Arsip Bulanan: Januari 2018

Ide dan rencana pengembangan riset jangka panjang

1. BERANG-BERANG

Ini adalah tema penelitian inti saya, karena telah memberikan gelar S1, S2 dan S3. Berikut daftar tema riset yang muncul dipikiran saya, tapi tidak terbatas ini saja.

- status dan distribusi berang-berang di Indonesia

- daftar nama berang-berang di seluruh bahasa daerah

- status berang-berang di pulau-pulau kecil

- perdagangan berang-berang di internet

- konflik berang-berang dengan perikanan

- ekologi berang-berang (makanan, daerah jelajah, tingkah laku dan lain-lain)

- membuat buku teks berbahasa Indonesia tentang berang-berang

 

2. SATWA LIAR DI LINGKUNGAN MANUSIA

Kalau sebagian peneliti ada yang fokus dengan satwa liar di daerah yang memang alami, maka saya ingin juga fokus meneliti satwa liar yang memang berada di lingkungan manusia. Lingkungan atau habitat atau bentang alam yang memang dikontrol oleh manusia, seperti pertanian, sawah, pemukiman, daerah pertambangan, perkotaan, taman dan lain-lain. Saya memilih relung penelitian ini karena saya optimis dengan kemajuan negara Indonesia. Negara yang makmur yang memiliki pembangunan yang pesat namun tidak melupakan tentang kekayaan satwa yang ada.

- mendata apa saja satwa yang ada (inventarisasi)

- bagaimana dinamika ekologi yang terjadi di sana

- jenis baru yang bukan asli tempatan di lingkungan awalnya

- satwa terlindas di jalan raya

- satwa yang memanfaatkan bangunan manusia (seperti: rumah, kolong jembatan, gedung dll)

- mengembangkan lingkungan manusia yang ramah terhadap satwa liar, seperti membuat jalur satwa, rumah satwa dll.

- membuat buku “Ketika satwa liar nyaman di dunia manusia”

 

3. INFRASTRUKTUR DATA

Membangun pusat data keanekaragaman hayati. Pusat data yang bersifat terbuka bagi siapapun peneliti yang ingin mengakses dan mengolahnya. Hal ini bertujuan untuk mempercepat kebermanfaatan hasil penelitian. Misalnya saya mengumpulkan data tentang berang-berang, namun yang bisa terolah oleh saya cuma sedikit sekali. Setiap data penelitian, sebenarnya banyak sekali sisi yang bisa diolah. Kalau koin mata uang bisa dilihat dari dua sisi, maka data penelitian mungkin punya sisi ribuan. Setiap bidang ilmu bisa saja mengambil manfaat dari sisi mereka sendiri. Dari segi input datanya, saya juga ingin menggunakan metoda sains khalayak (citizen science), pengumpulan data melibatkan masyarakat umum dan kalayak ramai, prinsip gotong royong. Sebagai komitmen saya tentang keterbukaan data, saya berencana akan membuka data penelitian saya sejak S1 sampai S3. Saat ini saya sedang memikirkan bagaimana format dan caranya. Tunggu tanggal mainnya. Bahasan tentang infrastuktur data ini, saya mau buat buku berjudul “Berbagi data: Sebuah cara untuk mendapatkan data”

 

4. EKOLOGI DAN MATEMATIKA KOMPUTASI

Sebuah data butuh cara yang tepat untuk mengolahnya. Dengan menggunakan kemajuan sekarang ini, kita tidak lagi yang bicara masalah nilai minimum, nilai maksimum atau rata-rata dari sebuah fenomena (bagian dari statistika deskriptif), atau hanya sekedar menggunakan rumus yang sudah ditemukan oleh orang lain. Saat ini zamannya mencari cara terbaik dalam mengungkapkan suatu fenomena. Sehingga bisa mengungkapkan sesuatu yang awalnya tidak tampak secara kasat mata (pada data tersebut), dan malah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita di Indonesia yang beriklim tropis dan sangat kaya dengan keanekaragaman hayati dan proses yang tejadi di dalamnya, ini menjadi tantangan tersendiri dalam memodelkan fenomena ekologi yang terjadi. Hasil penelitian yang bermunculan di jurnal teranyar di bidang ekologi komputasi dan semacamnya, memiliki keterbatasan kalau diaplikasikan di Indonesia. Karena, data dan asumsi yang mereka gunakan dalam penelitian itu umumnya berasal daerah temperata, sebuah daerah yang sangat teratur sekali fenomena alamnya. Namun, usaha memikirkan sebuah metoda analisa data tanpa mempunyai data itu sendiri (walaupun bisa diciptakan data simulasi), maka hal ini sesuatu yang aneh. Dengan dibangunnya sebuah pusat data keanekaragaman hayati sebagaimana ide di nomor 3, maka bidang ekologi dan komputasi khas Indonesia akan bisa berkembang pesat dan langsung terpakai di data riil. Di bidang ini saya juga mau buat buku teks, berjudul “Panduan analisa data ekologi”.

