[Ide] Penelitian pakai chip untuk mengetahui aktifitas satwa liar

Minggu lalu jurusan kami kedatangan penilai Audit Mutu Internal (AMI), salah satu dari penilainya adalah dosen Teknik Informatika, buk Ratna Aisuwarya. Ternyata beliau itu pakar di bidang hardware dalam komunikasi. Alih-alih membahas tentang audit jurusan kami, kedatangan beliau saya gunakan untuk menggali lebih jauh tentang penelitian. He he…

Karena itu saya kemukakanlah ide yang pernah terbersit dulu ketika kampus Unand sedang gencar-gencarnya sosialiasi penggunaan uang elektrik (e-Money). Kartu e Money itu sepertinya sangat murah, dibagi-bagikan gratis. Harganya sesuai dengan isi nominal uang yang ada di dalamnya. Alat pembacanya sepertinya juga murah, karena dibagi-bagikan ke kafe-kafe yang ada di Unand. Saya yakin, di kartu itu pun alat chipnya pasti ukurannya kecil, bukan sebesar kartu itu. Maka saya punya ide, jika chip itu kita pasang ke hewan di hutan, lalu kita letakkan alat pembaca di tempat yang dikunjungi berulang-ulang oleh hewan itu, maka kita bisa mengetahui pola kunjungannya. Turunan aplikasinya kita bisa mendesain cara untuk mengetahui daerah jelajah si hewan itu dan lain-lain

Nah, hasil diskusi dengan buk Ratna. Ternyata chip itu modalnya sekitar seribuan rupiah saja, dan alat pembacanya bisa dibuat dengan biaya sekitar 500 ribuan. Dalam pengabdian masyarakat beliau dan tim, penggunaan chip itu telah pernah digunakan untuk tanda pengenal sapi di peternakan. Ada juga penelitian mahasiswa TI yang digunakan untuk burung peliharaan, yaitu kandang burung akan terbuka jika hanya individu yang cocok IDnya berada di depan pintu. Menarik oy!

Sepertinya metoda yang sama bisa dilakukan di hewan liar. Kita pasang chip itu sebagai cincin di burung rangkong, lalu kita pasang alat pembaca di sarangnya. Sehingga kita bisa mengetahui pola aktivitas rangkong tersebut. Begitu juga dengan hewan lain, berang-berang misalnya. Kita bisa pasang alat pembaca di lokasi kotorannya.

Kendala yang terbesar adalah bagaimana meningkatkan kemampuan alat pembaca untuk mendeteksi chip yang berjarak lebih jauh. Saat ini katanya alat pembaca hanya bisa mendeteksi chip berjarak kurang dari 5 cm. Sehingga jika kita gunakan ke hewan liar, kita harus bisa memastikan chip itu menyentuh atau hampir menyentuh alat pembaca. Ini jadi tantangan yang cukup sulit jika digunakan di lapangan. Karena kita harus bisa memikirkan dan menganalisa dimana lokasi yang tepat untuk meletakkan alat pembaca tersebut.

Mudah-mudahan saya bisa bekerja sama dengan rekan-rekan di fakultas TI. Buat proyek bersama, mahasiswa dari TI merancang alat, mahasiswa dari biologi yang menggunakan alat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>