuk pengelolaan. Hewan kunci sebagai prioritas pemantauan tersebut antara lain, ungko, harimau, tapir dan lainnya. Pemantaun habitat akan dilanjutkan dengan pengelolaan kawasan. Pengelolaan hutan HPPB meliputi beberapa aspek yaitu, pengelolaan habitat satwa, sarana prasana dan edukasi. Pengelolaan ini difokuskan untuk hewan kunci sebagai prioritas pengelolaan.

 

Menurut Dr. Rizaldi, Kepala HPPB Universitas Andalas menyatakan bahwa Ungko (Hylobates agilis) sebagai spesies prioritas yang dipantau di HPPB untuk menentukan pengelolan di HPPB. Secara ekologis ungko sangat berperan dalam penyebaran biji-bijian (disperser) karena mereka memakan buah-buahan. Keberadaan ungko di suatu kawasan hutan juga dapat dijadikan indikator kesehatan hutan, selain itu mobilitas ungko sangat tergantung kepada tajuk pohon yang saling berhubungan. Jika ungko sudah tidak ada lagi pada kawasan hutan maka dapat diindikasikan sebagai hutan yang sudah rusak. Dalam hal in menjadi penting dalam pemantauan ungko adalah home range dan jenis pakannya. Perubahan home range dan jenis pakan ungko akan mengindikasi kerusakan yang terjadi di HPPB.

 

Senada dengan Dr. Mairawita yang memberi saran terkait konsep pemantauan dan pengelolaan yang baik untuk HPPB berupa pengawasan penerapan regulasi hukum dalam penggunaan HPPB demi terjaganya ekosistem HPPB semestinya. Dan juga pembangunan sarana dan prasarana untuk menunjang pemantauan dan pengelolaanya, yang mana nanti HPPB dapat dijadikan Ekowisata

 

Hasil diskusi kami, agar pengelolaan HPPB dapat berkelanjutan dan memperoleh perhatian penuh dari banyak kalangan, maka perlunya di terapkan konsep ekoeduwisata. Sebelum penerapan konsep tersebut, wilayah HPPB perlu dibagi dalam bentuk zonasi dimana zonasi inti ditetapkan berdasarkan home range dari salah satu antara 4 kelompok Ungko yang terdapat di HPPB.

 

Dr. Wilson Novarino dalam wawancara juga mengatakan, perlunya konsep ekologis yang matang agar penerapan konservasi spesies di HPPB mampu mencakup keseluruhan perlindungan spesies.

 

Pengelolaan HPPB yang tepat dan monitoring habitat yang dilakukan secara berkelanjutan secara tidak langsung dapat menjaga kelestarian sumberdaya dan keragaman jenis spesies didalamnya. Upaya tersebut diperlukan keterlibatan banyak pihak dan perencanaan yang kongkrit berdasarkan hasil studi ilmiah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>