 

5. PENGABDIAN MASYARAKAT

Untuk pengabdian masyarakat ini, saya terbayang dengan potensi lokal daerah saya di Sumatera Barat. Daerah Sumatera Barat, sumber daya alamnya tidaklah “sekaya” Riau yang punya minyak di atas dan di bawah tanahnya. Namun, Sumatera Barat punya pesona alam yang indah. Pesona ini sangat bagus untuk pengembangan ekowisata. Di kampung saya sendiri, yaitu di Lubuk Alung, ada objek wisata alam yang sedang dikembangkan oleh sebuah kelompok pemuda yang penuh semangat. Mereka mengusung konsep ekowisata, menjual pesona alam apa adanya. Jualan objek wisata yang paling terkenal dari mereka yaitu Air Terjun Nyarai. Maka saya ingin menggali keanekaragaman hayati dan proses ekologi yang ada di sana, membantu mengemasnya menjadi suatu jualan yang menarik dan edukatif untuk dinikmati wisatawan dalam dan luar negeri. Sehingga, tak ada lagi penduduk di sekitaran sana yang jualan fisik batang kayu, namun cukup menjual cerita saja tentang kayu itu. Sebuah bisnis yang sangat menguntungkan, menjual barang tapi barangnya tetap bersama kita. Biar lengkap, saya juga mau lah buat buku berjudul “Maota, sebuah pekerjaan menyelamatkan lingkungan” ha ha…. :D “Maota” ini adalah bahasa minang yang artinya bercerita, mengobrol panjang lebar.

 

CATATAN:

Ini adalah mimpi saya. Saya sadar ini adalah sebuah omong besar. Namun saya ingin membuktikan kata-kata mutiara dari orang sukses, yang katanya mulailah sesuatu itu dengan omong besar. Dalam aplikasinya, mimpi ini tak mungkin saya sendirian yang akan mengerjakannya, butuh kolaborasi dengan semua pihak. Dan mimpi ini tak harus saya juga yang mengerjakannya. Sangat bagus kalau ada yang terinspirasi, lalu mengerjakannya sebelum saya mengerjakan. Bagi saya hal itu bukanlah sebagai pencurian ide. Malah ini akan membuat saya lebih senang dan tenang, karena akan terwujud lebih cepat, dan nanti saya tinggal klaim saja royalti idenya di surga he he… :)

Proyek (ide) riset 2018, InsyaAllah

1. Ngubrek Skripsi

Biologi Universitas Andalas sudah ada sejak 55 tahun yang silam. Sudah sangat banyak penelitian yang dilakukan. Dengan umur prodi yang sudah lama tersebut, maka diperkirakan telah banyak dan luas cakupan jenis dan lokasi sebaran makhluk hidup dari penelitian-penelitian mahasiswa. Sebagian besar dari penelitian tersebut hanya tersimpan dalam skripsi-skripsi mereka. Oleh karena itu, saya berencana mau mengumpulkan basis data skripsi mahasiswa biologi. Cara kerjanya cukup sederhana, dengan menggaji beberapa orang atau mahasiswa kerja paruh waktu memindai cover dan abstrak dari skripsi yang tersimpan di pustaka jurusan dan laboratorium. Selain itu, akan dibuat juga sebuah isian daring sehingga seluruh alumni jurusan biologi bisa mengisi data tentang penelitiannya dulu secara sukarela.

Dari kerja ini, setidaknya bisa menghasilkan 2 topik besar. Pertama, tentang sebaran spatio-temporal dari taksa yang telah diteliti. Kedua, topik Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB). HPPB adalah salah satu tempat paling favorit yang diteliti oleh mahasiswa sampai ke peneliti luar negeri pun. Saya menargetkan terbitnya sebuah buku kumpulan abstrak penelitian skripsi di HPPB.

 

2. Jadi aktifis medsos

Zaman “now”, istilah sekarangnya, zaman ketika media sosial menjamur. Dengan media sosial ini, peneliti bisa mengumpulkan data. Hasil diskusi dengan beberapa teman, medsos Instagram sangat potensial dalam penelitian keanekaragaman hayati. Instagram adalah tempat khalayak ramai berbagi foto dan video pendek. Dengan fitur geotagging yang melekat pada foto dan video tersebut, kita bisa mengekstrak lokasi foto. Sehingga kita bisa mengetahui lokasi serta bisa memvalidasinya melalui foto dan video tersebut. Dengan metoda ini saya punya mimpi besar, yaitu terciptanya sebuah pusat data dan pusat penelitian keanekaragaman hayati berbasis sains khalayak (citizen science) untuk seluruh taksa. Mimpi ini seharusnya diwujudkan oleh level yang lebih besar seperti Universitas atau tingkat kementerian.

Untuk mimpi yang lebih rendah levelnya, saya akan fokus ke dua sub topik, yaitu tentang berang-berang dan kecelakaan hewan di jalan raya (road-killed animal). Caranya, dengan membuat akun di instagram, lalu mempromosikannya ke berbagai grup dan komunitas. Setelah itu undang khalayak ramai berpartisipasi dengan membagikan foto dan video yang sudah diberikan tanda (hash tag) tertentu. Dengan bantuan API yang sudah disediakan untuk publik oleh Instagram, kita bisa mengumpulkan semuanya. Detail teknisnya saya tidak begitu paham, butuh kerjasama dengan pakar IT.

 

3. Unand’s Biodiversity Map

Saya teringat sewaktu kuliah S1 dulu, kami sudah paham betul dimana lokasi-lokasi di kampus untuk mendapatkan bahan praktikum. Untuk planaria, kami mencarinya di selokan pinggir koridor menuju lapangan basket MIPA. Untuk hydrilla, kami mencarinya di selokan gedung D. Untuk labi-labi, kami mencarinya di selokan dekat mushalla dan kafe Farmasi. Untuk katak, kami bisa mendapatkan di kolam limbah Farmasi. Untuk dapat makan buah jambu, kami biasanya selalu memonitor beberapa pohon jambu di Fakultas Peternakan ketika pulang shalat Jum’at dari masjid Nurul ‘Ilmi. He he…

Kampus Unand itu kaya dengan keanekaragaman hayati. Namun, ketika itu ditanyakan ke mahasiswa, dosen, karyawan, sampai ke rektor pun, apakah ada petanya? Jawabannya bisa dipastikan. Tidak ada! Kalau untuk jenis-jenis yang saya sebutkan sebelumnya di atas telah ada petanya di kepala saya. Jika peta-peta yang tersimpan di kepala ribuan civitas akademika Unand dikumpulkan, akan luar biasa hasilnya. Cara kerja; buat sebuah platform, mungkin menggunakan Open Street Map. Lalu setiap civitas akademika Unand bisa menandai dimana saja mereka menemukan keanekaragaman hayati.

 

Catatan penting:

Proyek-proyek di atas, tidak harus saya juga yang mengerjakannya. Jika ada yang terinspirasi dan berinisiatif mengerjakan, saya akan sangat senang sekali. Tak perlu minta izin, dan tak harus pula melibatkan saya. Hanya satu saja pinta diriku: “open”kan datanya.

Ide untuk pengelolaan banjir di kota Padang

Kota Padang adalah salah satu kota yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi, sehingga rawan banjir. Berbeda dengan kota Jakarta, kota ini banjir diakibatkan oleh hujan yang turun pada daerahnya sendiri, bukan banjir kiriman. Hujan lebat berjam-jam itu adalah hal yang lumrah terjadi, karena awan yang ditangkap oleh Bukit Barisan. Banjir kota Padang sepertinya tidak bisa diprediksi bulanan, karena hampir tidak dipengaruh musim. Banjir di kota Padang ini terjadi ketika ada sekumpulan awan besar yang terperangkap, lalu tumpah semuanya seakan memang ditugaskan turun di daerah ini saja. Fenomena ini bisa terjadi kapan saja, tak mengenal musim. Saya rasa, air hujan itu pun berasal dari penguapan laut di depan kota Padang ini, mungkin tak jauh-jauh asalnya. Mohon koreksinya. Itu hanya berdasarkan perkiraan saya saja.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan?

 

1. Di bagian hulu perlu dijaga hutannya. Tanah longsor dan banjir bandang (galodo) akan mudah sekali terjadi jika hutan tak terjaga

2. Perlunya dibuat Banda Bakali 2. Kalau tidak salah, Banda Bakali yang ada sekarang itu buatan zaman Belanda.

3. Gerakan masal sumur biopori di semua pemukiman.

4. Buat standar sendiri untuk setiap saluran air yang akan dibuat atau yang sudah ada. Sepertinya Standar Nasional Indonesia (SNI) tak cukup untuk kota Padang, perlu SNP (Standar Nagari Padang). Buat peraturan perdanya, setiap proyek pembangunan (misal pemukiman, gedung dan jalan) harus mengikuti SNP itu, terutama untuk bagian saluran airnya. Misalnya, kalau SNI bilang saluran air lebarnya 2 meter, kita buat di SNP itu 4 meter.

5. Bagi perumahan yang sudah ada, lakukan perbesaran saluran airnya.

6. Tampung air hujan, bisa skala rumahan atau skala kota. Detail idenya klik di sini.

7. Buat manajemen informasi siaga bencana. Saya mengusulkan kerja sama dengan provider telekomunikasi seluler. Kalau ada pesan peringatan dari BMKG dan BPBD, tinggal disebarkan oleh provider itu melalui sms. Setiap telepon seluler yang berada pada kawasan BTS (tower) daerah terdampak, akan mendapatkan sms peringatan.

Tampung hujan, solusi banjir kota Padang

Pembangunan tak bisa dielakkan. Persawahan kota padang akan semakin berkurang. Rawa dan semak kosong sudah beralih jadi perumahan. Permukaan tanah sudah berganti jadi beton. Sedangkan kota Padang adalah salah satu kota yang curah hujannya tertinggi di Indonesia. Sanggupkah kali dan bandar kita menampung air bak galodo itu?
Salah satu solusinya adalah tampung hujan. Program tampung hujan ini bisa dilakukan oleh masing-masing KK atau rumah, sebagaimana yang umum dilakukan di kampung saya di Sungai Geringging yang masing-masing rumah punya “kulah” penampung air hujan. Pada zaman sekarang, fungsi kulah sepertinya bisa diganti dengan “galon oren” yang biasa terpasang di bagian atap rumah.
Atau bisa juga dilakukan oleh pemerintah, dengan membuat instalasi penampung hujan yang terintegrasi dengan PDAM. Salah satu teknologinya yaitu menggunakan alat semacam payung terbalik yang dipasang di sepanjang jalan. Bisa menampung hujan, sekalian bisa juga jadi hiasan, dan tempat berteduh jika siang terik kepanasan.

Tampung hujan ini bahasa kerennya rainwater harvesting

Kawasan Konservasi Laut

Dalam membangun Kawasan Konservasi Laut (KKL), ada tiga hal yang harus dipertimbangkan:

1. Seberapa luaskah persentase yang harus dilindungi oleh suatu negara?

2. Dimana sajakah lokasi yang akan dipilih untuk dilindungi?

3. Seberapa besarkah luas masing-masing KKL itu?

Pertanyaan nomor 3 terlihat mirip dengan pertanyaan nomor 1. Tapi sebenarnya beda. Nomor 1 itu membahas tentang persentase atau proporsi total luas semua KKL jika dibandingkan dengan luas laut yang ada. Sedangkan nomor 3 itu, membahas seberapa luaskah untuk masing-masing KKL.

 

Peneliti dari University of Queensland, Dr. Nils Krueck, telah melakukan penelitian untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Krueck menjawabnya dengan menerbit tiga artikel ilmiah pada tahun 2017 ini. Satu artikel untuk masing-masing pertanyaan di atas.

 

Jawaban pertanyaan 1. http://journals.plos.org/plosbiology/article?id=10.1371/journal.pbio.2000537

Berdasarkan konvensi keanekaragaman hayati (Convention on Biological Diversity) di Aichi Jepang, hampir 200 negara sepakat untuk melindungi 10% daerah pesisir dan lautnya. Namun Krueck dkk menemukan berdasarkan analisis dari data pergerakan ikan, kelahiran, kematian serta hubungannya dengan kepadatan ikan, luas yang tepat untuk KKL agar terjaminnya keberlanjutan perikanan adalah 20-30%. Persentase ini bukanlah dari luas total laut, tapi dari luas lokasi yang selama ini telah dijadikan sebagai lokasi penangkapan ikan. Para peneliti ini menegaskan juga bahwa yang akan dijadikan KKL adalah daerah yang selama ini dijadikan lokasi penangkapan, bukan laut secara acak, atau daerah yang tidak dimanfaatkan oleh manusia.

 

Jawaban pertanyaan 2 http://onlinelibrary.wiley.com/wol1/doi/10.1002/eap.1495/full

Menentukan lokasi KKL tidak bisa sembarangan. Belum tentu lokasi yang bagus ikannya, bagus pula untuk dijadikan KKL. Contoh pertama, ketika lokasi itu memiliki ikan yang melimpah, tetapi berasal dari larva ikan di lokasi lain. Jika lokasi ini dindungi, sedangkan sumber larvanya tidak dilindungi, maka ikan di dalamnya akan menjadi punah. Contoh kedua, ketika sebuah lokasi itu sebagai penghasil larva ikan atau tempat memijah, namun semua larvanya keluar dibawa arus. Jika lokasi kedua ini dilindungi, sedangkan lokasi sekitarnya tidak, maka juga akan mengakibatkan kepunahan pada ikan tersebut. Contoh ketiga, ketika sebuah lokasi menghasilkan larva, dan larvanya tidak ada yang keluar dari lokasi tersebut, maka hal ini juga tidak bagus untuk dijadikan KKL. Karena jika lokasi ini dijadikan KKL, maka tidak ada kentungan bagi daerah sekitarnya. Nanti suatu saat ikan di daerah sekitarnya menjadi habis tidak ada penerusnya. Sehingga nelayan merugi. Lokasi yang ideal adalah, jika KKL itu bisa menjadi sumber larva bagi daerah sekitarnya. Sehingga larva itu tumbuh dewasa sampai bisa ditangkap oleh nelayan. Namun, tidak boleh semua larva ikan keluar, harus ada yang bertahan di dalam KKL sebagai generasi penerus.

Oleh karena itu, untuk menentukan daerah KKL yang tepat salah satu caranya adalah mempertimbangkan penyebaran larva ikan yaitu, nilai larva yang bertahan (larval retention), larva yang keluar (export), larva yang masuk (import), serta tingkat konektifitas antara suatu lokasi dengan lokasi lain (berhubungan dengan pergerakan arus laut yang akan membawa larva ikan). Krueck dkk mengembangkan sebuah perangkat lunak Dispersal Score, yaitu program yang akan mengolah variabel-variabel di atas, lalu menghasilkan data baru yang selanjutnya dianalisis dengan Marxan dan program GIS.

 

Jawaban pertanyaan 3 http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/conl.12415/full

Pada prinsipnya, ikan tidak akan mau tahu tentang batas laut bahkan batas negara sekalipun. Ikan akan berenang bebas sesuai dengan gaya hidup dan tingkah lakunya. Jika ukuran KKL terlalu kecil, maka ikan yang punya daerah jelajah yang luas, bisa saja tertangkap ketika berenang di luar KKL. Maka berdasarkan perhitungan Krueck dkk, untuk melindungi ikan-ikan yang penting dibutuhkan KKL yang memiliki minimal panjang 2-10 Km. Penelitian ini menggunakan data daerah jelajah, kepadatan, dan panjang maksimal tubuh ikan. Artikel penelitian ini masih hangat, baru saja diterbitkan dan malah belum masuk ke nomor dan volume edisi cetak. Versi finalnya dijanjikan akan disertai perangkat lunak program untuk menghitung lebar KKL minimal, untuk masing-masing jenis ikan.


##oleh-oleh dari MSP training workshop di University of Queensland